BUKIT ADZ DZIKRA

Aku tak peduli apakah akan ada yang membaca tulisan ini atau tidak. Pokoknya nulis. Dan aku enggan meng-tag seorangpun. Buat apa. Aku, dalam kondisi seperti ini, sedang termasuk dalam Golongan Masabodohikus.

Kamis kemarin, aku melakukan kegiatan spektakuler yang kunamakan : Jalan-Jalan Bermanfaat (hayah). Pagi-pagi menjelang siang, mulailah aksi itu. Nebeng mobil kantor (kan jalan-jalan gratis) bersama Rekan Firman, dan dua rekan lain (yang tidak bisa kusebutkan secara vulgar, biarlah ini menjadi rahasia Ilahi…hmm).

Tujuan pertama adalah sebuah kantor kecil di kawasan Cikarang. Aku juga tak tahu ada apa gerangan kesana. Pokoknya ikut. Ee ternyata disana dipertemukan dengan 1 lelaki gagah dan 2 mbak-mbak berkerudung ungu (cihuii). Silaturahim ceritanya.

Perjalanan dilanjutkan ke PT Mattel Indonesia. Perusahaan besar ini adalah produsen boneka Barbie. Produknya justru di ekspor keluar negri, nggak ada yang dijual di dalam negri karena memang harganya di atas rata-rata. PT ini punya 2 plant –pabrik. Dan masing-masing pabrik karyawannya kalian mau tahu? Ribuan! Subhanallah…ingin sekali aku suatu saat juga punya perusahaan segede ini. Disana –menurutku, karyawan diperlakukan sangat baik, dalam segi fasilitas. Terdapat wisma untuk ribuan karyawan itu, perpustakaan, kantin, ruang internet, ruang pelatihan dan KBM, terakhir ada toilet (hehe). Aku pun sempat meninggalkan jejak di toilet tersebut (ra penting! :D).

Memanfaatkan kesempatan, aku pun (dan Rekan Firman) melakukan sedikit interview dengan mbak-mbak karyawati (yang masih muda-muda itu). Bertanya sana-sini. Sekali lagi, itu hanya sebagai ajang memanfaatkan waktu luang dan kesempatan sekaligus menyambung tali silaturahim. Tak lebih. Tak kurang.

Satu pelajaran yang penting jika nanti kalian ingin berkunjung ke perusahaan besar seperti ini : bawalah KTP atau kartu identitas. Pasalnya, hampir saja kemarin aku tak diijinkan masuk oleh Bu Satwan (Satpam Wanita –red) karena aku tak bawa KTP. Untunglah aku masih bawa ID Card, sehingga dengan sedikit negotiation skill, aku berhasil membobol gawang tim lawan! (wew heroik sekali).

Tepat tengah hari, kami meninggalkan PT Mattel Indonesia (dengan perasaan haru dan berdoa semoga lain kali bisa jumpa kembali). Nah, setelahnya, entah ini suatu dosa apa bukan, aku dihadapkan untuk membuat sebuah keputusan yang sangat berat, karena aku harus memilih diantara dua pilihan yang berat : aku harus memilih 1 diantara 2 mbak-mbak berkerudung ungu itu! Lhoh???

Bukan dink, pilihan itu adalah apakah aku akan lanjut terus ataukah aku akan berhenti sampai disini (iki jane ngomong opo tho?). Kami akhirnya mampir untuk makan siang di warung Karya Minang. Tau ‘kan? Kalau ada kata “Minang”, berarti warung ini masakan Eropa!🙂

Akhirnya aku memilih satu dari dua keputusan sulit itu : aku membatalkan puasa (hehe). Ya Allah, ampunilah jika keputusan ini salah. Amin.

Perjalanan semakin asyik karena kami mampir sholat dhuhur di Universitas Hamka, di daerah Tanah Merdeka. Amboi, begitu masuk kampus ini, gelora mudaku bergejolak (halah). Aku serasa kembali ke masa-masa kuliah. Melihat banyak muda-mudi rapat organisasi, belajar serius dengan laptop mereka, dan juga tidur di masjid kampus (wah mahasiswa model yang punya kebiasaan beginian pasti sering mimpi ketemu bidadari surga).

Usai sholat, kami menuju PT Coca Cola dekat kampus itu. Hmm, namanya saja perusahaan minuman cola, kami pun diberi minum cola botol. Lumayan, gratisan euy…

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan?
Hayo, surat apa itu? Yang jelas bukan Surat-man.

Nah, berikutnya ini yang merupakan inti judul dari ceritaku. Seusai dari PT Coca Cola, kami beranjak menuju pemberhentian terakhir. Sebenarnya sih mau mampir ke satu perusahaan lagi, tapi kebetulan si empunya sedang keluar kota, ke Semarang.

Mobil berkelok-kelok, naik-turun, berliku-liku seperti kehidupan (halah). Dan akhirnya, kami mendaki Bukit Adz Dzikra. Kalian tahu tempat apa itu? Tentu saja itu adalah bukit! Memangnya apa lagi?

Di bukit itulah terdapat QIC (Qaddafy Islamic Center). Masjid Muammar. Rumah Ustadz Arifin Ilham. Itulah tempat itu, Kawan, jika kalian sungguh mau tahu. Kami hendak sholat asar. Bangunan masjid ini mirip Masjid Agung Jawa tengah yang ada di Semarang itu. Di masjid ini juga ada payung raksasa di depannya, menara tinggi di samping kanannya. Pokoknya mirip Masjid Agung Jawa Tengah. Di masjid itu karpetnya tebal, hampir setebal karpet Masjid Istiqlal Jakarta. Oya, jika mau ke Masjid Istiqlal naik kereta, kalian turun saja di Stasiun Juanda, trus jalan kaki, dan sampai tuh.

Di dekat tempat imam QIC itulah terdapat Al Qur’an Raksasa, lebar dan panjangnya sekitar 1 meter. Subhanallah. Dimana ya belinya? Siapa ya yang bikin? Otak kecilku berpikir. Ah, kelamaan mikir, akhirnya kuputuskan untuk photo-photo sajalah (weleh narsisnya kumat). Jujur (nggak bohong), aku kagum dengan masjid ini, karpet tebal, angin semilir di lantai dua (seperti Masjid Nurul Huda UNS), nyaman sekali buat tidur!

Tak lama-lama kami disana, seusai photo-photo itu, aku dan Rekan Firman photo-photo lagi (hehe). Kali ini mengambil tempat di papan nama depan yang super besar itu. “Mengabadikan jejak”, itulah bahasa puitisnya.

Akhirnya kami pulang. Tapi cerita belum selesai. Inilah tempat terakhir yang kukunjungi. Setelah mobil kembali ke base camp. Tempat ini adalah tempat paling spektakuler dimana kita bisa belajar berbagai bisnis. Di tempat ini kita bisa mengetahui beragam karakter manusia dari kecil sampai bau tanah. Di tempat ini kita bisa mengambill banyak ibrah. Di tempat ini kita bisa memanjakan keinginan dan kebutuhan kita. Tempat itu adalah : Pasar Induk Tradisional Jambu Dua🙂. Yah, inilah tempat terakhir-ku sebelum kembali ke markas besar. Beli sawi, cabe, tomat, sayap ayam, kol, tempe, pepaya, dan lainnya. Kami pun pulang dengan sangat elegan melewati trotoar hingga sampai di markas besar. Satu hal unik yang kudapati di pasar itu, aku sampai heran. Yaitu aku meliihat bagaimana jurus sakti seorang penjual lele dan ikan nila mem-bhethet-i hewan-hewan cantik itu. Ternyata caranya sungguh sadis. Lele dan ikan nila itu lehernya di patahkan, ditekuk ke bawah sampai bunyi krek. Lalu dari lehernya dirogoh dan diambil jeroannya. Sungguh mengerikan hewan malang itu tewas dengan cara yang sadis.

Itulah akhir perjalananku yang sungguh mempesona (hayah).
Sampai jumpa di perjalanan-perjalanan yang lain.

One Response to BUKIT ADZ DZIKRA

  1. Spot on with this write-up, I truly think this website needs a lot more attention.
    I’ll probably be returning to see more, thanks for the advice!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: