AKU, SI PINKY, SI BLUENY, SI GREENY DAN SI YELLOWNY

Seperti biasa, setiap sabtu pagi aku menjelma menjadi sesosok pemuda bujangan pengangguran yang nggak punya kerjaan. Walaupun begitu, aku sadar sepenuhnya bahwa aku adalah generasi muda penerus bangsa, pelanjut perjuangan Pak Karno dan Bung Hatta. Maka dari itu, pada hari sabtu itu aku harus mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Ya, akhirnya aku memutuskan untuk melakukan kegiatan yang positif, bermanfaat dan bersahabat : liburan.

Langkah pertama, aku harus menentukan dengan apa aku liburan. Terpetiklah sebuah ide brilian. Aku harus menggunakan motor, lebih asyik pikirku. Tapi motor dari mana? Setelah ide itu muncul, maka dengan cepat otakku memunculkan ide yang lebih brilian lagi. Ya, dengan motor pinjaman! Maklum, masih belum punya motor sendiri. Lobi sana lobi sini, akhirnya motor pun di dapat. Sebuah motor matic warna pink, helm-nya pun ada corak lambang cinta warna pink. Kalau aku difoto dari jarak seratus meter mengendarai motor ini, ah pasti kelihatan feminim dan manja sekali. Itulah Si Pinky.

Setelah kendaraan didapat, aku menentukan tujuan. Muncul sebuah ide, aku ingin mengunjungi sebuah pantai yang terdapat di dunia. Ya, adanya di dunia, bukan di akhirat. Pantai yang dua kali pernah kukunjungi : Pangandaran. Dialah Si Blueny. Si Biru samudra berombak-ombak.

Tiga jam perjalanan membawa raga ini (hayah sok sastra banget bahasanya) tiba di sana. Sebuah pantai yang indah, hamparan pasir putih yang luas, perahu-perahu yang banyak. Tapi ada satu kekurangan yang kurasa yang akhirnya menjadi pelajaran berharga untukku, yakni ternyata seindah apapun tempat yang kita kunjungi, tapi ketika kita hanya berangkat sendirian, rasanya seperti sayur kurang garam, hambar. Maka, aku pun tak lama-lama disana. Menikmati es kelapa muda di bibir pantai sambil menikmati orang mandi (berenang –red), lalu beranjak ke parkiran. Setelah bayar es, aku bertanya dengan penuh pengharapan pada penjual es kelapa muda.

“Bu, selain Pangandaran, obyek wisata dekat sini apa saja ya?”

Maka dengan penuh penghargaan pula ibu itu menjawab, “ Ada mas, ke Green Canyon saja, sekitar setengah jam dari sini.”

Aku mengangguk takzim.

Tapi saudara-saudara, aku berpesan pada kalian, jangan mudah percaya dengan perkataan orang asli pedesaan. Kalau kalian bertanya pada orang asli pedesaan tentang suatu jarak, lalu dia menyebutkan sebuah bilangan angka, maka sejatinya jarak yang sesungguhnya adalah dua kalinya. Jika dia bilang 1 km, maka yang sesungguhnya adalah 2 km. Kalau dia bilang 1 jam, maka yang sesungguhnya adalah 2 jam. Aku membuktikannya sendiri. Berkali-kali.

Satu jam kemudian.

Aku sampai di Green Canyon. Indahnya bukan main. Dialah Si Greeny.

Sungai panjang berwarna hijau, batu-batu cadas yang indah. Untuk sampai ke Green Canyon harus naik perahu. Si Greeny sendiri adalah …. (silakan kalian cari sendiri deskripsinya, mirip-mirip dengan Green Canyon yang ada di negara sebelah). Dalam Bahasa Sunda, Green Canyon adalah Cukang Taneuh. Disana kita bisa mandi, berenang-renang. Pokoknya asyik banget deh! (gaya anak muda). Pokoknya akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. SUER!!! (mengacungkan dua jari sambil meringis).

Kalian tahu, semua deskripsi yang kuceritakan diatas bersumber dari orang-orang dan gambar-gambar yang ada di dekat loket masuk. Aku sendiri belum sampai naik perahu dan sampai di Green Canyon-nya. Alasannya sangat sederhana : karena begitu aku sampai di parkiran motor lalu melihat ke papan loket, yang kulihat adalah sebuah tulisan besar-besar huruf kapital dalam kertas karton warna putih : TUTUP. TIKET HABIS. Si Greeny berhasil membuatku penasaran.

Aku pun pulang dengan memelas. Di tengah jalan, aku berhenti sejenak. Istirahat, terlalu lama duduk di atas motor bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Aku menghentikan motor di dekat Penjual Jagung Manis. Eh, yang manis itu jagungnya atau penjualnya? Coba tebak!🙂

Aku suka jagung, apalagi kalau manis. Kalian tahu warna jagung kan? Kuning. Ya, dialah Si Yellowny. Aku makan dua, sebagai penunda rasa lapar karena perjalanan masih cukup jauh. Disinilah aku mendapatkan sebuah pelajaran berharga. Tepat ketika aku baru menikmati jagung yang pertama, tepat saat itu pula adzan asar berkumandang. Maka dengan cepat, si penjual bilang dalam Bahasa Sunda, yang jika diterjemahkan dalam Bahasa Nasional sebagai berikut, “Nanti uangnya dikasihkan Teteh saja, saya mau sholat dulu.” Dia mengatakan sambil menunjuk seorang wanita di sebelahnya, yang seorang penjual ayam goreng. Aku mengangguk.

Aku sendiri tidak sholat asar. Ya, aku saat itu sedang “dapet”, jadi aku tidak ikut sholat asar. Maksudku, aku sedang “dapet” keringanan untuk menjamak sholat. Aku sudah sholat asar, dijamak dengan dhuhur tadi siang.

Disinilah terjadi sesuatu yang menurutku menakjubkan. Selang waktu ketika si penjual jagung manis itu beranjak untuk sholat asar, ketika itu pula kuhitung-hitung ada sekitar 10 jagungnya dibeli. Menurut kesimpulanku sendiri, sesibuk apapun pekerjaan kita, jika kita mengutamakan sholat tepat pada waktunya, maka Insya Allah pekerjaan ataupun perdagangan kita juga semakin berkah. Coba kalau si penjual jagung manis itu tidak sholat asar di masjid, belum tentu jagungnya laris. Ah, Penjual Jagung Manis…..(eh, yang manis jagungnya atau penjualnya? Coba tebak! :))

Adzan magrib berbunyi ketika aku sampai di rumah orang (kos-kosan –red). Hari ini aku berhasil membuktikan pada Pak Karno dan Bung Hatta bahwa aku adalah sosok pemuda yang mampu mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat. Terima kasih, Pak Karno. Terima kasih, Bung Hatta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: