LANGIT TAK MENDENGAR : ANTARA AKU DAN ARIEL PETERPAN

Kalian pernah merokok?

Aku pernah. Dulu waktu kecil, waktu belum hafal surat Al Bayyinah. Tentu saja dari puntung-puntung bekas. Benar-benar kurang kerjaan. Kurang ajar betul! Kalau tak ada puntung, biasanya aku dan teman-temanku mencari akar  Pohon Sintrun namanya kalau nggak salah. Rasanya pun pasti tak karuan. Namanya juga anak kecil. Semakin dilarang, semakin penasaran.

Kalian pernah mencuri?

Aku pernah. Dulu waktu kecil. Aku pernah nyolong melon tetangga. Sebenarnya bukan aku yang menyabet melon itu dengan arit, melainkan temanku lah yang melakukannya, tapi aku juga ikut menikmati hasil colongan itu. Modusnya sederhana sekali. Kami pura-pura mencari rumput (ngarit) di pematang sawah. Tentu saja sawah yang ditanami melon. Ups, ternyata arit temanku menyabet pucuk melon DENGAN SENGAJA. Lalu kami jatuhkan dan tenggelamkan melon itu di parit sambil liat kanan-kiri membaca situasi, memastikannya agar aman. Setelah aman, barulah kami menyantapnya tanpa merasa berdosa (harap maklum, waktu itu aku belum hafal surat Al Ghosiyah).

Pernah juga aku (dan teman-temanku) nyolong tebu Pak Mandor. Hujan deras, kami kepergok. Maka diuber-uberlah kami, diteriaki maling. Benar-benar sinting. Kami lari masuk ke ladang tebu. Untung mandor itu tidak mengejar kami ke tengah ladang tebu. Kalau ketangkap, mampuslah kami. Waktu itu aku menangis karena ketakutan. Wajar kan, aku kan masih kecil. Baru menjelang magrib kami bisa lolos dari sergapan Pak Mandor.

Nyolong ayam pun juga pernah. Sembarang lah pokoknya. Bahkan aku dan teman-temanku pernah membuat panah mainan, dan ternyata bisa jadi sungguhan. Kami memanah pantat menthok tetangga, dan tepat! Sialnya, menthok itu tak mati, BELIAU malah lari terbirit-birit dengan anak panah masih menancap di pantatnya. Kami kehilangan jejaknya. Pasti sakit sekali. Kasihan sekali BELIAU itu…

Perkara kejahatan masa kecil seperti semacamnya itu, dulu pernah kulakukan.

Lulus SMA…

Dulu, waktu lulus SMA, aku pernah punya sebuah keinginan. Tentu saja keinginan yang terdengar sinting. Terinspirasi film Shaolin Soccer, nanti kalau aku kuliah aku ingin gondrong! Rambutku akan kukuncir layaknya Stephen Chow dalam film itu. Ah, pasti akan kelihatan keren sekali. Lalu, selain gondrong, aku juga ingin menjadi seorang drummer grup band. Kalau yang ini, aku terinspirasi drummernya Dewa. Membayangkan aku yang gondrong dikuncir, memegang stick drum, pasti keren tiada banding. Aku senyum sendiri.

Tapi sialnya, hingga kini keinginan itu tak pernah terwujud. Aku sampai tak habis pikir kenapa jalan hidupku bisa begini. Padahal, jika ditilik dari pengalaman masa kecilku dulu, maka probabilitasku menjadi seorang drummer gondrong adalah 90 persen. Eh lha kok aku jadi begini.

Kalian pernah nonton konser?

Ah, kalian ini kayaknya tak pernah berbuat yang mengandung dosa ya? Dari lahir kalian sudah jadi orang baik ya? Bersyukurlah kalian dengan hidup kalian kalau begitu.

Bicara soal konser, dulu waktu awal-awal kuliah, waktu aku belum hafal surat At Thariq, aku suka sekali liat konser, tentu saja di GOR UNS. Ungu? Kalian tau kan? Yang vokalisnya bernama Pasha, yang habis cerai. Hebat sekali waktu itu. Dulu pembukaan konser sempat diawali dengan dangdut woyo-woyo, dengan penyanyi yang aduhai. Kurang ajar betul!

Dan, pertama kali aku nonton konser, adalah waktu konsernya Peterpan. Kalian tahu, kan? Walaupun sudah bubar sekarang. Vokalisnya Ariel, yang sekarang ndekem di penjara. Waktu itu aku berangkat bada magrib, takut kehabisan tiket. Beli tiket dapat rokok LA Light (keesokan paginya rokok ini kuberikan tetangga depan rumahku, niatnya pengen pamer, “Ndek bengi aku bar nonton konser, Nda!”). Lalu adzan isya berkumandang, tentu saja aku tidak berada di masjid, aku berada di lapangan. Siap-siap nonton konser.

Dan dimulailah konser itu.

Luar biasa Kawan, lapangan penuh. Sesak. Aku hampir tak bisa bergerak saking padatnya penonton. Begitu lagu demi lagu dilantunkan, dan ketika itu aku paling semangat ketika mendengar lagu Peterpan yang judulnya Langit Tak Mendengar, kami pun lonjak-lonjak, teriak-teriak, hura-hura, foya-foya, gila-gila, tanpa merasa berdosa. Sampai keringetan. Yang seru, adalah ketika semprotan air dari pipa semacam pemadam kebakaran disemprotkan ke arah penonton yang mulai gerah kepanasan. Kami jadi tambah semangat. Kami diguyur air, jadi segar. Aku ingat waktu itu, aku mepet sekali dengan mbak-mbak berkaus singlet hijau, lengan pendek. Tentu saja berdesak-desakan. Hampir tak bisa gerak. Bodoh sekali aku waktu itu. Bisa-bisanya aku berada disana.

Konser berakhir, aku sampai di rumah jam 1 malam. Dan Kawan, aku belum sholat isya! Tega sekali aku mengkhianati risalah Nabi Muhammad waktu itu.

Nah, Kawan, kadang aku memikirkan, andaikan waktu itu aku yang sedang berdesak-desakan waktu lihat konser akhirnya mati (misalnya karena jatuh lalu keinjek-injek penonton lain, karena di berita TV kan sering ada kejadian macam begitu, atau kesetrum listrik, atau dihajar preman, atau mungkin malah dihajar Takmir NH), aku mikir, akan masuk surga atau neraka-kah aku? Padahal aku juga belum sholat isya.

Konyol, benar-benar konyol waktu itu. Don’t try at anywhere, Kawan!

SALAM

http://suliwe.co.nr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: