BAB I : BIDADARI KECIL BERMATA BIRU

Bulatannya sempurna. Nyaris tak ada cela. Warnanya begitu indah membuat siapa saja yang melihatnya kagum terpesona. Bila ia mengerjap..hmm..bisa membuat benci jadi cinta. Marah jadi sayang. Malas jadi semangat. Dan jauh terasa begitu dekat.

Biru.

Itulah warnanya. Warna bulatan mata itu memang benar-benar sempurna. Benar-benar indah. Entah darimana ia mendapatkan warna itu. Padahal Abi dan Umminya orang jawa semua. Tapi darimana ia dapatkan warna biru itu? Ah mungkin itu adalah hadiah dari tuhan karena saking cinta padanya. Bahkan kakak kandungnya saja tidak memiliki yang seperti dia.

Udara pagi kota Solo yang memiliki jargon “The Spirit of Java” menggeliat perlahan. Berarak gemulai melintasi tatanan langit yang tersusun rapi. Dingin. Bahkan sangat dingin. Mentari pun belum menyapa dari sudut timur. Langit juga masih gelap. Tapi di luar sana, aktivitas kehidupan sudah mulai berjalan.

Pak Gimo penjual bubur kacang ijo bahkan sudah berangkat sebelum adzan subuh berkumandang. Mbok Sarto juga sudah berangkat dengan sepeda onthel yang sudah penuh dengan bayam-bayam yang sudah diikat kecil-kecil di keranjang belakang. Seikat bayam harganya seratus rupiah. Kalau di pasar, bahkan ada yang menawar lima puluh rupiah. Mbah Sarijah sama Yu Sum sudah jalan melintasi gelapnya persawahan. Hari ini mereka matun di sawahnya Pak Kasdi. Biasanya sampai magrib baru pulang.

Rumah kecil di sudut kota Sukoharjo itu juga memulai aktivitasnya.

“Nadia, ayo bangun sayang…sudah subuh!”

Jari jemari Ummi menggoyang tubuh gadis kecil bermata biru itu, putri bungsunya. Nadia hanya menggeliat. Ia menarik selimut yang melorot sampai ke pinggang. Menutupi mukanya.

“Sayang, sudah subuh. Cepat bangun…kita sholat subuh dulu nak..” Ummi memang selalu begitu. Sangat lembut.

“Udah Mi…siram aja pake air seember!” si sulung memberi saran. Ia sudah bangun lebih dulu dari adiknya. Mukena putih sudah lengkap menutupi seluruh bagian tubuhnya.

Nuri. Nama si sulung. Mahasiswi semester tujuh jurusan Matematika Fakultas MIPA di UNS, Universitas Nomor Satu di kota Solo.

“Nadia, kalau ndak mau bangun, Ummi siram mukanya ya…” Ummi mencoba menakut-nakuti. Nuri tersenyum agak lebar. Sarannya berhasil. Malahan ia mengambil segayung air dari kamar mandi dan menyerahkannya pada Ummi.

“Nih Mi airnya.” Nuri tampak kegirangan.

“Nadia masih ngantuk Mi..masih pengen bobo. Subuhnya nanti saja jam enam.” Nadia kembali menggeliat. Bahkan kini menutup mukanya dengan bantal. Takut disiram.

Ummi menarik bantal dan selimut Nadia. Kini  ia tak punya pelindung lagi. Nadia membalikkan tubuh kecilnya. Tengkurap. Membenamkan muka ke kasur.

“Yee…bocah ini susah bener disuruh bangun!” Nuri tampak kesal. Berharap agar Ummi segera menyiramkan air segayung itu ke muka si adik.

“Kalau Nadia ndak mau bangun, nanti Ummi dan Mbak Nuri ndak ada yang mau nganter ke sekolah. Nadia pokoknya jalan kaki. Ya sudah ayo Nur kita subuh duluan.” Ummi mengeluarkan jurus andalannya. Pura-pura melangkah meninggalkan Nadia. Nuri ikut-ikutan berakting seperti Ummi.

“Iya..iya…Nadia sudah bangun ni…”

Nadia terduduk. Matanya setengah terpejam. Badannya masih lemas. Ia bangun sebenarnya bukan mau subuh, tapi karena takut nanti tidak ada yang mengantarkan ke sekolah. Nadia ndak mau jalan kaki lha wong jarak ke sekolah tiga kilo.

“Sudah Mi, ayo subuh duluan saja. Nanti kayaknya ada yang bakalan jalan kaki ke sekolah tuh,” Nuri berkata menggoda.

“Ihh…Ummi sama Mbak Nuri kok jahat sih. Nadia kan sudah bangun.”

Ummi dan Nuri tersenyum kecil. Strateginya berhasil!

Nadia melangkah ke kamar mandi. Mengambil air wudhu. Membasuh bagian tubuh dengan air dingin kota Solo. Lalu melangkah keluar dan menjumput mukena putih yang sudah disiapkan Ummi di atas meja. Ia memakai mukena putihnya.

Dan subhanallah….

Begitu cantiknya gadis kecil itu. Wajahnya bersih terbasuh wudhu. Cerah secerah lembut mentari. Segar sesegar butiran embun pagi. Cantik secantik Aisyah istri nabi. Mata birunya indah seindah mata bidadari.

Pagi itu aktivitas di rumah Nadia di mulai. Mereka mengawalinya dengan sholat subuh berjamaah. Ummi jadi imamnya, Nuri dan Nadia jadi makmum. Sedangkan Abi, sudah lebih dulu berangkat ke musholla Al Mukharomah. Abi yang mengumandangkan adzan subuh pagi itu. Bahkan, setiap pagi.

“Allahu Akbar…”

Ummi memulai sholat berjamaah. Nuri dan Nadia mengikuti bacaan dan gerakan Ummi. Sesekali Nadia menguap lebar-lebar karena memang masih sangat mengantuk.

“Huaaahhhh…..” Mulut Nadia terbuka lebar-lebar. Menguap.

“Ihh…dasar Nadia!!” gerutu Nuri dalam hati. Khusyuknya terganggu sang adik.

“Bismillahirrahmanirrahiim. Alhamdulillahirabbil’alamin. Arrahmanirrahim. Maaliki yaumiddin…….”

“Ah merdunya suara Ummi..” lagi-lagi hati Nuri bicara sendiri. Lagi-lagi tidak khusyuk. Tapi bukan menggerutu. Hatinya memuji bacaan Ummi.

“Huaaahhhh…..” Nadia menguap. Lagi.

“Hhh…Nadia……!!! Ngganggu orang sholat aja ni anak!”

“Alam nashrah laka shad rak…” Ummi membaca surat Al Insyirah. Sangat merdu.

Sesekali Nadia hampir saja ambruk karena masih mengantuk. Kadang hampir doyong ke depan, kadang ke belakang, kadang ke arah kakaknya.

***

“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh…”

Sholat subuh sudah selesai. Nadia buru-buru menengok ke kanan dan kiri. Salam. Cepat-cepat ia mencium tangan kakak dan Ummi. Cepat-cepat pula ia melepas mukena putihnya. Ya, ia cepat-cepat ingin kembali ke kasur. Mau tidur!

“E..e..e..mau kemana kamu? Tuh Mi, Nadia mau tidur lagi…” Nuri segera tanggap dengan gerakan cepat adiknya. Ummi menoleh kemudian tersenyum kecil. Nadia hanya meringis lucu.

“Cuma bobok lima menit kok Mi..boleh ya?? Lagian Abi juga belum pulang dari musholla. Jadi masih ada waktu sedikit buat bobo..boleh ya Mi?? Nadia ngantuk banget. Tadi malam belajar sampai jam sembilan…”

“Jam sembilan apanya?? Nggak dink Mi, lha wong semalam Nadia belajarnya di atas kasur terus ketiduran. Jam setengah sembilan Nuri masuk kamar Nadia, ee udah pules tidurnya…” Nuri menginvestigasi adiknya. Nadia meringis sekali lagi.

“Tadi Nadia belum selesai ngomongnya mbak…tadi malam Nadia belajar sampai jam sembilan kurang setengah jam….” Nadia mengaku. Mata birunya mengerjap indah. Sungguh indah. Mata itu mampu meredam amarah semua orang yang ingin marah.

“Tuh kan Mi…ya gitu tuh putrinya Ummi yang paling bandel,” Nuri mengadu pada Ummi. Ummi hanya tersenyum.

“Nadia sini sayang…kalau tidur lagi nanti malah tambah males lho. Tidur sesudah subuh itu kan makruh sayang..Sebentar lagi Abi juga pulang. Terus kita ngaji bareng. Sambil nunggu Abi kita dzikir dan doa dulu. Yuk…sini anak Ummi yang paling cantik….” Ummi memang seorang wanita berhati lembut. Tak pernah sekalipun berkata kasar apalagi marah-marah. Dalam siituasi seperti apapun.

***

Mentari kecil di ujung timur dunia mulai ikut menggeliat. Perlahan ia bergerak ingin menyambut dunia. Menyambut titah tuhannya menyinari jagat semesta. Memberikan kehangatan. Memberikan kehidupan. Memberikan tanda pada manusia bahwa hari ini siap dimulai!

Mentari kecil memancarkan semburat warna penuh pesona. Orange! Ya, itu adalah warna kesukaan Nadia. Orange menggambarkan goresan keceriaan. Ia melukiskan semangat, kesegaran dan visi jauh ke depan. Nadia sangat menyukai warna itu.

***

Langkah kaki terdengar tiba di depan pintu rumah sederhana itu.

“Assalamualaikum…”

Suara seorang laki-laki mengalun pelan penuh cinta. Itu adalah Abi. Ia selesai menjalankan sholat subuh di musholla Al Mukharomah yang berjarak seratus meter dari rumahnya.

“Wa’alaikumussalam Abi…..” Tiga bidadari menyahut serempak dari dalam rumah. Ummi, Nuri dan Nadia.

“Tuh kan…apa Ummi bilang, Abi dah pulang. Sekarang ayo Nadia ambil buku iqro-nya.” Ummi melirik Nadia.

“Iya Mi…” Nadia berjalan mengambil buku iqro jilid satu miliknya dengan langkah berat. Mukena putihnya diseret-seret. Ummi dan Nuri geleng-geleng kepala melihat tingkah Nadia. Menjengkelkan tapi juga menggemaskan.

Sejurus kemudian mereka berempat sudah berkumpul di ruang khusus untuk sholat. Duduk melingkar. Ruangan kecil itulah yang setiap hari mereka pakai untuk mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi. Tempat Abi dan Ummi mendidik dua permata hatinya agar kelak menjadi bidadari-bidadari penghuni surga.

Nadia masih mengantuk. Mata birunya tetap setengah terpejam. Kadang terantuk-antuk. Lucu.

“Nadia, kemarin sampai halaman berapa iqro-nya?” Abi bertanya pelan.

Nadia tak menjawab. Rupanya ia sudah terpejam. Tidur!

“Yee….anak ini disuruh ngaji malah tidur,” Nuri menyenggol lengan kecil Nadia. Nadia kaget hampir terjatuh dari duduknya. Matanya langsung terbuka lebar.

“Ada apa mbak? Sudah selesai ya ngajinya? Asyiiik…sekarang bisa tidur lagi,” Nadia nyengir kegirangan.

“Kamu ini belum apa-apa bawaannya pengen tidur melulu. Giliranmu tu. Abi tanya kemarin sampai halaman berapa. Lha kok malah tidur!” Nuri kesal.

“Hehe..maaf ya Bi. Nadia ngantuk. Tadi malam belajar sampai jam sembilan,” Nadia menjawab polos. Sebenarnya dalam hati Nadia menambahkan kalimatnya sendiri, “jam sembilan kurang setengah jam Bi”. Nuri dan Ummi geleng-geleng kepala. Kompak.

Nadia membuka-buka buku iqronya. Sampai di halaman lima.

“Ja Ji Ju…Ka Ki Ku..”

“Bukan Ka sayang, tapi Kha. Suaranya agak di tekan di tenggorokan. Coba perhatikan Abi..Kha Khi Khu.”

“Kha Ki Ku..”

“Ulang lagi”

“Kha Khi Ku..”

“Masih salah”

“Khaa Khi Ku”

“Kha-nya jangan panjang-panjang. Satu harokat saja nak”

“Kha Khii Khu”

“Sekali lagi. Masih ada yang salah. Khi-nya juga satu harokat”

“Kha Khi Khuuuu”

“Yee…anak ini dibilangin jangan panjang-panjang kok masih ndableg juga.” Nuri membatin.

“Kha Khi Khu!”

“Nah..Nadia pinter!”

***

Bulatan merah di ufuk timur mulai memancarkan sinar kehangatan. Siap menyinari apa saja yang tuhannya hamparkan di semesta alam. Memberinya nafas kehidupan. Ia siap menjalankan titah tuhannya hari itu sampai pada akhirnya nanti ia akan menjemput sang senja di ufuk sebelah barat.

***

“Nadia, buruan mandinya! Ndak pake lama! Mbak dah mau telat kuliah ni..!”

Suara Nuri agak keras di luar kamar mandi. Kamar mandi?? Tempat itu lebih tepat disebut dengan bilik MCK. Sebuah bilik kecil di belakang rumah. Tepat di pinggir sungai belakang rumah yang airnya masih lumayan bersih. Kadang kalau hujan deras, bilik itu terendam air. Tidak bisa dibuat untuk mandi, cuci dan kakus. Sesekali Nuri menggedor pintu kamar mandi yang terbuat dari seng agak berkarat disana-sini.

“Sabar to mbak! Orang sabar itu disayang Allah..!” Suara gebyar-gebyur terdengar mengiringi jawaban Nadia dari dalam kamar mandi. Memang, Nadia kalau mandi lama. Nuri menahan jengkel. Mungkin memang benar kata adiknya itu. Orang sabar memang disayang Allah.

Lima belas menit kemudian Nadia baru keluar dari kamar mandi.

“Hhhh..kamu tu kalau dibilangin ngenyel! Mandi jangan pakai lama. Kebiasaan!” Nuri berlalu masuk ke bilik kamar mandi. Nadia juga berlalu begitu saja masuk ke kamarnya. Sebuah kamar kecil yang ditempati Nadia, Abi dan Ummi. Sedangkan Nuri kamarnya disebelah kamar Nadia.

Rumah sederhana yang Nadia tempati memang sangat-sangat sederhana. Sebagian dindingnya terbuat dari seng. Bagian belakang juga dari anyaman bambu. Sebenarnya rumah itu rumah kontrakan, tapi karena pemiliknya masih teman dekat Abi, maka Abi cukup membayar sewa dengan harga murah, tujuh puluh lima ribu per bulan.

***

Nuri sudah cantik dengan kerudung coklat tuanya. Siap-siap berangkat ke kampus. Nuri ke kampus naik sepeda jengki warna biru.. Untuk ke kampus butuh waktu satu jam. Capek memang. Tapi sekarang sudah biasa. Dulu di awal-awal kuliah memang terasa sangat berat menempuh jarak itu. Apalagi kalau musim kemarau. Panasnya minta ampun! Tubuh kecilnya seperti dioven dalam gaun dan kerudung besarnya.

Di samping kuliah, Nuri juga nyambi mengajar sebagai tentor tidak tetap di bimbingan belajar Rumah Pintar Java yang beralamat di perumahan Gentan Asri. Dari kampus UNS, ia musti mengayuh sepedanya selama empat puluh lima menit. Berat memang ia rasakan. Sangat berat setiap hari seperti itu. Tapi kini, semua tampak biasa. Sudah menjadi makanan sehari-hari.

“Ini semua demi Abi, Ummi dan adikku sayang, Nadia!”

Itulah yang selalu menjadi semangatnya. Semangat untuk merubah kehidupan yang kadang terlihat sangat kejam dan tidak adil. Semangat itulah yang akhirnya kini mampu mengantarkannya di semester tujuh. Dari hasil mengajar itu, ia bisa sedikit membantu ekonomi keluarga dan membiayai uang spp-nya yang sebesar delapan ratus ribu per semester. Untunglah, di semester lima ia mendapatkan beasiswa TPSDP sebesar dua ratus lima puluh ribu per bulan. Jadi biaya hidup dan kuliahnya sangat terbantu. Sisanya juga bisa untuk membayar sewa rumah.

“Ayo Nadia Abi antar.”

Abi sudah siap dengan sepeda onthel kebo-nya. Keranjang besar sudah nangkring di belakang. Keranjang itu nanti akan diisi kerupuk. Ya, Abi adalah penjual kerupuk keliling. Sebelum mengambil kerupuk dagangan di tempat Pak Bejo juragan kerupuk daerah Bekonang, Abi mengantarkan Nadia ke sekolah dulu di Madrasah Ibtidaiyah.

Aktivitas setiap anggota keluarga Nadia pun dimulai. Abi berangkat mengantar Nadia ke madrasah. Biasanya Nuri yang mengantarkan Nadia, tapi pagi itu Nuri berangkat agak pagi karena ada janjian mengerjakan tugas kelompok mata kuliah Statistik Matematika II di kost temannya. Jam pertama harus dikumpulkan. Ummi pergi ke rumah Bu Maya di (Ummi jadi pembantu di sana). Ummi harus berjalan kaki dua puluh menit untuk sampai ke rumah Bu Maya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: