AKU, IKAL, A LING DAN SEPEDA –3_2

Esoknya lagi, hari selasa. Aku baru ingat dengan tindakan yang akan kulakukan tempo hari. Maka hari itu, saat jam istirahat pertama. Aku mendekati Marista di mejanya. Begitu aku dekat dengan mejanya, kulihat disana banyak sekali berserakan gambar-gambar laki-laki dewasa dengan tampang bukan Indonesia. Ya, disana banyak sekali gambar boyband asal luar negri. Itu adalah Westlife! Marista senyum-senyum sendiri sambil melihat-lihat gambar-gambar itu. Kupikir ia sudah tidak waras lagi.

“Mar, kau tahu apa akibat perbuatanmu kemarin pada Dodot?!” Aku langsung to the point. Ia tidak menggubrisku. Aih, kasihan sekali aku ini. Aku seperti laki-laki tak berguna yang dicampakkan wanita. Aku mengulangi lagi kalimatku. Kali ini sambil menggebrak meja agar terlihat sedikit jantan. Akhirnya ia menatapku sambil melotot, “Memangnya kenapa?!” Nyaliku langsung ciut. Ternyata wanita kalau sedang marah memang menyeramkan. Sudah seperti induk dinosaurus yang telurnya dicuri team dari Jurassic Park.

“Tak seharusnya kau berbuat seperti itu pada Dodot, Mar. Bagaimanapun, ia adalah makhluk hidup seperti kita. Apa kau tak ingat pesan Pak Mufasil tempo hari?” Aku membawa-bawa nama Pak Mufasil agar Marista gentar. Pak Mufasil adalah guru agama kami yang sangat disegani. Marista mulai mendengarkanku.

KULLU NAFSIN DZAIQATUL MAUT!” kataku menggelegar. “Ya, itu yang dikatakan Pak Mufasil kemarin! Apa kau tak ingat Mar?!” Marista terdiam. Ia seperti Batik Madrim yang sedang mendengarkan kalimat titah dari Prabu Angling Dharma, Raja Kraton Malwapati itu.

“Kau tahu artinya, Mar?! Kau tahu artinya??” Aku semakin menggebu. Aku sangat bersemangat melihat seseorang kagum dengan apa yang baru saja kukatakan. Itu artinya secara tidak langsung, ia mengakui kehebatanku.

“Kau mau tahu artinya, Mar?” Marista mengangguk.

“Artinya adalah bahwa balas dendam itu perbuatan syaithon!” aku mengatakannya sekuat tenaga sampai terdengar di kelas sebelah. Dan, aku mengatakannya sambil menggebrak meja sekali lagi. Sungguh dahsyat. Kening Marista mengkerut. Dari kerutannya itu seperti muncul sebuah kalimat, “Memangnya artinya benar seperti itu? Bukankah tadi ada kata ‘maut’nya? Nenek-nenek di seluruh jagad ini pun tahu kalau ‘maut’ kan artinya mati. Kok tadi artinya tidak ada kata ‘mati’nya”. Dan aku pun berkata dalam hati, sangat lirih, “Ya Tuhan, ampunilah aku jika artinya salah.” Dengan perbuatanku hari itu, aku merasa memiliki bakat menjadi salah seorang politisi ulung di lembaga dewan. Bakat itu adalah : sok tahu dan pandai bersilat lidah.

Marista tertegun. Aku tersenyum kecil penuh kemenangan. Akhirnya berhasil, pikirku. Tapi ternyata salah. Itu tak berhasil.

“Jadi kau menganggapku syaithon, Boi?! Tega sekali kau! Jadi kau lebih membela Dodot daripada temanmu sendiri?! Teman macam apa kau ini, hah?!” Marista muntab. Ia marah besar. Aku seperti disambar petir mendengar kalimat itu. Bagaimanapun, aku ini perasa. Aku dibilang “teman macam apa” itu sudah sangat menyakitkan. Padahal, niatku baik. Aku hanya tidak ingin melihat ketidakadilan terjadi di muka bumi. Tidak ingin melihat pertikaian terus terjadi. Tapi tampaknya sulit. Sekarang posisiku malah jadi tambah rumit.

Marista beranjak dari duduknya, lalu keluar dari kelas. Wajahnya merah seperti kepiting rebus saking marahnya.

Saat scene ini, backsongnya adalah Weslife yang judulnya I Have A Dream. Lagu ini mewakili hasratku, mimpiku untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan di muka bumi.

Hari demi hari jadi semakin tak karuan. Pertikaian itu pun tak terelakkan. Marista semakin menganggapku sebagai ‘teman macam apa’. Itu semua gara-gara ayat “kullu nafsin dzaiqatul maut” yang kuartikan sebagai “balas dendam adalah perbuatan syaithon”. Dan saat inilah aku merasa butuh seorang mediator. Pihak ketiga. Disinilah muncul temanku yang bernama Aprih Nurohmah. Aprih ini rumahnya dekat pasar tradisional. Di daerah Tanjung, dekat kali, dekat jembatan.

“Nur, aku butuh bantuan.”

“Aku sedang sibuk.”

“Ini penting Nur.”

Nur memandangku syahdu.

“Baiklah, Boi. Memangnya kau berani bayar berapa?”

Aku terbelalak.

“Bayar? Aku ini kan temanmu sendiri, Nur.”

“Teman adalah teman. Bisnis adalah bisnis,” singkat sekali penjelasannya.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan membayarnya seribu rupiah untuk beli es cendol dan permen karet.”

“OK. Deal!”

Aku menjelaskan detail taktik jitu agar pertikaian ini berakhir dengan manis. Maksud berakhir dengan manis adalah Marista tidak menaruh dendam lagi pada Dodot, dan statusku sebagai “teman macam apa” juga segera dihapuskan. Aprih hanya manggut-manggut mendengar penjelasanku. Aku menyerahkan selembar kertas berisi SOP (Standar Operational Procedure) untuk menjalankan aksi penting itu. Di dalam SOP itu lengkap berisi tabel-tabel dengan kolom-kolom.

Kolom pertama : nomor

Kolom kedua : jenis aksi

Kolom ketiga : deskripsi

Kolom keempat : waktu

Kolom kelima : tempat

Kolom keenam : perlengkapan

Kolom ketujuh : dana

Kolom kedelapan : penanggung jawab

Khusus kolom ketujuh sengaja dikosongkan karena selain tidak ada sponsor yang mau mendanai aksi ini, kami memang tak punya uang.

 

Bersambung ke judul : AKU, IKAL, A LING DAN SEPEDA –3_3

http://suliwe.co.nr/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: