AKU, ANGKOT DAN KERETA EKONOMI

Aku suka naik angkot. Aku juga suka naik kereta ekonomi. Kedua kendaraan umum itu adalah favoritku. Hanya ada satu alasan mengapa aku menjadikan mereka kendaraan favoritku : karena aku tak punya motor. Sangat simpel sekali alasannya.

 

Hari selasa kemarin, tepat tahun baru Hijriyah, tanggal 1 Muharram 1432 H, aku berkelana dengan dua kendaraan favoritku tersebut. Tujuannya : rumah kakaku di Bojong. Aku sebenarnya tidak suka curhat seperti ini, tapi ya daripada ndak ada kerjaan, yah tulis aja. Aku juga nggak berharap ada yang membaca tulisan ini. Aku juga tak berharap ada yang coment. Kalaupun ada, ya itu mungkin sudah menjadi takdir Ilahi (halah).

Pertama-tama, keluar dari rumah kontrakan tercinta, maka aku harus jalan kaki dulu 10-15 menit menuju Warung Jambu (yang ada Ramayana-nya), sekalian mengambil jahitan baju koko putih di tempat penjahit. Sedikit cerita tentang baju koko itu, baju tersebut pemberian Mas Rizky (yang gendut..hehe peace mas!), ukurannya L. Beliau ndak muat, jadi diserahkan padaku. Setelah kucoba ternyata aku juga kedodoran (mungkin aku terlalu kurus kali ya). Hanya terlalu lebar sebenarnya. Maka aku mempersempit ukuran baju itu ke penjahit. Biayanya 15 ribu (lumayan mahal ya, padahal kalau kuserahkan ke kakak iparku, gratis tuh).

 

Lanjut aku menuju depan Ramayana, dimana disana sudah nangkring kendaraan kebesaranku : Angkot Hijau nomor 07. Wah, kalau saja ada kesebelasan sepak bola antar angkot, aku yakin angkot ini menempati posisi sayap kanan. Mulailah perjalanan itu. Melewati jalan-jalan raya (ya iyalah), melintasi Istana Bogor, dan akhirnya tibalah saatnya di Stasiun Bogor. Sebelum masuk beli tiket, aku mampir dulu di pasar stasiun. Beli remote serba guna (soalnya TV di rumah remotenya rusak) dan juga beli novel karya Tere Liye : Burlian. Remote dari harga 40 ribu kutawar kena 25 ribu. Novel Burlian dari harga 35 ribu kena 30 ribu. Total penghematan 20 ribu. Lumayan.

 

Aku lalu menuju loket, membeli tiket kereta ekonomi. Juga hanya ada satu alasan mengapa aku memilih kereta ekonomi : murah sekali. Cuma 2 ribu. Aku naik (ya iyalah masak turun). Dan disinilah pelajaran hidup, ibrah, dan memaknai kehidupan, mensyukuri hidup sangat terasa.

 

Aku duduk di gerbong paling belakang. Dan disana, Ya Allah, banyak sekali orang yang hidupnya –menurutku- lebih susah daripada aku. Jika Kawan hendak berniat naik kereta ekonomi, aku sarankan banyak-banyak sediakan uang pecahan. Ini sekaligus bisa dijadikan ladang sedekah. Karena, boleh percaya boleh tidak, banyak sekali pengemis dan pengamen yang mayoritas cacat fisiknya. Ada yang buta, ada yang jalannya ngesot, ada yang tubuhnya tidak sempurna, ada pengamen yang membawa bayi-bayi kecil mereka. Maka, pelajaran yang dapat diambil adalah : jika melihat dunia, lihatlah orang-orang di bawahmu!

 

Ada satu kejadian tak menyenangkan saat aku naik kereta kemarin. Ada copet! Kurang ajar sekali copet itu! Aku menduga pasti dia belum bisa baca Al Qur’an! Dan dia berada digerbong dimana aku duduk. Jadi, ketika kereta berhenti di stasiun Cilembu dan ketika kereta hendak jalan lagi, saat itulah copet beraksi lalu meloncat turun dari kereta. Aku kasihan sekali pada korban pencopetan itu. Tapi aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya menarik nafas dalam-dalam. Aku berdoa semoga copet itu segera bertaubat.

 

Kereta jalan lagi. Stasiun Bojong adalah pemberhentian kedua dari stasiun Bogor. Jadi jalurnya Stasiun Bogor – Stasiun Cilembu – Stasiun Bojong. Nah, karena tadi aku naik, sekarang aku turun dari kereta. Aku mencari ojek dan dengan penuh konsentrasi aku bilang ke tukang ojeknya, “Blok GF ya Pak. Lima ribu kan?” Sang tukang ojek pun mengangguk takzim.

 

Motor pun berjalan melewati jalan-jalan yang tergenang air karena banyak sekali jalan yang rusak. Dan kira-kira 10 menit kemudian tibalah aku di rumah kakakku. Bertemu istrinya kakaku dan dua anaknya (yang semuanya gendut-gendut…lucu sekali..hehe).

 

Ceritanya, di rumah kakakku itu ada arisan keluarga. Keluarga dari pihak istrinya yang orang Padang. Tak berapa lama, tibalah rombongan keluarga dari jauh-jauh itu. Kebanyakan sih mereka tinggal di Jakarta. Orang-orang metropolitan. Tapi ada satu dua yang ternyata asalnya tak jauh dari kampung halamanku, asal mereka dari Wonogiri. Belakang RSUD katanya. Ealah. Tapi diam-diam aku salut dengan orang Wonogiri. Pemilik rumah kontrakan yang kutempati adalah orang Wonogiri, tepatnya daerah Batu. Kontraktor yang sekarang mengerjakan proyek di tempatku bekerja, juga orang Wonogiri. Memang, kuakui mereka adalah orang-orang pekerja keras dan pengusaha sukses. Patut dicontoh.

 

Acara arisan di rumah kakakku ternyata sederhana sekali. Tidak seperti di rumahku. Disini tak ada acara seremonial resmi pembukaan, sambutan-sambutan, acara inti, penutup. Acaranya cuma datang, bayar arisan, makan, ngobrol-ngobrol trus pulang. Simpel sekali.

 

Es teler, grontol jagung, rempeyek kacang, bakso, itulah menu yang kumakan kemarin. Lumayan, makan gratis..hoho. Satu hal yang kuamati dari para rombongan keluarga arisan itu. Memang sih, yang kuamati adalah masalah dunia, tapi tak mengapa. Mereka boleh dibilang orang-orang sukses. Ada yang anaknya kuliah S2 di Australia. Ah, bicara tentang Australia, aku jadi ingat janjiku yang kubuat dengan Dik SRI tentang impian menuju Australia selepas kuliah. Semoga suatu saat. Ada lagi yang punya mobil 4 katanya. Dari segi dunia, kurasa mereka sudah sukses. Semoga dari sisi akhirat juga demikian.

 

Akhirnya, bakda magrib aku pulang. Aku pun juga kembali menaiki kendaraan kebesaranku : angkot. Tapi kali ini warnanya bukan hijau, tapi biru. Nomornya pun bukan 07, tapi 32. dari rumah kakakku naik motor dulu turun di Gaperi 2, barulah naik angkot 32. Dari angkot turun di Talang. Nah setelah itu turun lagi, cari angkot hijau nomor 08 turun di Warung Jambu. Setelah turun, aku mampir dulu di Indomaret beli Rexona dan Sari Roti (halah, cerita ini sebenarnya nggak penting). Cerita belum selesai, aku harus naik angkot lagi, kali ini nomornya 08 A, turun di depan rumah kontrakan. Aku tiba di rumah, membuka pintu lalu kulihat di layar televisi, tepat sekali saat itu, layar TV menunjukkan Tim Merah Putih sedang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Garuda Di Dadaku! HIDUP INDONESIA!

 

Itulah sekelumit curhat hari selasa kemarin.

Bagi yang sempat-sempatnya membaca tulisan ini, kuucapkan Selamat Tahun Baru 1432 H. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Mari jadikan tahun ini sebagai ajang untuk merevolusi diri, ajang memperbaiki diri. Man Jadda Wa Jada!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: