BAB 12 : KAKAK MAHASISWA

Mendadak kampungku ramai.

Hari ini dua buah truk pengangkut sapi berombongan menyerbu kampung. Namun, dua truk itu bukan berisi sapi, kambing atau kerbau, tapi manusia. Ya, kata Ayah, mereka adalah kakak-kakak mahasiswa. Mereka dari Kota Karesidenan. Lebih dari tiga minggu yang lalu beberapa perwakilan mereka melakukan kegiatan apa namanya aku lupa. Semacam meneliti kondisi keadaan sekitar. Kalau tidak salah, namanya surpei.

Tiga minggu lalu, aku diminta Ayah menemani perwakilan kakak-kakak mahasiswa itu berkeliling sekitar perbukitan. Menunjukkan pada mereka dimana bisa mendirikan tenda. Salah satu dari kakak-kakak itu namanya Kak Uly –dia laki-laki. Mereka juga meminta ditunjukkan rute dimana bisa dilakukan jurit malam, semacam jalan-jalan di malam hari. Hanya satu tempat yang tidak kutunjukkan pada mereka. Tempat itu rahasia, tak boleh ada yang tahu selain kami bertiga : aku, adikku, dan almarhum Kak Salman. Ah, aku teringat Kak Salman.

Kakak-kakak itu akan mengadakan perkemahan selama dua hari di kampung kami, di perbukitan bagian atas. Itu berarti, tempat mereka dekat dengan tempat rahasia kami.

Pagi-pagi sekali rombongan dua truk berwarna kuning itu telah tiba. Bahkan, kabut tipis masih membungkus kampung. Pasti mereka kedinginan. Dua truk itu diparkir di dekat rumahku. Kak Uly, yang ternyata menjadi ketua perkemahan itu, datang ke rumah menemui Ayah. Meminta ijin. Aku mengintip dari balik pintu.

Melihatku, Kak Uly berkata, “Desty mau ikut kemah tidak?”

Aku mengerjap. Mau sekali. Hari ini kan hari libur, esok juga libur. Aku melirik ke Ayah. Ayah mengangguk. Adikku yang entah darimana munculnya, masih menyisakan iler di pipi kanan-kiri membentuk gambaran abstrak peta pulau menyeramkan, sontak mengagetkan, “Aku juga ikut!” Pasti menyenangkan, pasti itu pikirnya.

Dari Kak Uly aku tahu, perkemahan itu adalah perkemahan untuk mahasiswa baru. Sebentar. Mahasiswa? Baru? Apa maksudnya?

Mahasiswa itu apa Kak?” Kak Uly tersenyum. Lupa bahwa kami berdua masih terlalu kecil untuk mengerti arti kata ‘mahasiswa’. Pakai kata ‘baru’ lagi.

“Mahasiswa itu sama seperti kalian. Anak sekolahan. Sebutannya bukan lagi sekolah, tapi kuliah. Hanya saja, sekolahnya di kampus. Kampus itu seperti SD kalian, tempat untuk belajar. Mahasiswa itu sekolah setelah lulus SMA. Kalau kalian masih disebut ‘siswa’, nah kalau seperti kakak ini sudah disebut ‘mahasiswa’, siswa yang maha,” adikku manggut-manggut sok mengerti.

“Nanti kalau kalian sudah besar, kalian juga tahu. Kalian ingin jadi mahasiswa tidak?”

Aku mengangguk. Mau sekali. Adikku berbinar-binar. Lantas berseru, “Aku juga mau Kak! Aku bosan di SD. Aku mau langsung jadi ma-hah-shis-wa! Aku mau khu-li-ahh!”

Sayang seribu sayang, keinginan adikku itu, bertahun-tahun kemudian, tak pernah terwujud. Tidak akan pernah.

“Nah, kalau kakak-kakak yang berseragam kaos coklat panjang itu namanya mahasiswa baru. Mereka baru masuk kuliah. Mereka baru lulus SMA. Dan setiap mahasiswa baru seperti mereka, selalu diwajibkan mengikuti kegiatan kemah seperti ini. Kalian mengerti?” Kami mengangguk serempak.

Kami mengobrol sambil diminta membantu mendirikan tenda. Tepatnya bukan membantu, tapi merepotkan. Tadi kami yang ngotot agar diajari cara mendirikan tenda. Ini pengalaman pertama bagi kami. Kami belum pernah satu kali pun melaksanakan kegiatan se-menyenangkan seperti ini.

Kami juga dikenalkan dengan beberapa teman Kak Uly. Rata-rata mereka semua baik. Murah senyum. Sesekali menggoda kami, aku dan adikku.

“Desty mandinya pakai sabun pakai apa sih kok bisa cantik begitu?”  kata Kak Indah. Aku memerah. Tersipu. Cantik? Aku cantik? Ah, manis sekali kedengarannya.

“Pakai pasir dan abu gosok, Kak!” adikku seketika membuyarkan semuanya. Menggangu kebahagiaanku dengan kata cantik. Aku hendak menjitaknya. Adikku menghindar sambil menjulurkan lidah. Kakak-kakak itu tertawa-tawa.

“Kalau Wawan bisa ganteng begitu pakai apa?” adikku bersungut-sunggut, hendak membuka mulut. Aku buru-buru berseru, “Pakai kotoran sapi!” Tawa kembali meledak.

Satu setengah jam kemudian, tenda itu berdiri. Dua tenda panitia. Satu untuk panitia putra, satu lagi panitia putri. Terpisah agak jauh. Tenda mahasiswa baru itu juga sudah tegak. Kuhitung-hitung ada tujuh tenda. Sebelah kanan ada tiga (untuk mahasiswa baru putra), sebelah kiri ada empat (untuk mahasiswa baru putri). Terpisah oleh jalan setapak, juga ditandai dengan tali rafia yang dibentangkan sepanjang jalan. Sebagai pembatas. Kata Kak Uly, jumlah mahasiswa baru ada 58 orang. 18 putra, 40 putri.

“Nama acara ini Be-A-Ha. BAH. Bhakti Akademika Himatika.”

Aku kagum mendengar nama itu. Keren sekali, Kak! (walaupun aku tak tahu apa artinya). Pokoknya keren!

***

Panggilan Emak mengakhiri kebersamaan kami dengan kakak-kakak mahasiswa itu. Main-mainnya sudah. Emak menyuruh kami ke ladang. Mencabuti rumput. Kami berdua ber-yah kecewa. Sedang asyik-asyiknya tapi disuruh pulang. Bukan pulang, tapi ke ladang mencabuti rumput.

“Nanti malam kalian ke sini lagi. Ada acara seru!” Kak Uly berkata. Perkataan yang berarti undangan. Dan demi mendengar kata ‘acara seru’ itu, aku dan adikku girang bukan main. Acara seru? Bersama-sama kakak-kakak mahasiswa? Bakal jadi cerita hebat di sekolahan esok lusa.

Di ladang kami gesit. Mencabuti rumput sana-sini dengan arit. Melihat arit itu,  aku dan adikku tertawa geli. Membayangkan perkakas Pak Lik dipotong dengan alat seperti ini waktu disunat dulu, pasti sakitnya tak tertahankan. Menjelang sore kami selesai membabat habis rumput-rumput di ladang. Bergegas pulang. Bergegas mandi. Bergegas ke perbukitan atas. Menyaksikan acara seru yang masih misteri bagi kami.

Malam itu malam minggu. Lepas isya aku dan adikku berangkat. Naik ke perbukitan bagian atas. Ke tenda Kak Uly. Ya ampun, ternyata kakak-kakak mahasiswa itu tidak ada yang mandi! Bau!

Kak Uly nyengir, “Kalian harus tahu, dalam acara seperti ini, mandi bikin batal! Nggak afdhal…” Tertawa melihat kami yang tak paham dengan kalimatnya barusan. Batal? Memangnya habis wudhu?

Kak Uly mengajak kami ke kerumunan berbentuk lingkaran. Kerumunan mahasiswa baru. Di tengah-tengahnya bertumpuk banyak sekali kayu-kayu kering. Besar-besar. Salah satu kakak mahasiswa menumpahkan cairan ke atasnya. Cairan minyak tanah. Menyulut korek api. Dan…brengg!!

Api unggun!

Ya, malam ini ada acara Api Unggun. Ada pentas seni. Pasti seru sekali! Baru pertama kali aku tahu ada acara seperti ini. Di sekolahku belum pernah ada sama sekali. Di televisi hitam-putih balai desa juga belum pernah ditayangkan. Kakak-kakak mahasiswa ini pasti sangat kreatif.

Kelompok pertama yang tampil adalah yang bernama Kelompok Gatotkaca. Ya, nama-nama kelompoknya memakai nama wayang. Mereka memainkan sebuah drama! Ya ampun, aku tidak salah lihat? Itu benar-benar drama! Mereka hebat sekali!

Cerita dalam drama itu adalah tentang pergaulan bebas. Sekelompok pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan hal-hal negatif. Pada suatu hari sekelompok pemuda itu berpesta minuman keras dan berjudi. Pada akhirnya mereka ditumpas oleh bapak-bapak polisi yang pemberani. Pak Polisi menangkap mereka semua. Membawa mereka ke kantor polisi. Menasehati mereka. Dalam drama itu, diceritakan bahwa sekelompok pemuda itu akhirnya sadar dan bertaubat. Mereka kembali menjadi anak yang baik. Keren!

Kelompok demi kelompok tampil. Bergantian putra-putri. Kelompok dua, Kelompok Srikandi. Menampilkan puisi yang sangat bagus sampai-sampai aku tak mengerti sama sekali setiap penggal kata dalam puisi itu. Bahasanya terlalu tinggi!

Kelompok ketiga, Kelompok Petruk. Dari namanya dapat ditebak pertunjukan macam apa yang akan ditampilkan. Mereka menampilkan lawak kocak. Adikku sampai terpingkal-pingkal memegangi perut. Petruk tampil, tawa seketika menggema memenuhi perbukitan bagian atas. Riuh bukan main. Pasti suatu saat mereka akan jadi pelawak kondang!

Kelompok keempat namanya Kelompok Dewi Uma. Kelompok ini menampilkan tarian tradisional dari daerah yang aku tak tahu. Yang kutahu, sepanjang menari, matanya melotot sampai mau keluar. Gerakan-gerakannya sangat tegas. Seperti seorang ibu yang mau memarahi anaknya yang bandel. Mereka semua kompak. Gerakannya nyaris sempurna. Aku kagum sekali melihat kakak-kakak itu. Mereka pasti latihannya lama sekali.

Kelompok kelima, Kelompok Abimanyu. Mereka menampilkan cerita ustadz dan santri-santrinya. Ada salah satu santri yang nakal. Suatu hari ia ketahuan mencuri uang di pesantren. Akhirnya ia diadili di depan majelis. Majelis itu terdiri dari para ustadz dan juga santri-santri senior. Hukuman akhirnya dijatuhkan padanya. Aku kasihan melihat kakak yang menjadi santri nakal itu, karena dalam drama itu, tangannya diikat di belakang lalu ramai-ramai dilempari kulit pisang. Bahkan aku juga disuruh ikut melemparinya. Aku sungguh tak tega. Meski adegannya menyedihkan seperti itu, tapi semuanya tertawa melihat adegan pelemparan kulit pisang itu. Sudah seperti pasukan haji melempar jumroh.

Kelompok keenam. Mereka menamakannya Kelompok Dewi Kunti. Kelompok yang satu ini menampilkan pantomim. Gerakan-gerakan tanpa suara. Hanya gerakan. Seperti orang bisu. Aku tak paham maksudnya. Mereka membawa-bawa tas, sepatu, buku-buku seperti orang mau sekolah. Lalu tiba-tiba lari terbirit-birit, terengah-engah, lalu menari-nari. Apa maksudnya? Aku tak tahu. Saat mereka tampil, tak satu pun ada yang tertawa. Adikku bahkan menguap lebar-lebar.

Kelompok terakhir namanya Kelompok Arimbi. Mereka menampilkan pertunjukan musik unik. Alat-alat musik yang mereka gunakan adalah galon air, piring seng, sendok, garpu, ember, gelas dan tutup panci. Mereka menamakan aksi itu dengan sebuah nama yang lucu : Pertunjukan Musik Ala Mahasiswa Seadanya. Mereka membawakan lagu yang aneh, judulnya “Gadis Desa Seberang”. Aku belum pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Benar-benar aneh. Inti cerita dalam lagu itu adalah tentang seorang gadis desa yang berjuang untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Ia belajar tekun, bekerja keras, bahkan sampai merantau ke negeri-negeri yang jauh. Pada akhirnya, ia berhasil membahagiakan kedua orang tuanya.

Penggalan liriknya seperti ini :

Gadis desa

Menatap masa depan

Ayah bunda tujuannya

Demi mereka berdua

Bahagia dunia sampai akhirat

Suara-suara alat-alat musik yang memang seadanya itu mengiringi tiap lekukan-lekukan nada. Mereka bak paduan suara. Sedangkan satu orang berperan sebagai gadis desa. Laksana model video klip musik. Mereka kompak sekali. Tepuk tangan meriah menyambut mereka sejak awal sampai akhir pertunjukan.

Malam makin larut. Api unggun mulai meredup. Pertunjukan mencapai penghujung. Semua peserta diminta segera tidur. Akan ada acara yang lebih seru lagi malam nanti katanya. Acara lebih seru? Aku mengernyitkan dahi. Kalau acara api unggun sudah seseru ini, masih ada yang lebih seru lagi katanya?

Aku buru-buru ingin bertanya. Adikku mendahului.

“Acara apa, Kak?” Kak Uly menoleh. Memandang kami berdua.

“Ah, tidak. Ayo, kalian kakak antar pulang. Sudah malam.” Kak Uly menjawab pendek. Aku curiga. Pasti ada yang disembunyikan. Dan aku ingin tahu acara yang lebih seru itu. Pokoknya harus tahu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: