UMMIY

Ramadhan, tanggal 29 tahun 1431. Sore. Masih dalam rangka menyelesaikan misi membaca “Cinta Di Dalam Gelas” aku duduk di beranda depan rumah. Kakakku datang, ipar. Bilang bahwa ia mencari tempat dimana bisa membeli buku Al Misbah-nya Ustadz Quraish Shihab. Katanya mencari di Goro AsSalam tak ada. Kusarankan padanya agar mencari di Gramedia. Kalau tak ada, kuminta agar ia memesan ke kasir dulu saja.

Ini juga kusarankan pada kalian Kawan, bahwa jika seandainya kalian pada suatu hari jalan-jalan ke toko buku, mau membeli buku, tapi buku yang kalian cari tidak ada, maka pesanlah saja dulu ke kasirnya.

Nah, tentang Al Misbah tadi, kakakku itu bilang bahwa kajian yang disampaikan Ustadz Quraish Shihab “menguak” hal-hal yang tidak diungkapkan pada kajian-kajian semacam yang lain. Aku manggut-manggut saja, pura-pura paham. Dan aku memang paham maksudnya. Salah satu yang diceritakan kakakku dari yang ia dengar dari kajian Al Misbah adalah tentang Baginda Nabi yang memiliki sifat Ummiy (pakai huruf ‘y’ biar tidak mirip nama orang :D). Kalian sudah tahu artinya kan?

Ya, ummiy itu artinya buta huruf, tidak bisa baca tulis. Sampai detik 29 Ramadhan 1431 sore itu, kalau mendengar kata “buta huruf”, jujur persepsiku adalah sama seperti kita masih kecil dulu yang belum bisa membaca tulisan kapur di papan tulis SD yang bunyinya “Ini Budi” atau “Ini Ibu Budi” atau paling banter “Ini Bapak Budi”. Semoga persepsi kalian tidak sama denganku. Amin

Baru setelah aku diceritakan kakaku itu, tentang ummiy yang sesungguhnya, dari yang ia pelajari dari Al Misbah, persepsiku berubah. Terkuaklah rahasia fenomena yang LUAR BIASA ITU! (hiperbolis banget bahasanya kayake)

Kawan, kalau aku bilang begini, “Si Fulan buta huruf lho, dia kagak bisa baca, apalagi nulis!”. Aku menebak, pasti dalam benak kalian, muncul suatu fikiran buruk bin sadis seperti ini : “Ihh, si Fulan goblok banget sih, hare gene ga bisa baca tulis! Tahun 2o1o getho lohh!! Orang model begituan buang ke laut aje!!”

Begitu kah?? Kuharap TIDAK! Itu suudzon namanya, Kawan. Dan perlu kalian ketahui, suudzon itu tak baik bagi kesehatan hati.

Nah, bagaimana dengan Baginda Nabi yang juga tak bisa BACA TULIS? Apakah kalian akan mengatai seperti itu? Kuharap JANGAN. Bisa kualat kalian nanti.

Nah, sekarang aku mau tanya, apakah orang yang sudah bisa MEMBACA dan MENULIS itu dikatakan PINTAR? Belum Tentu.

Sebenarnya, apa tujuan kita MENULIS? Salah satu tujuannya adalah agar ilmu yang telah didapat TIDAK LEPAS, alias TIDAK LUPA. Kalau kalian sadari, justru itulah KELEMAHAN kita, Kawan! Kita masih menggunakan media TULISAN untuk membantu kinerja OTAK kita.

Sedangkan Baginda Nabi? Beliau yang Agung, TIDAK BUTUH itu semua! Beliau CERDAS! Ingatan beliau sangatlah KUAT! Beliau itu JENIUS! Hingga tak butuh lagi MENULISKAN hal-hal yang telah beliau dapatkan. Semuanya sudah TEREKAM dalam otak beliau yang maha dahsyat itu. Bahkan segala ilmu yang beliau dapatkan itu, beliau dapat TANPA MEMBACA, karena memang beliau TIDAK BISA MEMBACA.

Kita yang LEMAH ini, untuk mendapatkan ilmu, di kuliah ataupun sekolah misalnya, MUSTAHIL kita bisa dapat IP 3, tanpa MEMBACA dan MENULIS! Nonsen (moga tulisane bener)! Mustahil!!hil..hil!! Impossible! Kalau kita masih BUTUH membaca ataupun menulis, itu artinya kita ini masih GOBLOK! (maaf, terlalu kasar ya? Ya sudah kuganti dengan kata GEBLEK saja. Malah lebih kasar kedengarannya. Pakai kata STUPID saja biar lebih halus, dan yang ga mudeng bahasa Inggris biar ga tahu artinya).

Baginda Nabi Muhammad yang Agung yang memiliki sifat UMMIY itu, Kawan, sesungguhnya adalah manusia cerdas tiada banding. Jangan kalian sangka kalau ga bisa baca tulis itu artinya adalah orang yang bodoh, justru sebaliknya. Kan, kita sama-sama tahu, sejak kecil waktu kita TPA dulu, guru ngaji kita mengajari bahwa salah satu sifat wajib Rasullullah adalah FATHONAH yang artinya CERDAS.

Maka, Kawan, kusarankan, jika nanti kalian punya anak, biar pintar, berilah nama anak kalian itu dengan nama “Fathonah”. Kalau laki-laki, bolehlah kalian beri nama “Fathoni”. Dan, Kawan, ini yang harus kalian camkan baik-baik, jangan sekali-kali kalian memberi nama anak perempuan kalian dengan nama “Syaithonah”, dan anak laki-laki kalian jangan diberi nama “Syaithoni”. Sungguh, itu adalah kedzaliman yang nyata. Itu sungguh tidak berperikemanusiaan. Bisa-bisa kaum syetan marah besar. Hati-hatilah, Kawan. Camkan nasihatku itu baik-baik. Semoga sukses!

CATATAN :

Bagi Kawan yang membaca notes ini SEBELUM hari raya Idul Fitri 1431 H, maka kuucapkan Minal Aidzin Wal Faidzin. Maaf lahir batin. Semoga Allah menerima puasa kita, dan semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan. Amin.

Bagi Kawan yang membaca notes ini SETELAH hari raya Idul Fitri 1431 H, maka kuucapkan Minal Aidzin Wal Faidzin. Maaf lahir batin. Semoga Allah menerima puasa kita, dan semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan. Amin.

Untuk Kawan yang belum sempat tak tag, silahkan tag sendiri saja ya.

SALAM

htpp://suliwe.co.nr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: