Kepada yang tercinta Nada Fatiha, Padang

Dalam sebuah riwayat dikatakan, ketika Ummu Darda’ ditanya tentang amalan apa yang paling banyak dilakukan Al-shohabi Al-jalil Abu Darda’ RA? Ummu Darda’ berkata: “Hal yang paling banyak dilakukan Abu Darda’ adalah bertafakkur dan menginstrospeksi diri”. Shahabi Abu Darda’ bisa duduk berjam-jam bertafakkur dan berzikir menghayati ciptaan Allah, dengan itu beliau mendapatkan ketenangan jiwa dan keimanan yang kuat, karena hanya dengan berfikir dan menganalisa alam kita bisa memperkuat Iman pada Allah. Sayyidina Umar RA berkata:

“Hitunglah amalanmu sebelum Dihitung (akhirat)”

Kita kan sama-sama tidak tahu kapan ajal datang menjemput, bisa saja sebelum atau sesudah membaca Surat ini kita disamperin malaikat maut, sebelum kita sempat bertaubat minta ampun pada Allah SWT. Rasulullah saw, bertaubat 100 kali setiap hari, beliau adalah orang pertama yang masuk surga, karena tidak akan dibuka pintu surga sebelum beliau masuk(al-hadist), tapi dengan jaminan itu beliau tetap bersyukur dan bertaubat 100 kali setiap hari! Bagaimana dengan kita wahai hamba Allah yang belum jelas juntrungannya?

Akhir-akhir ini saya sering berfikir, bertanya pada diri sendiri, apa yang telah kita lakukan selama ini? Mungkin bukan kita, tepatnya saya pribadi! Saya pergi jauh-jauh ke negeri para Rasul dan Aulia untuk belajar Ilmu Agama dan mencari siapa sebenarnya saya ini? Untuk apa saya ada disini? Padahal saya sudah tahu dan sadar sejak saya pertama kali membuka sampul Kitab Shahih Bukhari, bahwa Al-quran dan Al-hadist adalah suci dan dia tidak bisa di simpan di tempat yang kotor! Apalagi tong sampah! Dan saya merasa kan hati saya bagai tong sampah! Setelah hampir 2 tahun saya pergi mencari jati diri, belum ada perubahan kearah yang lebih baik yang saya dapatkan dalam diri saya! Apalagi harus menghafal dan mengamalkan seluruh isi kitab suci itu? Seakan itu semua impian yang jauh!!!Dan khayalan yang sia-sia!!!

Saya tidak akan menyalahkan kamu, saya tidak akan bertanya “Kenapa kamu hadir dalam hidup saya?” saya tidak akan pernah menyesali kenapa saya bertemu kamu? Karena saya sadar kamu adalah makhluk indah yang diciptakan Allah untuk mendampingi saya, meskipun Cuma 1 malam dalam mimpi, dan saya sadar kamu adalah guru bagi saya, yang telah mengajari saya arti hidup, perjuangan dan cinta!

Hidup cuma sekali, pergunakanlah dengan baik, sebelum izin bernafas diambil, dari lubuk hati yang paling dalam, dan kesadaran penuh saya menulis surat ini, semoga ini menjadi awal yang baik bagi saya dan akhir yang baik bagi kamu!!!.

Pertama kali saya mohon maaf, karena saya telah membawa kamu kedalam kubangan dosa, kalaupun mungkin seandainya kata-kata maaf dari kamu tidak ada lagi buat saya, saya akan menanggung dosa itu sendiri.

Saya sadar dan kamu tahu itu, bahwa saya lah yang mulai hal ini, mungkin saat itu saya lemah, lalai! Saya tahu dan kamu juga sadar yang saya lakukan itu melanggar aturan agama kita, wallahi…saya tidak melanggar aturan agama itu karena sombong atau bangga, itu semua karena kelemahan saya dan kelalaian saya sebagai hamba yang berlumuran dosa dan maksiat. Bukankah saya yang memaksa kamu jadi Pacar(astaghfirullah….) saya? Atas itu saya mohon maaf!

Mungkin kamu juga datang tepat waktu di saat saya kesepian, kamu ingatkan waktu dulu saya minta tolong Sama kamu menyampaikan hadiah Ultah buat Wulan, dan akhirnya saya kecewa dengan dia? Di saat saya kecewa, putus asa (seharusnya saya tidak begitu, karena sebenarnya itulah pertolongan Allah, yang masih menolong saya dari lembah dosa!), kamu datang dengan selembar surat berisi nasehat, (sampai saat ini surat itu masih saya simpan, Insyaallah akan segera saya kembalikan padamu), nasehat seorang teman, namun surat-surat selanjutnya seakan memberikan saya lampu hijau, karena memang surat-surat itu berwarna dan dengan isi yang menggoda!(Astaghfirullah..), saat itulah saya merasa seakan Allah menganti Wulan dengan kamu! Ternyata saya salah, tapi saya berterima kasih karena kamu hadir memberi saya semangat, terus terang saya akui saya bisa mendapat peringkat 3 dari 950 siswa di Gontor, tidak lepas dari jasa kamu, support dan pasti doa kamu, sekali lagi terima kasih.

Sekarang saya sadari dan kamu juga harus paham, bahwa tidak ada akhir yang baik yang dimulai dengan hal yang salah!! Tidak ada bangunan yang kokoh yang berpondasi lemah! Saya tidak tahu apakah yang kamu katakan bahwa kamu punya harapan besar pada saya, yang menurut kamu saya bisa membawa kamu dekat pada Allah itu adalah benar atau Cuma rayuan kamu saja? Karena tidak mungkin rumah tangga yang sakinah penuh mawaddah dan rahmah itu dimulai dari fase pacaran! Atau apapun lain istilahnya yang maksudnya menghalalkan hubungan cinta antara seorang laki-laki dengan wanita di luar ikatan pernikahan! Memang selama ini kita tidak pegang-pegangan, berkhalwat berdua, dan lain-lain (Nau’uzubillah min zalik), tapi paling kurang cinta kita (mungkin tepatnya saya, karena saya tidak tahu pasti yang sebenarnya ada di hati kamu) sudah salah saluran! Agama tidak melarang cinta! Karena itu adalah fitrah yang diciptakan Allah, tapi agama memberikan sebuah jalur khusus untuk penyaluran cinta itu! Yaitu pernikahan! Kalau selama ini kamu merasa apa yang saya rasakan, mari sama-sama kita bertobat minta ampun pada Allah. Selama ini paling tidak saya telah meluangkan tempat buat makhluq di hati saya lebih dari pada tempat yang saya sediakan buat Khaliq saya!( A’uzubika min an usyrika bika syaian a’lamuhu wa istaghfiruka lima la a’lamuhu, ya akramal akramin! ini doa bagus agar jauh dari sifat sombong, kufur dan riya’!)

Sebenarnya sejak sebelum saya pergi saya ingin mengatakan ini, tapi ketulusan kamu tanggal 10 November di RS PMI meluluhkan saya, saya tidak tega menyakiti kamu! Saya coba ketika saya tiba di Damascus, tetap saja saya tidak mampu, terakhir yang saya coba ketika saya telpon tanggal 30 September, tapi saya tidak kuasa mengatkannya! Mungkin dengan terpaksa saya tulis disini! Tolong jangan kamu berpikir macam-macam, bukan karena orang ke 3, bukan saya tidak sayang lagi padamu, bukan saya ingin mengingkari janji-janji saya, bukan saya ingin memutuskan silaturahim, bukan saya tidak pantas buat kamu ataupun kamu terlalu baik buat saya, tapi sungguh tujuan saya ini demi kebaikan kita bersama, saya ingin membersihkan hati kita, terutama saya sendiri….saya ingin hafal Al-quran, saya ingin hafal hadist-hadist rasulullah dan melaksanakan isinya itu semua!

Setelah saya menelpon kamu terakhir itu, niat saya bertambah bulat untuk menyatakan ini, saya yakin kalau memang kamu milik saya, maut pun tidak mungkin memisahkan kita! Kalau ketika saya pulang nanti, kamu masih sendiri, itulah jawaban bahwa kamu memang tercipta untuk membimbing saya menyempurnakan ibadah saya dan Sunnah rasul-Nya.

Jadi saat ini saya tidak akan menawarkan pilihan apa-apa buat kamu, saya hanya mau mengatakan bahwa anggap saja kita tidak pernah sayang-sayangan atau cinta-cintaan! atau lainnya, kalau memang kamu masih mau menjadi teman saya, saya siap menjadi sahabat yang akan manangis kalau kamu menangis, dan tertawa di saat kamu tertawa! semoga persahabatan kita karena Allah, jadi sejak saat ini kamu tidak perlu merasa terikat lagi dengan saya, saya yakin kamu tahu apa yang terbaik yang harus kamu lakukan, demi masa depan kamu. Mungkin kamu tidak perlu lagi menulis nama saya di phone book “Soulmate”, tulis saja Zacky Zaidan, saya juga akan berusaha menghilangkan nama kamu yang tersebar di pakaian, buku dan kepala saya!!!!

Saya minta maaf sekali lagi kalau selama ini saya sering menyakiti kamu, dan saya berterima kasih atas apa yang kamu lakukan buat saya selama ini. Dan permohonan maaf terbesar dan doa yang tulus dari Ibunda kamu, semoga saya jadi anak yang berguna bagi orang tua, agama, bangsa dan Negara. Karena bagi saya orang tua adalah sumber pahala dan kebahagiaan didunia dan akhirat, meskipun beliau bukanlah orang yang melahirkan dan membesarkan saya. Tolong sampaikan ini pada Ibunda kamu, kalau kamu tidak menyampaikannya, itu adalah amanat saya pada kamu, yang akan jadi hutang kamu pada saya.

Saya Akan selalu manyebut Nama kamu dalam setiap DOA saya, seperti dulu Nama kamu saya sebut, semoga kita mendapat apa yang kita cita-cita kan.

Sekali lagi saya minta maaf, doakan saya semoga jadi anak yang berguna bagi orang tua, agama, bangsa dan Negara.

14.04 WS.06-september-2007

Maqam Arbai’in, Abou Najieb, Roukn El-Dien, Damascus

Muhammad Zacky Zaidan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: