AKU PERTANYAAN KETIGA

Si Gigi Kelinci. Wajahnya yang sendu di gerbong kereta terlukis di pelupuk. Bangau-bangau putih beterbangan. Hamparan sawah menguning. Tatapan pertama mereka. Wajah yang tidak peduli itu, sama sekali merasa tidak perlu menoleh. Wajahnya yang riang di bangsal anak-anak rumah sakit. Dia mencengkeram ujung-ujung kaca jendela untuk mendapatkan perhatiannya. Wajah yang “membalut” tangannya dengan lembut. Ray seperti bisa melihat lagi bedak pipi kirinya yang tidak rata. Giginya yang lucu bagai gigi kelinci terlihat saat pertama kali ia membuka mulutnya.

“Kenapa kau sering sekali terluka di pintu yang sama?” Apa yang dia bilang waktu itu? “Aku merasa tempatku disitu, tetapi hatiku tidak sedang disitu.” Ray tersenyum semakin getir.

Gadis itu memanggilnya Si Ceroboh.

Dia memanggilnya Si Gigi Kelinci.

Ray gemetar mencengkeram tanah merah di depannya.

“Apa maksud semua ini, Tuhan? Kenapa Kau tega sekali? Kau renggut bayi kami tiga tahun silam. Dan sekarang Kau renggut istri dan bayiku sekaligus. Apakah Kau tertawa melihat kami tersungkur seperti ini? Tertawa puas?

***

“Inilah pertanyaan ketigamu, bukan? Kenapa langit tega sekali mengambil istrimu. Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?” Orang dengan wajah menyenangkan itu berkata pelan.

“Ray, pertanyaan ini sulit dijawab. Sulit sekali dijelaskan kalau kau memaksa memahaminya dari sisi yang seperti orang lain coba memahaminya selama ini. Tetapi ini akan menjadi sederhana kalau kau mau melihatnya dari sisi yang berbeda. Sisi yang seringkali kita lupakan.”

“Kau tahu, hampir semua orang pernah kehilangan sesuatu yang berharga miliknya, amat berharga malah. Ada yang kehilangan sebagian tubuh mereka, cacat, kehilangan pekerjaan, kehilangan anak, orang tua, benda-benda berharga, kesempatan, kepercayaan, nama baik. Kau kehilangan istri yang amat kau cintai. Dalam ukuran tertentu, kehilangan yang kau alami mungkin jauh lebih menyakitkan. Tetapi kita tidak sedang membicarakan ukuran relatif lebih atau kurang. Semua kehilangan itu menyakitkan.”

“Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik memahaminya adalah sekali dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan…”

“Ketahuilah Ray, bagi istrimu, sejak pernikahan kalian, maka tujuan hidupnya menjadi amat sederhana. Kau sering mendengar istrimu berkata, ‘Bagiku kau ikhlas dengan semua yang kulakukan untukmu. Ridha atas perlakuanku padamu. Itu sudah cukup’ Nah, itulah tujuan hidup baru istrimu. Amat s-e-d-e-r-h-a-n-a.”

“Kau tahu, istrimu benar-benar ingin menjadi istri yang baik untukmu, menjadi ibu yang baik untuk anak-anakmu. Ia tidak pandai ilmu agama, ia baru belajar itu semua saat kalian menikah. Tapi dia paham sebuah kalimat yang indah, nasehat pernikahan kalian yang disampaikan penghulu : Istri yang ketika meninggal dan suaminya ridha padanya, maka pintu-pintu surga dibukakan lebar-lebar baginya.”

“Hanya itu yang dipahami istrimu. Tapi ia sungguh-sungguh melaksanakannya. Ia mengubur semua masa lalunya yang kelam. Menguburnya dalam-dalam. Ia ingin kau ikhlas atas semua yang ia lakukan, ia ingin kau menerima ia apa adanya. Ia melayanimu sepenuh hati, menunggumu pulang dengan riang, memaksakan diri tetap terjaga saat kau tiba, memanaskan makan malam, melepaskan dasi, menyiapkan air hangat. Ia ingin kau ridha atas semua perlakuannya.”

“Kenapa Tuhan selalu mengambil sesuatu yang menyenangkan dari hambaNya, kenapa Tuhan melemparkan kau lagi ke dalam kesedihan itu? Malam itu, Ray, Tuhan sungguh tidak sedang menghukummu, malam itu saat rembulan bersinar terang, saat gemintang tumpah-ruah di angkasa menjelang subuh, saat malam takbir hari raya, malam itu, Tuhan sedang tidak mengujimu. Tuhan justru sedang mengirimkan seribu malaikat untuk menjemput istrimu. Sama seperti Diar, istrimu, anak manusia yang gelap masa lalunya, menyakitkan masa kecilnya, subuh itu menjemput takdir terbaiknya. Takdir langit yang hebat. Bukankah kau ingat sekali saat dia akan meninggal? Kalimat terakhirnya?”

“Bukankah istrimu waktu itu berkata ‘Kau tahu… Aku ingin selalu terlihat cantik di matamu… Aku ingin selalu terlihat cantik.’ Ah, hanya wanita mulialah yang bisa mengatakan kalimat sehebat itu, Ray. Dan sungguh sudah mulialah istrimu… Istrimu bertanya di penghujung hidupnya, ‘Apakah kau ridha?’ Dan kau mengangguk. Maka malam itu seribu malaikat bertasbih turun mengungkung kota. Malaikat yang satu sayapnya saja mampu menutupi seluruh cahaya rembulan dan bintang gemintang. Istrimu menjemput penghujung yang baik, Ray. Inilah jawaban mengapa istrimu harus pergi. Kau harus melihatnya dari sisi istrimu yang pergi, bukan dari sisimu yang ditinggalkan. Istrimu telah mendapatkan tujuan hidupnya…”

“Kenapa Tuhan mengambil sesuatu yang menyenangkan dari hambaNya, apa semua ini kurang menyakitkan? Ray, orang-orang yang memiliki tujuan hidup, maka dia tidak akan pernah bertanya soal ini. Baginya, semua yang dialaminya adalah tempaan, harga tujuan tersebut. Baginya, semua proses yang dialami, menyakitkan atau menyenangkan semuanya untuk menjemput tujuan itu. Dan dia bertekad menjemput akhir sambil tersenyum, seperti istrimu. Ia meninggal dengan penghujung yang baik.” Orang dengan wajah menyenangkan itu menghela nafas pelan. Terdiam.

“Kau lihat, malam itu aku ada disebelahmu… Sayang, aku tidak bisa mengajakmu bicara, tidak bisa menyampaikan penjelasan ini. Hanya menatap prihatin atas segala takdir hidup yang menyakitkan ini. Tapi tahukah kau? Kenapa aku mengunjungimu malam itu? Karena bayi-bayi kalian… Dua bayi perempuanmu. Dua bayi yang menjemput surga. Itulah kenapa aku datang, meskipun aku tidak bisa menjelaskan banyak hal.”

Karnaval malam takbir mulai memenuhi jalanan. Gerimis sudah berhenti sejak lima menit lalu. Digantikan kemeriahan. Suara beduk dipukul bertalu-talu memenuhi langit-langit kota. Galon-galon air yang didendang.

“Kau tahu kenapa istrimu bernama Fitri?” Ray menggeleng. Bagaimana dia akan tahu?

“Karena istrimu lahir persis di Hari Kemenangan. Hari Raya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: