ARTHALOKA M-16 Lt.17

Jika dilihat dari atas langit lapis pertama, maka aku terlihat berada di titik pojok kiri atas. Itulah tempat dudukku. Aku duduk di depan bukan karena aku datang paling telat, tapi karena memang sudah ada namaku di kursi kiri depan itu. Hitam-putih-ungu, itulah kombinasi warna yang tampak. Butuh lama, bahkan mungkin berjam-jam untuk membuat diri tampak eye-catching. Ya, hari ini hari yang tak biasa.

Tepat di belakang tempatkku duduk, duduklah sesosok makhluk, yang beberapa menit kemudian dinobatkan sebagai alumni terbaik. Ya, tepat dibelakangku. Satu pertanyaan konyol mencuat dalam pikiranku, “Kenapa bukan aku ya?” Lalu, untuk menghibur diri aku bilang, “Mungkin karena aku bukan yang menjadi petugas pembaca sari tilawah-nya.” Benar sekali sebuah ungkapan dalam film 3 Idiots, “Jika kawanmu nilainya lebih buruk, kau akan sedih. Tapi jika kawanmu menjadi yang terbaik, kau akan lebih merasa sedih!” Hehe🙂

Menuliskan ini, sebenarnya hanya ingin mengabadikan petuah-petuah dari 5 pengarah kerja yang menyampaikan wejangannya pada hari itu : Pak ABC, Bu EI, Pak GS, Pak AF, dan Bu RS. Petuah yang semoga akan selalu aku ingat dalam perjalanan panjang ke depan. Untukku, untukmu, dan untuk kita semua.

Ada cerita tentang aku dan dia

Dan kita bersama

Saat dulu kala

(by peterpan)

Setelah hari ini, pada hakekatnya, inilah ujian yang sebenarnya, debrief yang sesungguhnya. Kalau boleh memberi usulan nama, maka aku akan memberi nama yang fantastis : “The Real Debrief, Believe or Not!”.

Dan jika aku jadi panitianya, maka aku akan membuat beberapa aturan : ujian kali ini tidak akan ada her, tidak akan ada membuat paper, tidak akan ada memahami satu bab tertentu untuk diuji lagi, dan pengujinya bukan hanya 3 orang melainkan seluruh orang di negeri ini, sampai pada Tuhan Yang Mahakuasa. Sekali gagal, maka yang menjadi taruhan adalah harga diri. Hidup matimu, ditanganmu sendiri. Believe or Not!

Hingga tibalah saat itu. Detik-detik menegangkan pembacaan lokasi dimana “The Real Debrief, Believe or Not!” itu akan dilaksanakan. Masing-masing orang berbeda, walaupun ada beberapa yang lokasi ujiannya sama :

Ahmad Wildan –Serang, Muhammad Zulchan –Solo, Ahmad Dhani –Purwokerto, Dziky Ridwanullah –Denpasar. Sampai disini, sesosok yang bernama Dziky memperlihatkan ekspresi seperti orang mendengar kabar bahwa ia akan dimasukkan ke penjara Alqatraz, padahal ia tidak melakukan tindak kejahatan secuilpun. Tercengang, shock, jantung berdebar, tegang. Wajahnya seperti pucat, putih, seakan-akan darah didalam tubuhnya sudah tidak ada. Akhirnya, sang pembaca meralat ucapannya : Dziky Ridwanullah –Solo🙂

Betha M Zaky –Semarang, Sofian Asmat –Puri Indah, Hendra Jumardi –Pekanbaru, Galih Arda Wijaya –Malang, Sahlan –Medan, Dedi Setianto –Yogyakarta, Muhammad Rizky –Purwokerto, Firman Yulianto –Denpasar, Oki Junaidi –Padang, Merdian Shinta Kirana –Solo, Rosdiana IK Tanjung –Pekalongan, Riska Vidyani –Solo, Nurina Widhi –Solo, Risa Qaniah –Yogyakarta, Monica Melvalinda Sinaga –Medan, Eni Parwati –BSD, dan Rati Saraduhita –Padang. Nah sampai disini, wajah orang yang namanya disebut terakhir itu tampak pucat pasi. Padang? Tak pernah terbayangkan bagaimana tanah Padang nun jauh di mato sana akan menjadi lokasi ujiannya. Beberapa pertanyaan mungkin sudah berkecamuk dalam pikiran : Duh, anakku gimana? Duh, suamiku gimana? Duh, di Padang bisa jalan-jalan nggak ya? Ada mall nggak ya? Hehe :p

Ternyata, itupun hanya salah baca. Rati Saraduhita –Semarang. Alhamdulilah🙂

Sesi demi sesi selesai, termasuk sesi pose narsis. Maka tibalah sesi ini : sesi wejangan. Beberapa kalimat wejangan yang kuingat, kucoba untuk menuliskannya kembali. Ini merupakan kisi-kisi dari pertanyaan-pertanyaan ujian “The Real Debrief, Believe or Not!”

Pak ABC

Tingkatkan 3 C : Character, Competency, Contribution.

Character yang baik itu hal yang mutlak dan tak dapat ditawar. Competency, banyak-banyaklah belajar, tak hanya dari satu sumber. Buatlah diskusi-diskusi, training sabtu-ahad, banyak membaca berita terkini, info terupdate. Jika competency tinggi, maka itu adalah prasayarat bagi kita untuk bisa memberikan Contribution optimal.

Jadilah problem solver, jangan malah menjadi problem maker. Jangan membuat masalah, apalagi jadi sumber masalah.

Janganlah membawa “pribadi”. Misal, jika kita dimarahi karena fasilitas dan layanan, jangalah merasa bahwa kita yang dimarahi, tapi ingatlah bahwa yang dimarahi dan dicomplain adalah fasilitas dan layanan itu, bukan kita.

Buang jauh-jauh 3D “Dari Dulu-Dulu”. Jika ditanya tentang sesuatu terutama tentang compliance, hendaklah tidak menjawab “Lha dari dulu emang sudah begitu, kok”. Baca dan pelajari prosedur-prosedur yang telah ada. Pahami, lalu amalkan. Jangan menjadikan buku pedoman dan prosedur itu sebagai pajangan belaka dan menganggapnya sebagai benda antik.

Bu EI

“Ada yang tahu kejadian tanggal 24 Pebruari 2011 kemarin? Pak Arviyan bersalaman dengan siapa? Ada yang baca koran Republika pada tanggal itu?” pertanyaan itu dilontarkan.

Aku diam beberapa saat. Pura-pura berpikir dan mengingat-ingat. Berdoa agar aku tidak ditunjuk untuk menjawab pertanyaan itu. Sampai kemudian keluar suara dari belakang. Suara jawaban, dengan nada optimis, menggebu, yakin seratus persen : “Muamalat Berbagi Rejeki!”. Sayang seribu sayang, jawaban itu salah. Sayang sekali Nak, engkau belum beruntung, cobalah lain waktu.

Bacalah koran, atau apapun yang dapat menambah wawasan, pesan beliau. Beliau sebenarnya hanya menekankan atas apa yang disampaikan oleh Pak ABC. Hal-hal kecil yang sebenarnya manfaatnya luar biasa, seperti Kartu SharE yang bisa digunakan di Kuala Lumpur, Muamalat yang baru saja mendapat predikat sebagai The Best Islamic Bank dari IFN tanggal 24 Pebruari kemarin, dan lain sebagainya.

Luangkan waktu sedikit tiap hari untuk membaca berita-berita terkini agar tak ketinggalan info terbaru. Iqro!

Pak GS

“Ada seorang cucu,” beliau mengawali kisah teladan, “ia menggenggam seekor burung yang ditaruh dibelakang punggunggnya.”

Ia menghadap kakeknya. Sang Kakek adalah orang yang serba tahu. Apapun persoalan yang diajukan pada kakek itu, niscaya dapat diselesaikannya dengan baik. Maka pada hari itu, si cucu bertanya pada kakeknya,

“Kakek, coba tebak, burung yang kubawa ini hidup atau mati?”

Itulah pertanyaannya. Si kakek tersenyum, berpikir. Kalau nanti ia jawab ‘hidup’ maka si cucu pasti akan mencekik burung tersebut hinggat menemui ajalnya. Tapi kalau dijawab ‘mati’, maka si cucu akan membiarkan burung itu hidup. Pertanyaan yang cerdas. Tentulah butuh jawaban yang cerdas. Akhirnya si kakek menjawab, “Cucuku sayang, jawabannya adalah hidup dan matinya burung itu ada ditanganmu.”

Hikmah dari cerita tersebut sebenarnya sederhana : apa yang akan terjadi pada kita di masa mendatang setelah hari ini, hidup dan matinya kita di lokasi ujian yang sebenarnya nanti, tak lain tak bukan adalah berada di tangan kita sendiri, bukan ditangan orang lain.

Kalau mau sukses, “Lakukanlah lebih dari yang orang lain lakukan!”

Pak AF

Diam-diam, sebenarnya aku kagum pada beliau. Beliau ini salah satu pembicara favoritku waktu inclass dulu. Pada hari itu, beliau tak mau kalah bercerita.

“Ada 5 ekor katak yang duduk pada sebuah batang kayu di pinggir sungai,” beliau juga memulai bercerita. “3 ekor katak akhirnya memutuskan untuk melompat ke dalam air. Pertanyaannya adalah berapa ekor katak yang sekarang berada pada batang kayu?”

Tak lama beliau berucap, sesosok asal Denpasar menjawab dengan penuh keyakinan, “Tidak ada!” Mancing mania, mantap sekali ia menjawab. Hmm..beberapa saat kemudian waktu terasa berhenti. Pak AF mengedarkan pandangan. Mencoba mencari jawaban lain. Lalu sesosok asal Medan –yang alumni terbaik tadi, yang sekarang duduk di sampingku berbisik-bisik, “Bukannya masih ada 5 ekor ya? Kan yang 3 ekor baru dalam tahap ‘memutuskan’, jadi mereka bertiga belum melompat!” Hebat nian analisisnya. Tak heran jika akhirnya ia menjadi alumni terbaik. Dan memang jawaban itulah yang benar. Yang menjawab ‘Tidak Ada’ tadi akhirnya harus ikhlas bahwa jawabannya salah.

Hikmah dari cerita itu adalah : kami hari ini pada dasarnya telah ‘memutuskan’, berapa tahun dari sekarang, kami telah memutuskan untuk menggantikan orang-orang yang sekarang duduk di hadapan kami. Memutuskan untuk menjadi garda terdepan, menjadi pemimpin, dan berada di jajaran tinggi di lembaga keuangan ini, entah berapa tahun ke depan. Tapi ingat, sekedar ‘memutuskan’ saja belum cukup. Kami harus benar-benar ‘melompat’ jika ingin sampai pada tujuan.

Bu RS

Beliau adalah kepala sekolah kami. Tak lupa beliau untuk selalu memberikan ucapan selamat kepada kami, “Barakallah ya..” begitu ucapnya sambil tersenyum bangga pada kami. Satu poin penting yang kuingat dari beliau kemarin : sebuah angka bombastis yang menjadi target🙂

Sebenarnya, kalau boleh usul, yang menjadi 5 terbaik diantara kami harusnya diberi angka bombastis dua kali lipat..hehe

Inti dari pesan yang disampaikan beliau hampir sama dengan ke-empat yang sebelumnya : compliance, mitigasi resiko, prosedur dan banyak-banyak belajar.

Begitulah kiranya yang kuingat kemarin. Dan mulai detik itulah ujian nyata akan kuhadapi. Ujian yang secara egois kunamai “The Real Debrief, Believe or Not!”

Man Jadda Wa Jada!🙂

 

Sukoharjo, pada suatu pagi

Sabtu, 5 Maret 2011

Ditulis sambil mendengarkan senandung

“Rindu Muhammadku”, Haddad Alwi feat Anti & Vita.

One Response to ARTHALOKA M-16 Lt.17

  1. banin_it says:

    very nice story!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: