LINTANG

PAGI ini Lintang terlambat masuk kelas. Kami tercengang mendengar ceritanya.

“Aku tak bisa melintas. Seekor buaya sebesar pohon kelapa tak mau beranjak, menghalang di tengah jalan. Tak ada siapa-siapa yang bisa kumintai bantuan. Aku hanya berdiri mematung, berbicara dengan diriku sendiri.”

***

Bukan baru sekali itu Lintang dihadang buaya dalam perjalanan ke sekolah. Dapat dikatakan tak jarang Lintang mempertaruhkan nyawa demi menempuh pendidikan, namun tak sehari pun ia pernah membolos. 80 kilometer pulang pergi ditempuhnya dengan sepeda setiap hari. Tak pernah mengeluh. Jika ada kegiatan sekolah berlangsung sampai sore, ia akan tiba malam hari dirumahnya. Sering aku merasa ngeri membayangkan perjalanannya.

Kesulitan itu belum termasuk jalan yang tergenang air, ban sepeda yang bocor, dan musim hujan berkepanjangan dengan petir yang menyambar-nyambar. Suatu hari rantai sepedanya putus dan tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek sebab terlalu sering putus, tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan kilometer dan sampai di sekolah kami sudah bersiap-siap akan pulang. Saat itu adalah pelajaran seni suara dan dia begitu bahagia karena masih sempat menyanyikan lagu Padamu Negeri di depan kelas. Kami termenung mendengarkan ia bernyanyi dengan sepenuh jiwa, tak tampak kelelahan di matanya yang berbinar jenaka. Setelah itu ia pulang dengan menuntun sepedanya lagi sejauh 40 kilometer.

Pada musim hujan lebat yang bisa mengubah jalan menjadi sungai, menggenangi daratan dengan air setinggi dada, membuat guruh dan halilintar membabat pohon kelapa hingga tumbang bergelimpangan terbelah dua, pada musim panas yang begitu terik hingga alam memuai ingin meledak, pada musim badai yang membuat hasil laut nihil hingga berbulan-bulan semua orang tak punya uang sepeser pun, pada musim buaya berkembang biak sehingga mereka menjadi semakin ganas, pada musim angin barat putting beliung, pada musim demam, pada musim sampar –sehari pun Lintang tak pernah bolos.

Dulu ayahnya pernah mengira putranya itu akan takluk pada minggu-minggu pertama sekolah dan prasangka itu terbukti keliru. Hari demi hari SEMANGAT Lintang bukan semakin pudar tapi malah MEROKET karena ia sangat mencintai sekolah, mencintai teman-temannya, menyukai persahabatan kami yang mengasyikkan dan mulai kecanduan pada daya tarik rahasia-rahasia ilmu.

Jika tiba di rumah ia tak langsung beristirahat melainkan segera bergabung dengan anak-anak seusia dikampungnya untuk bekerja sebagai KULI KOPRA. Itulah penghasilan sampingan keluarganya dan juga sebagai kompensasi terbebasnya ia dari pekerjaan di laut serta ganjaran yang ia dapat dari “kemewahan” bersekolah.

Ayahnya, yang seperti orang Bushman itu, sekarang menganggap keputusan menyekolahkan Lintang adalah keputusan yang tepat, paling tidak, ia senang melihat semangat anaknya menggelegak. Ia berharap suatu waktu di masa depan nanti Lintang mampu menyekolahkan 5 orang adik-adiknya yang lahir setahun sekali sehingga berderet-deret rapat seperti pagar. Dan lebih dari itu ia berharap Lintang dapat mengeluarkan mereka dari lingkaran kemiskinan yang telah lama mengikat mereka hingga sulit bernapas.

Maka ia sekuat tenaga mendukung pendidikan Lintang dengan cara-caranya sendiri, sejauh kemampuannya. Ketika kelas satu dulu pernah Lintang menanyakan pada ayahnya sebuah persoalan pekerjaan rumah, kali-kalian sederhana dalam mata pelajaran berhitung.

“Kemarilah Ayahanda…berapa empat kali empat?”

Ayahnya yang buta huruf hilir mudik. Memandang jauh ke laut luas melalui jendela, lalu ketika Lintang lengah ia diam-diam menyelinap keluar melalui pintu belakang. Ia meloncat dari rumah panggungnya dan tanpa diketahui Lintang ia berlari sekencang-kencangnya menerabas ilalang. Laki-laki cemara angin itu berlari pontang-panting sederas pelanduk untuk minta bantuan orang-orang di kantor desa. Lalu secepat kilat pula ia menyelinap ke dalam rumah dan tiba-tiba sudah berada di depan Lintang.

“Em…emm…empat belas…bujangku…tak diragukan lagi empat belas…tak lebih tak kurang…,” jawab beliau sambil tersengal-sengal kehabisan napas tapi juga tersenyum lebar riang gembira. Lintang menatap mata ayahnya dalam-dalam, rasa ngilu menyelinap dalam hatinya yang masih belia, rasa ngilu yang mengikrarkan nazar AKU HARUS JADI MANUSIA PINTAR! Karena Lintang tahu, jawaban itu bukan datang dari ayahnya.

Ayahnya bahkan telah salah mengutip jawaban pegawai kantor pegawai desa. Enam belas, itulah seharusnya jawabannya, tapi yang diingat ayahnya selalu hanya angka empat belas, yaitu jumlah nyawa yang ditanggungnya setiap hari.

Setelah itu Lintang tak pernah lagi minta bantuan ayahnya. Mereka tak pernah membahas kejadian itu. Ayahnya diam-diam maklum dan mendukung Lintang dengan cara lain, yakni memberikan padanya sebuah sepeda laki bermerk Rally Robinson, made in England. Sepeda laki adalah sebutan orang Melayu untuk sepeda yang biasa dipakai kaum lelaki. Berbeda dengan sepeda bini, sepeda laki lebih tinggi, ukurannya panjang, sadelnya lebar, keriningannya lebih maskulin, dan di bagian tengahnya  terdapat batang besi besar yang tersambung antara sadel dan setang. Sepeda ini adalah warisan keluarga turun-temurun dan beda satu-satunya yang paling berharga di rumah mereka.

Lintang menaiki sepeda itu dengan terseok-seok. Kakinya yang pendek menyebabkan ia tidak bisa duduk di sadel, melainkan di atas batang sepeda, dengan ujung-ujung jari kaki menjangkau-jangkau pedal. Ia akan beringsut-ingsut dan terlonjak-lonjak hebat di atas batangan besi itu sambil menggigit bibirnya, mengumpulkan tenaga.

Demikian perjuangannya mengayuh sepeda pulang dan pergi ke sekolah, 80 kilometer setiap hari.

– Mari Belajar! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: