AKU, IKAL, A LING DAN SEPEDA –2

Masih ingatkah kalian pada cerita tentang aku dan Marista pada episode pertama yang lalu? Kalau lupa, bolehlah dibaca lagi ceritanya.

Di episode yang lalu, si Marista Elly Putri Ayu Ningrum berkata padaku soal dendamnya pada si Dodot, “Dendam ini harus dibalaskan, Boi. Sampai Hari Kiamat!”

Dan ia benar-benar melakukannya…

==========

Sore harinya, aku meminjam sepeda motor merk Bravo warna hitam. Perjuangan meminjam motor ini pun tak terbilang gampang, karena aku harus meminjam motor itu dari seorang sesepuh kampung yang sangat disegani masyarakat. Aku takut-takut meminjamnya.

“Memangnya kau sudah mahir naik motor, Bujang?” tatapan mata Sang Sesepuh itu tajam bagai elang. Belum sempat aku menjawab, beliau bersabda lagi, “Minggu lalu saja kau tak becus waktu di belokan dekat balai desa. Akibat perbuatanmu itu, sikut dan kakiku lecet-lecet semua.” Beliau menceritakan kejadian tragis yang sebenarnya ingin kulupakan. Sang Sesepuh lalu menunjukkan lengan dan kakinya yang masih dibalut perban dan masih ada bekas warna merah darah.

“Saya yakin aku akan baik-baik saja…tolong pinjami saya…” aku memelas.

“Kau juga belum punya SIM!” katanya tegas. Aku hanya menunduk. Memang benar, aku belum punya SIM.

“Tolonglah…” aku mengiba. Beliau menghela nafas panjang.

“Tiga minggu lalu! Kau ingat tiga minggu lalu??? Kau menabrakkan sepeda motor itu pada tukang sol sepatu! Ia marah-marah, minta ganti rugi! Kau ingat??? Celana panjang kebanggaanku sampai robek! Tak bisa kupakai untuk jagong lagi! Dan gara-gara kau, aku batal jadi pembaca ‘Bubak Kawah’ di kawinan tetangga sebelah!”

Aku mengkerut. Tak berani memandangnya lagi.

Kalian tidak ingin bertanya mengapa Sang Sesepuh itu tahu tentang kejadian-kejadian yang kualami secara detail? Ya, beliau –sang sesepuh kampung itu adalah bapak kandungku sendiri, bapak tercinta. Dan kejadian-kejadian tragis itu terjadi waktu aku sedang diajari naik motor oleh beliau. Sungguh mengharukan.

Akhirnya dengan segala taktik jitu, aku diijinkan membawa motor Bravo warna hitam itu.

Tak ambil tempo, aku mengajak rekan senegara-ku –sekampung, namanya Tri Wahyudi (sekarang dia jadi Ketua Karang Taruna Hasta Manunggal). Lain kali, kalau sedang ingin, akan kuceritakan tentang Karang Taruna Hasta Manunggal ini.

Rencananya begini : aku naik motor Bravo, Tri naik sepedanya Marista untuk dikembalikan ke rumahnya. Aku naik motor di sebelah kanan, Tri di sebelah kiri. Tangan kanan Tri memegang pundakku. Tangan kananku memutar gas motor. Dan akhirnya kami melaju. Hmm..rencana yang sangat matang dan sistematis.

Rencana itu dijalankan. Lima belas menit kami sampai di rumah Marista. Tak disangka, benar-benar tak disangka. Marista sudah menungguku di depan rumahnya. Pakaiannya serba hitam. Celana panjang hitam, kaos hitam, rambut panjang hitam, tas hitam, dan ikat kepala hitam. Pada ikat kepala itu bertuliskan “I’m Fighter!” Ia sudah seperti Rambo. Tak hanya itu yang membuatku tercengang. Disamping Marista terdapat seorang lelaki tinggi besar, kumis tebal, memakai sarung kotak-kotak, kaos singlet dan peci hitam. Siapakah ia? Apakah ia bodyguard-nya Marista? Ternyata bukan, ia adalah Pakdhe-nya Marista yang sedang bersantai di atas dipan bambu. Mungkin si pakdhe sedang membayangkan suasana pantai di Hawai.

“Ayo, Boi, ini waktunya balas dendam!” sorot matanya tajam sekali. Aku merinding.

“Sudahlah Mar. Janganlah engkau turuti bisikan syaithan. Balas dendam itu tak baik untuk kesehatan dan janin,” aku berusaha membujuknya agar melupakan kejadian tadi siang.

Ia memaksaku untuk menuruti keinginannya. Sekarang rencananya berubah. Aku dan Tri berboncengan naik motor Bravo. Marista naik sepeda jengki biru-nya. Kedua tangan Marista memegang dua stang sepedanya. Tri memegang boncengan sepeda jengki untuk mendorong sepeda itu. Aku memegang gas sepeda motor. Ini merupakan skema syariah untuk laki-laki dan perempuan yang hendak pergi berbarengan naik kendaraan.

Juga lima belas menit kami tiba di jalan kecil dekat pojokan Pasar Bekonang, tempat dimana tadi siang si Dodot menyikat es cendol milik Marista yang berbuntut pada dendam membara pada diri Marista.

Alamak!

Kami tercengang bukan kepalang. Karena di atas sebuah pagar, kami melihat Dodot sedang duduk manis. Tangan kanan Dodot tergenggam setangkai bunga mawar imitasi warna merah, rambutnya disisir rapi ke sebelah kanan, dan ia memasang tampang sok manis! Bukan itu yang membuat kami tercengang, lebih karena disamping Dodot juga duduk seekor anjing betina, memakai bando warna pink, dan rambutnya panjang gemulai. Aku yakin seyakin-yakinnya, si Dodot hendak menyatakan cintanya.

Dan, saat adegan ini, backsongnya adalah D’Bagindas.

Biarkanlah diri ini…untuk mencoba mendekatimu
Mendekati indahnya dirimu…dirimu yang hadir di mimpiku

Berikanlah aku waktu…dan keadaan yang engkau mampu
Hati ini takkan bisa…lebih lama tuk memendam rasa

Empat mata bicara padamu…ku katakan aku cinta kamu
Empat mata ku ingin bertemu…tuk ungkapkan isi di hatiku

Backsong berakhir. Si Dodot tersenyum.

Kalian ingin tahu nama anjing betina itu? Disinilah peran Tri. Tadi ia kuminta untuk mencari tahu profil anjing betina nan memesona itu. Tri kusuruh pergi ke warung Pak Muhakar. Masih ingat dengan beliau? Dialah penjual es cendol yang sangat geram dengan kelakuan Dodot tadi siang. Dan hasil yang didapatkan Tri sungguh membuatku kagum. Ternyata anjing betina itu namanya Stephany. Panggilannya Step. Se-tep, malah mirip nama penyakit dengan gejala kejang-kejang tak karuan.

Dan bagi Marista, senyum si Dodot itu senyum menjengkelkan. Aku terus membujuk Marista agar melupakan dendamnya. Ia masih tak menggubrisku. Lalu, dengan gerak lambat, Marista mengeluarkan sesuatu dari tas hitam yang dibawanya. Apakah gerangan benda yang akan dikeluarkan Marista? Apakah pisau silet? Resleting? Jarum suntik? Pistol mainan? Gunting cukur? Potongan kuku? Atau senjata laras panjang nan mematikan? Aku berdebar-debar menyaksikan aksinya.

Ya Tuhan, ternyata ia mengeluarkan selembar foto!

Sungguh dahsyat. Foto bukan sembarang foto. Itu adalah foto dua ekor anjing yang berpelukan mesra, dan salah satunya adalah si Dodot. Satunya lagi, anjing betina, dan bukan Stephany. Itu adalah hasil karya buatan dengan rekayasa Adobe Soto-Shop. Bukan main. Benar-benar bukan main. Aku tak mengerti, bagaimana mungkin anak sekecil dia, termasuk aku, yang masih SMP, sudah belajar Adobe Soto-Shop.

Backsong lagu “Dendam Membara”. Penyanyi Barry Prima.

Sehelai foto itu, oleh Marista, dikaitkan dengan tali rafia yang disangkutkan pada sebatang kayu lapuk bekas yang habis dipakai untuk melancarkan got yang tersumbat. Lalu dilemparkan sedemikian rupa hingga terjatuh di hadapan Stephany. Seketika, Stephany muntab. Ia melotot-lotot pada si Dodot. Barangkali ia ingin bilang, “Dasar anjing hidung belang!” Stephany menampar si Dodot!

Marista tertawa girang penuh kemenangan dengan tangan kanan dibentangkan ke kanan, tangan kiri mengikuti tangan kanan. Itulah gaya Pahlawan Bertopeng. Aku geleng-geleng kepala.

“YES!!! Berhasil…Berhasil..Hip..Hip..Hura…!!!” Marista kegirangan seperti ibu-ibu yang habis melahirkan bayi kembar (memangnya ibu-ibu yang habis melahirkan reaksinya seperti itu ya?). Ia tertawa-tawa sampai mengeluarkan air mata. Ia benar-benar puas. Malang nian nasib Dodot. Itu adalah penderitaan batin terhebat bagi seekor anjing bujangan seperti dia. Aku sebenarnya sangat kasihan pada dia. Tapi mau bagaimana lagi. Itu akibat dari perbuatannya sendiri tadi siang yang tega-teganya mencabik-cabik es cendol milik Marista.

Esok harinya, minggu-minggu berikutnya, tiap pulang sekolah aku sering melihat si Dodot duduk sendirian di atas pagar sambil memegang bunga mawar imitasi, dan juga memegang foto yang kemarin entah darimana ia tak tahu, jatuh di depannya begitu saja. Ia menatap ke arah birunya langit. Tatapan itu kosong.

Esok lusanya, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu…sesuatu yang akhirnya berbuntut sebuah pertikaian. Apakah itu? Tetaplah bersama saya di acara kesayangan Anda ini…!

==========

NB : Jika notes ini nantinya dijadikan sebuah acara reality show di televisi, maka aku ingin memberinya sebuah nama yang sangat menyentuh, akan kuberi nama “SULI PEDULI”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: