BAB 13 : KORTI

Kata Chrisye, masa yang paling indah adalah masa-masa sekolah. Tapi, kalau aku boleh mengubah sedikit redaksinya, maka masa yang paling indah adalah masa-masa kuliah. Dan masa yang paling indah itu, kami berempat mengawalinya dengan kompak mencukur habis rambut kepala, gundul, plontos!

Praktis, dengan berhasilnya kami menembus gerbang kokoh institusi kampus, harkat dan gelar kami naik, dari Fantastic Four menjadi Super Fantastic Four. Kami berempat adalah empat-empatnya makhluk dari Peren yang bisa meneruskan pendidikan ke jenjang kuliah. Kak Memey harus puas sekolah sampai SMA. Mas Kiai yang lulusan pondok itu juga lulus aliyah, setingkat SMA.

Universitas berjarak 50 km dari Peren, hampir mendekati ibukota propinsi, memaksa kami untuk mengontrak sebuah rumah minimalis dekat kampus. Jarak seperti itu, naik sepeda sangat menyiksa, apalagi jalan kaki. Tinggal serumah mirip keluarga yang dianjurkan oleh Pak Presiden yang sedang menggalakkan program pengentasan kemiskinan, Keluarga KB dengan slogan ‘2 Anak Lebih Baik’. Dan untuk menghormati leluhur, nenek moyangnya matematika, maka kontrakan ini kami namai dengan nama ‘ALKHAWARIZM’, ilmuwan muslim yang jago matematika.

Pagi ini halaman depan rektorat Universitas Nomor Satu penuh dengan jas almamater warna biru muda, lambang keperkasaan ilmu pengetahuan kampus. Berjejer-jejer. Berderet-deret. Rapi serupa barisan shaf sholat para sahabat ketika Nabi Muhammad menjadi imamnya. Upacara penyambutan mahasiswa baru oleh Rektor Universitas Nomor Satu. Betapa gagahnya kami semua. Bagai tamu kehormatan yang baru hari pertama saja sudah disambut sebegitu meriahnya. Kami benar-benar tak menyangka. Hebat nian!

Dari sini selesai, maka kami langsung digiring ke fakultas masing-masing. Persis kambing yang mau dimasukkan ke kandang oleh sang penggembala. Muda, elegan, cool, senyum ramah : itulah ekspresi empat penggembala yang menggiring kami, dua laki dua perempuan berkerudung berjas sama dengan kami. Hanya saja di lehernya menggantung seutas tali merah tersambung dengan kertas karton kotak bertuliskan ‘PANITIA’.

Kagum, perasaanku saat pertama kali sampai di gerbang fakultas berlantai tiga itu, Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam. Keren sekali. Di Peren, bahkan tak ada yang punya rumah barang lantai dua, lantai satu pun kebanyakan hampir ambruk. Tak lama kami sampai di sebuah ruangan luas penuh kursi berjajar rapi. Terpisah sebelah kanan dan kiri oleh sebuah gang kecil. Di baris belakang kursi, dekat tembok dan jendela, berdiri berjajar teman-teman sang penggembala tadi. Hampir semuanya tersenyum ramah tanpa paksaan. Mereka kelihatan senang sekali seperti sedang melihat iring-iringan besan calon pengantin.

“Selamat datang mahasiswa baru jurusan matematika di aula Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam!!!”

Suara seorang lelaki kurus tinggi semampai berkacamata bening dan juga berjas biru muda menyambut kedatangan kami. Kelihatan formal. Kami yang laki dipersilakan duduk di deret kanan, perempuan kiri. Seperti biasa, kegiatan awal paling menjemukan di semua sesi seperti ini : lomba pidato penyambutan. Bayangkan, hampir satu jam kami jenuh mendengar satu per satu orang maju ke podium, senyum sedikit, dan mengucapkan kalimat panjang lebar yang sebenarnya bisa disingkat menjadi 13 huruf : SELAMAT DATANG! Mulai dari ketua panitia, ketua organisasi entahlah, perwakilan ini itu, ketua jurusan, wakil ketua jurusan, dosen, dekan, pembantu dekan 1 sampai 3, bahkan yang terakhir adalah sang penggembala yang tadi menggiring kami.

Sang penggembala tadi diminta menceritakan apa saja yang dialami selama perjalanan jalan kaki dari rektorat sampai aula sini. Justru ini yang menarik, ternyata ia lucu, membuat kami yang tadi bosan dan jenuh mendengar ocehan-ocehan formal sebelumnya, menjadi senyum dan sedikit terpingkal. Andai aku jadi juri lomba pidato ini, maka yang jadi pemenang adalah kakak penggembala ini.

***

“Sekarang waktunya kita mengadakan pemilihan KORTI!” lelaki kurus semampai yang tadi suaranya pertama kali kami dengar, mengumumkan.

“Kalian tahu KORTI?” ia berhenti sebentar menatap wajah-wajah polos dan tak mengerti di hadapannya. “KORTI itu Koordinator Tingkat. Semacam ketua kelas di SMA.”

“Ooooooo…” kami berdengung seperti lebah dengan mulut membulat, mendesis huruf O.

“Ada yang mau mencalonkan diri?” menawarkan. Tentu saja, dimana-mana, kebanyakan tak ada yang mau. Kecuali jika ada iming-iming gaji yang tinggi jika jadi KORTI, maka aku, Andro, Ipul dan Awan-lah yang akan berlomba-lomba mengacungkan tangan duluan.

“Tidak ada? Baiklah kalau begitu akan saya tunjuk 3 orang untuk menjadi calon!”

Saat itulah kami semua berdebar. Takut ditunjuk. Bagaimanapun, urusan seperti ini bukan bidang kami. Kami tak jago soal beginian.

“Andromeda! Bima Sakti! Whirpool!”

Glek! Tiga nama jejer berurutan! Awan menghela nafas lega. Aku yakin dia senang sekali karena lolos namanya tidak disebut.

Kami diminta maju ke depan. Aku takut-takut ragu. Andro seperti orang sombong maju duluan. Ipul loyo tanpa daya berjalan di belakang Andro. Kami didudukkan di kursi empuk warna merah di belakang meja kaca hitam panjang menghadap semua orang. Kami seperti sedang disidang kasus korupsi bank pemerintah.

Kakak panitia memegang tiga bunga : mawar, melati dan entah namanya apa, yang jelas baunya tak sedap. Menyuruh kami memilih satu kemudian kampanye dengan bunga itu. Kampanye dengan orasi bunga agar teman kami memilih kami sebagai KORTI. Dan saat itu aku lihat Andro yang paling semangat. Ia kelihatannya sangat berambisi menjadi KORTI. Mungkin dikiranya jadi KORTI itu digaji tinggi, lumayan bisa untuk membayar biaya kuliah nanti. Andro mengambil mawar, aku melati, dan Ipul sisanya, bunga tak sedap tadi.

“Melati itu putih, teman-teman…” aku memulai dulu mempresentasikan bungaku. “Putih itu suci…” aku sok puitis (sebenarnya grogi).

“Kalian tahu ‘kan? Suci itu artinya tidak ada noda, bersih. Dan bersih itu sebagian dari iman!” aku menemukan kata kuncinya yaitu putih, suci, bersih dan iman.

“Oleh karena itu, pilihlah pemimpin yang hatinya putih, suci, bersih dan juga beriman…..seperti aku!” aku senyum lebar. Manja. Genit. Kulempar bunga melati ke atas tinggi-tinggi. Mengakhiri pentas puisiku. Tapi ternyata, bukan tepuk tangan yang kudapat. Aku malah disoraki tak karuan, “Huuuuuuuu…..!!!”

Yang ini lebih parah. Ipul gemetaran. Kulihat dahinya berkeringat dingin.

“Te..Teman-temanku yang ba..baik hati….” Gemetarannya semakin tampak. Kakak-kakak panitia di belakang ada yang menahan cekikikan.

“De…Dengarkanlah sabdaku…!” kalimat itu segera disambut dengan gemuruh ‘WUIHHH!!!’

“Ka..Kalian tahu bunga apa ini?” Ipul seperti bertanya retoris padahal sebenarnya ia bertanya sungguhan. Yang ditanya menggeleng-geleng.

“Ketahuilah kalian semua, wahai temanku yang baik hati. Sesungguhnya aku pun tak tahu bunga apa ini!” tepat satu detik Ipul mengucapkan itu, seisi aula meledak tawa. Terpingkal-pingkal. Ada yang memegangi perutnya. Teman-teman perempuan menutup mulut rapat-rapat, juga menahan tawa. Di baris belakang, beberapa kakak panitia tertawa-tawa aneh, sambil memukul-mukul tembok dekat jendela kaca.

“Tapi teman-temanku semua..” gayanya meniruku, sok puitis. Ia mulai terbiasa. Gemetarannya mulai hilang. “Tahukah kalian, bunga ini baunya…..hmmmm…….” Ipul benar-benar luar biasa. Menempelkan bunga busuk itu lekat dua lubang hidung. Kakak-kakak panitia ada yang bergaya mual hoek-hoek cuih.

“Baunya seperti kentut!!” tawa itu meledak lagi. Lebih dahsyat. Sejak itu, aku yakin, kalaupun nanti ia tak lulus, drop out ataupun berhenti kuliah, Ipul pasti akan jadi pelawak hebat.

“Maka dari itu teman-temanku yang baik hati, janganlah kalian memilih pemimpin yang bau, yang tak sedap dan bentuknya pun jelek seperti bunga ini. Itu pesanku. Oleh karena itu teman-temanku semua, JANGAN PILIH AKU!” Ipul mengakhiri sabdanya tadi dengan kalimat yang mirip dengan judul lagu. Aku tahu ia bersorak-sorai dalam hati, kampanye itu 99% akan berhasil.

Suasana aula riuh rendah dengan aksi kocak Ipul. Disuruh kampanye agar dipilih kok malah kampanye agar jangan dipilih. Benar-benar hanya ada 1 di setiap 1000 kejadian pemilihan serupa seperti ini di muka bumi. Dari sana aku mengerti bahwa Ipul sama sekali tak cocok mencalonkan diri sebagai presiden.

Suasana aula kembali tenang  setelah dikode oleh kakak panitia. Penampilan terakhir, Andromeda dengan bunga mawar merahnya. Ia tenang sekali seperti aliran sungai. Tenang seperti semilir angin sepoi.

“Teman-teman, tahukah kalian kehebatan bunga ini?” Andro mengangkat tinggi-tinggi bunga mawar di tangan kanannya. Ambisinya benar-benar terlihat. Ia seperti membara. Meledak-ledak.

“Mawar merah adalah lambang keberanian. Lambang keanggunan. Lambang semangat tinggi. Lambang ketulusan. Lambang keikhlasan dan juga lambang cinta sepenuh bumi!!!” ia menggelegar. Sejak itu pula aku tahu bahwa Andro punya bakat terpendam : menggombal.

“Merah berarti berani! Berani ketika memang benar! Tidak takut pada siapapun yang bertindak curang. Pantang menyakiti orang lain! Mawar juga sangat harum semerbak. Wanginya menyebar ke segala penjuru. Seperti itulah seharusnya seorang pemimpin. Berani, tegas, semangat tinggi, tulus, penuh cinta pada sesama dan selalu menyebarkan keharuman kebaikan ke segala penjuru dimanapun berada!” orasi itupun disambut dengan tepuk tangan meriah. Ada juga yang iseng siul-siul tak berkelas. Seperti gerombolan preman mabuk yang menyiuli pembantu yang baru pulang dari pasar sehabis membeli terong.

“Teman-teman, seandainya nanti aku terpilih jadi pemimpin, maka ketika aku benar ikutilah aku. Dan jika aku salah, ingatkanlah aku!” tepuk tangan semakin heboh mengiringi Andro yang balik ke kursinya di sampingku. Aku ingat sekali kata-kata itu. Itu salah satu petuah Kak Memey waktu TPA dulu. Itu adalah pidato Abu Bakar Ash Shidiq ketika diangkat menjadi khalifah. Tak kusangka si licik ini ingat betul kalimat hebat itu.

Setelah orasi kami bertiga diminta keluar. Lima belas menit kemudian kami dipanggil lagi ke aula untuk mendengarkan hasil musyawarah.

“Berdasarkan hasil musyawarah mufakat, kelas memutuskan bahwa KORTI terpilih tahun ini adalah……………………..” kakak kurus ini menghentikan kalimatnya. Ipul komat-kamit tak jelas. Barangkali ia siap-siap jantungan jika nanti ia benar-benar yang terpilih jadi KORTI. Aku santai. Andro tampak optimis, ia senyum tipis.

“ANDROMEDA!!”

Andro melenggang tenang maju ke tengah-tengah diiringi tepuk tangan paling meriah. Standing applause. Senyum manis mengembang di pipinya. Bangga. Sang khalifah kelas sudah terpilih. Andro tampak senang sekali. Aku juga lega, apalagi Ipul, hatinya pasti berbunga-bunga, loncat-loncat. Kampanye-nya sungguh manjur.

Baru setelah beberapa minggu kemudian Andro baru sadar. KORTI itu tidak digaji, selalu jadi kambing hitam jika ada masalah di kelas, jadi tukang suruh, satu tingkat di atas babu, tukang fotokopi, tukang pasang LCD, tukang jemput dosen yang telat, tukang catat tugas dan lain-lain yang di depannya ada kata ‘tukang’. Andro kemudian sering mengeluh kenapa pidato menggebu-gebu ala Abu Bakar Ash Shidiq berakhir tragis seperti ini. Tapi, dari sana, Andro banyak belajar bagaimana bertanggung jawab dan belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin dan panutan yang baik di kelas.

 

Suliwe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: