AKU, IKAL, A LING DAN SEPEDA

Kawan, pernahkah kawan memboncengkan teman lawan jenis naik sepeda? Aku pernah.

Jika kawan pernah mengkhatamkan membaca tetralogi Laskar Pelangi dan Dwilogi Padang Bulan, maka disana, dalam buku itu, akan banyak kawan temui cerita tentang Ikal, tokoh utama dalam cerita itu, memboncengkan A Ling, cinta pertamanya saat SD (bahkan cinta sampai dewasa), naik sepeda, berkeliling pasar ikan, dermaga, menuju komidi putar ataupun menyusuri Sungai Linggang. Romantis sekali kedengarannya.

Aku pun pernah. Kelas 2 SMP.

Hebat benar waktu itu. Sepeda federal-ku, waktu mau pulang sekolah, ternyata mengalami accident. Terpaksalah akhirnya, aku menitipkannya di rumah wali kelasku, namanya Bu Kadar, rumahnya di belakang SMP-ku.

Dan sebagai alternatif, jalan keluar yang mungkin hanya satu-satunya, karena hari sudah semakin senja, walaupun agak malu-malu waktu itu, akhirnya aku mau juga. Berboncengan dengan temanku, wanita. Namanya Marista Elly Putri Ayu Ningrum, tak boleh disingkat.

Aih, dua anak kecil segaram biru putih boncengan naik sepeda jengki warna biru sepulang sekolah diterpa semburat senja yang hampir tumbang di ufuk barat sana. Sungguh mengesankan.

Perlu kuinfokan pada kawan bahwa, si Marista ini, rumahnya searah denganku. Rumahnya lebih dekat, rumahku lebih jauh. Jadi, kalau berangkat sekolah, pastilah aku melewati rumahnya, rumahnya dia kulewati.

Jadilah kami waktu itu, berboncengan. Tentu saja aku yang di depan memboncengkan. Andai boleh sedikit menggombal, maka cerita ini akan lebih menarik, seru dan dramatis jika dibuat seperti ini :

Sore itu aku memboncengkannya. Aku bersiul-siul sambil mengayuh sepeda. Di pertengahan jalan, Marista mengajak berhenti di warung untuk membeli es cendol kesukaannya. Aku tak beli, karena tak punya uang. Marista pun tak menawariku, dikiranya aku tidak haus. Tak punya perasaan sama sekali.

Kami melanjutkan perjalanan naik sepeda. Aku tetap bersiul-siul untuk melupakan rasa haus. Sedang Marista menikmati es cendolnya. Jika di film-kan, maka adegan dalam scene ini kutebak pasti diiringi backsong lagu “Badai Pasti Berlalu”. Atau jika dibuat di India, pasti lagunya adalah “Kuch-Kuch Hota Hai”. Dibuat slow motion pula. Sadis.

Lalu, mendadak, backsong berubah menjadi lagu “Maju Tak Gentar” karena ternyata di belakang ada anjing besar yang mengejar kami. Anjing kudisan pula. Marista terperanjat, kaget bukan kepalang. Ia lalu menggaplok pinggangku, mencengkeramnya sekuat tenaga. Aku pun tak kalah terperanjat. Bukan apa-apa, lebih karena ia mencengkeram bagian tubuh paling sensitif nomor 2 dari seorang laki-laki lajang, dimana di bagian itulah berkumpul syaraf-syaraf geli. Aku refleks. Kukibaskan tanganku ke belakang saking terkejutnya. Dan, kalian tahu Kawan, sikutku tepat mendarat di matanya Marista, sebelah kiri. Ia tergampar. Jatuh terkapar dari boncengan sepeda. Malang sekali nasibnya.

Backsong berubah menjadi “Helly Guk..Guk..Guk”.

Aku terkesiap. Menyadari bahwa Marista terpelanting dari boncengan sepeda. Aku menghentikan sepeda dengan gagahnya. Marista sudah girap-girap karena ternyata es cendolnya sudah dicabik-cabik oleh si anjing kudisan. Sungguh, anjing itu tak punya moral sama sekali. Kurang ajar betul!

Aku bimbang antara harus menolong Marista ataukah tidak. Kalau menolong, buat apa coba, tadi Marista tidak menawariku es cendolnya padahal aku haus benar. Kalau sekarang es cendolnya dicabik anjing, rasakan itu Mar! Tahu rasa kau! Kualat! Tapi di sebelah kananku, tiba-tiba ada sesosok putih dengan lingkaran kuning di atas kepalanya. Wajahnya mirip denganku, hanya saja ia lebih ganteng, agak gondrong, rambutnya dikuncir di belakang seperti Stephen Chow dalam film Shaolin Soccer, keren sekali.

Ia berbisik, “Wahai Lajang! Dimana letak budi pekertimu! Kau tega melihat ketidakadilan dan keangkara-murkaan terjadi di depan jidatmu, hah!? Malu kau pada Kak Seto!” Aku dimarahinya.

Aku tersadar. Lalu aku berlari. Bukan ke arah anjing atau Marista, tapi aku berlari ke warung es cendol yang tadi. Aku terengah-engah. Melihatku terengah begitu, tukang es cendol pun juga tak menawariku es cendol sama sekali. Ternyata ia juga tak punya perasaan.

Aku tak ambil tempo. Langsung kubilang, “Pak..an..anj..anjing!” aku masih sulit mengatur nafas. Langsung kutunjuk saja anjing kudisan yang sedang menikmati segarnya es cendol itu. Rupanya, tukang es cendol marah besar. Ia tak terima hasil karya terbaiknya disantap anjing kudisan. Ia berlarian menggenggam sebonggol kayu besar. Si anjing kudisan menoleh. Sorot matanya tajam. Ia mengejek tukang es cendol dengan tatapan sinis. Tukang cendol tak terima. Tukang cendol menambah kecepatan larinya.

Sampai disini, backsong berubah menjadi “Jangan Menyerah”. D’Masiv.

Anjing kudisan tak bergeming. Tatapan matanya semakin tajam. “Sini kau tukang cendol tengik! Aku tak takut!” pasti begitulah kata anjing itu. Hebat sekali adegan scene itu. Sedangkan Marista, ia kelihatan sangat shock. Tatapan matanya kosong. Ia tak bergerak seperti orang kesurupan saja. Sungguh mendebarkan.

Kayu yang dipegang tukang cendol itu dilemparkan tepat ke arah anjing kudisan. Menegangkan sekali.

“Mati kau, Dot!” kata tukang cendol. Kawan, ternyata anjing itu namanya Dodot.

“Tak kena, Kar! Wek Wek Wek!! Kasihan deh lu!” kata Dodot. Nama tukang cendol itu adalah Muhakar, Kawan.

Si anjing dapat menghindar. Adegan ini slow motion dengan efek seperti di film “The Matrix” atau kalau di India seperti di film “Main Hoon Na”. Anjing itu berhasil menghindari kayu bonggol lewat selangkangannya. Kurasa, anjing itu sudah belajar main anggar sejak kecil hingga lincah begitu.

Namun, sungguh tak dinyana, sebuah pukulan menghempas pelipis Dodot. Dan genggaman tangan itu adalah milik Marista! Dodot terpelanting jauh. Terkapar di pinggir aspal. Dodot juga tak ambil tempo. Ia lari terkencing-kencing. Ia pasti kaget kena pukul Marista.

Backsong berubah menjadi “We Are The Champion”. Queen.

Aku mengambil sepeda jengki biru lalu menghampiri Marista. Mencoba menenangkannya. “Sudahlah Mar, jangan kau sesali es cendolmu. Memang beginilah hidup. Kadang-kadang sangat kejam dan mengerikan. Yuk kita pulang, ibumu pasti sangat cemas dan merindukan kepulanganmu,” kataku mencoba menghiburnya semampuku. Marista mengangguk penuh takzim seolah aku ini adalah malaikat penolongnya.

Aku telah siap dengan sepeda, duduk di depan. Marista telah siap pula duduk di boncengan belakang sambil memegang plastik bungkus es cendol. Kutanya kenapa ia membawanya padahal isinya sudah habis disikat Dodot, ia jawab, “Dendam ini harus dibalaskan, Boi! Sampai Hari Kiamat!” Sungguh, aku merinding mendengarnya.

Pelajaran moral nomor dua puluh satu : jangan pernah sekali-kali kalian menyakiti wanita. Jika sudah tersakiti, kadang-kadang wanita bisa berubah menjadi sangat mengerikan seperti setan yang kerasukan manusia.

Aku kembali menggenjot sepeda. Aku tetap bersiul-siul. Tapi kali ini siulanku berirama lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Merdeka atau Mati! Hatiku menggebu-gebu. Hari itu aku bagai Pahlawan Kemerdekaan.

Begitulah, Kawan, jika aku boleh sedikit berandai dan menggombal. Sungguh dramatis bukan? Kadang, kuberitahukan pada kalian, bahwa menggombal itu sungguh dahsyat. Maka hati-hatilah pada laki-laki yang suka menggombal, apalagi wanita penggombal, ia lebih berbahaya. Tapi Kawan, nyatanya bukan begitu kejadiannya, tapi seperti inilah fakta yang sesungguhnya pada hari itu :

Di tengah jalan, aku ingat waktu itu. Biasalah kalau orang-orang kurang kerjaan duduk-duduk nongkrong di pinggir jalan lalu melihat dua orang lajang berboncengan, dapat dipastikan apa yang mereka lakukan. Mereka menggoda kami. Tentulah Kawan lebih mafhum godaan apa yang kumaksud. Aku hanya diam, menunduk, lalu sekuat tenaga mengayuh sepeda agak cepat sampai rumah. Marista turun di rumahnya, sepedanya kubawa sampai rumahku. Sorenya, aku dan teman-tetanggaku naik motor, mengambil sepedaku di rumah Bu Kadar, menaruhnya di bengkel, sekalian mengembalikan sepeda jengki-nya Marista.

NB : Jika kalian ingin berkenalan dengan Marista, itu orangnya tak tag paling awal. Sekarang dia sudah memiliki bayi lucu berumur 10 bulan, namanya Bian. OK Kawan, semoga kalian SUKSES! Amin

Sabt, 2 Syawal 1431 H

SALAM TAKZIM

-suly-

http://suliwe.co.nr/

3 Responses to AKU, IKAL, A LING DAN SEPEDA

  1. ermaynee says:

    teringat A ling dengan siapa tu mas yg dilaskar pelangi😀 , beli kapur dengan bersepeda berpuluh2 kilometer.hhoho..

  2. suliwe says:

    100 untukmu dek🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: