BAGAIMANA IKHWAN MENDAPATKAN JODOHNYA

Bahasan yang cukup menarik. Mari kita kaji bareng-bareng, Kawan…

Ada beberapa mekanisme PENCARIAN CINTA (baca : istri) yang sering dipakai seorang yang mengaku dirinya ikhwan (baca : laki-laki muslim). Masih dalam buku “Membongkar Rahasia Ikhwan Nyebelin” :

1. Menerima Pilihan Orang Tua

Walah, dijodohkan??? Ini kan bukan jaman Siti Nurbaya! Masa sih dijodohin segala!
Idealnya, memang orang tualah yang harus mencarikan jodoh buat anaknya, terutama anak gadis. Untuk orang tua yang sangat perhatian dan peduli pada anaknya, mereka nggak segan menyodorkan calon pasangan.

Bagaimana reaksi si anak?
Ada yang menerima dengan lapang dada, banyak pula yang menolah mentah-mentah, pakai marah-marah lagi. Bagaimana sang anak menyikapi kebaikan orang tuanya ini? Jika calon yang disodorkan cocok, its no problemo. Lha kalau kagak? Ini baru masalah problemo.

Menolak? Tentu saja BOLEH. Hanya saja harus dengan cara yang baik dan tidak menyakiti hari orang tua. Nggak sedikit laki-laki menerima gadis pilihan orang tuanya. Mereka menikah dan hidup berbahagia selamanya. Ada yang memang sudah menyukai; mencintai calon istrinya sejak awal meskipun dijodohkan, ada pula yang menerima hanya karena patuh pada orang tua; tanpa cinta. Terkadang cinta memang harus diupayakan.

Adakah pasangan yang dijodohkan kurang bisa memahami, nggak srek dan bercerai? Mungkin ada, tapi yang langgeng adem ayem juga nggak kalah banyaknya.

2. Minta Dicarikan

Sebuah hadits riwayat Ibnu Atsir dan Ibnu Hajar mengisahkan seorang pemuda bernama ‘Ukaf. Ia termasuk laki-laki yang mampu tapi belum beristri, bahkan berniat membujang. Rasul menegurnya dengan keras, “…sungguh celakalah kamu wahai ‘Ukaf.” Lalu ‘Ukaf berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak akan menikah sebelum engkau yang menikahkan aku dengan seseorang yang engkau sukai.” Rasul bersabda, “Kalau begitu dengan nama Allah dan dengan berkah-Nya, aku nikahkan engkau dengan Kultsum Al-Humairi.”

Beberapa hal yang menyebabkan seorang laki-laki minta tolong dicarikan pasangan :

a. Minder

Banyak laki-laki yang nggak PD : pendidikan rendah, merasa jelek, miskin, tapi hidup. Inilah gunanya mediator.

b. Takut melamar karena perbedaan lingkungan dan tradisi

Si laki-laki takut perbedaan budaya dan tradisi menghambat proses pencariaannya.

c. Sibuk

Menurutku, ini orang kakean nggaya! Buang ke laut aje!

d. Lebih nyaman jika dicarikan

Ini orang yang nggak mau repot. Jadi kalau ada masalah apa-apa, biar sang mediator yang kena masalahnya🙂

3. Mencari Sendiri

Nggak salah jika seorang ikhwan mencari jodohnya sendiri. Ada landasan syar’inya, “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini) dalam hatimu…” (Al Baqarah : 235)

Selain itu, dalam HR Bukhari, “Abdurrahman Bin Auf berkata kepada Ummu Hakim, ‘Maukah kamu menyerahkan urusanmu padaku?’ Ia menjawab, ‘Baiklah’. Abdurrahman berkata, ‘Kalau begitu, baiklah kamu saya nikahi.” Rasulullah dan para sahabat nggak pernah mencela perbuatan Abdurrahman ini.

Bahkan seorang akhwat (baca : wanita muslim) pun, diperkenankan menawarkan dirinya sendiri pada ikhwan yang disenanginya. Masih ingat kan dengan seorang wanita yang mendatangi dan menawarkan diri pada Rasulullah? Namun, walaupun bebas mencari sendiri, ikhwan harus tetap menjaga adab.

Ada laki-laki yang buka cabang dimana-mana : dengan si A pendekatan, dengan si B penjajakan, dengan si C TTM-an, yang dinikahi malah si D. Wajar kalau laki-laki model beginian akhirnya mendapat sumpah serapah dari perempuan-perempuan yang pernah dekat dengannya. Cincang aja laki-laki beginian.

4. Menerima Tawaran

Pada masa Rasulullah, seorang laki-laki yang menerima tawaran menikah dari pihak perempuan dianggap bermartabat rendah. Padahal Islam memberikan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam mencari jodoh.

Hanya saja jika laki-laki bisa langsung melamar, maka perempuan dianjurkan memakai perempuan. Seperti ibunda Khadijah yang memakai jasa Nafisah binti Munabbih, dialah yang menyampaikan maksud Ibunda Khadijah, ingin menikah dengan Rasulullah.

====================================================================
“Banyak jalan menuju Roma, Satu jalan menuju surga, Empat jalan menuju mertua”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: