<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>[ suli_we ]</title>
	<atom:link href="http://suliwe.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suliwe.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 14:31:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='suliwe.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>[ suli_we ]</title>
		<link>http://suliwe.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://suliwe.wordpress.com/osd.xml" title="[ suli_we ]" />
	<atom:link rel='hub' href='http://suliwe.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>JUNE 9TH, 2011</title>
		<link>http://suliwe.wordpress.com/2011/06/11/june-9th-2011/</link>
		<comments>http://suliwe.wordpress.com/2011/06/11/june-9th-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jun 2011 07:43:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suliwe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku Bukan Panutanmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suliwe.wordpress.com/?p=521</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 9 Juni 2011 hari yang spesial. Setidaknya, untukku sendiri. Kenapa? Apakah hari itu aku dilantik sebagai kepala cabang sebuah bank syariah? Apakah aku resmi melamar seorang wanita berkerudung ungu? Apakah aku mendapat royalti menulis buku senilai puluhan juta rupiah? Ataukah aku baru saja membeli sebuah mobil Avanza warna hitam? Tentu saja tidak. Setidaknya bagiku, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=521&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis, 9 Juni 2011 hari yang spesial. Setidaknya, untukku sendiri. Kenapa? Apakah hari itu aku dilantik sebagai kepala cabang sebuah bank syariah? Apakah aku resmi melamar seorang wanita berkerudung ungu? Apakah aku mendapat royalti menulis buku senilai puluhan juta rupiah? Ataukah aku baru saja membeli sebuah mobil Avanza warna hitam? Tentu saja tidak.</p>
<p><span id="more-521"></span>Setidaknya bagiku, hari itu adalah hari dimana aku kembali menjadi muda. Ternyata usiaku baru 22 J (belum ditambah dua..hehe). Wah..ternyata aku masih muda sekali! (halah). <em>I want to feel young everyday</em>, begitulah sebuah kata dalam <em>short message service </em>yang dikirim oleh seseorang padaku pada hari itu.</p>
<p>Dan aku selalu memilki cara tersendiri untuk merayakannya, untukku sendiri. Untuk persiapan, aku meminimalisir agar tak banyak orang yang tahu hari lahirku. Dan berhasil. Terbukti di hari itu hanya ada segelintir orang saja yang mengucapkan selamat hari lahir lewat SMS. Dan kebanyakan adalah perempuan..wew! Apakah artinya? Apakah aku memiliki banyak fans perempuan (halah ngimpi). Ini mungkin lebih karena aku juga mengirimkan ucapan lewat SMS di hari lahir mereka. Dan dari sini, aku menemukan sebuah teorema bahwa laki-laki terbukti lebih acuh tak acuh dalam mengucapkan ucapan selamat milad untuk teman sesama lelaki.</p>
<p>Kalian ingin tahu tidak, siapakah orang yang pertama kali mengucapkan selamat milad untukku? Pengin tahu? Serius pengin tahu? Bagaimana kalau aku tidak mau memberitahu? Hehe <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Orang yang pertama kali mengucapkan selamat milad padaku adalah seorang wanita berkerudung..hmm. Orangnya dewasa, keibuan, baik hati, murah senyum, tegas dan cantik <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Kalian mau tahu siapa dia? Biarlah jadi rahasiaku dan dia saja :p</p>
<p>Baik, kita lupakan dulu masalah orang yang pertama kali mengucapkan selamat milad itu. Sekarang, aku ingin bercerita tentang sesuatu yang lebih menarik (menurutku sendiri). Yakni, tentang bagaimana aku merayakan miladku sendiri. Ya, disini tokohnya tentu saja aku, siapa lagi.</p>
<p>Pertama, aku men<em>deactive</em> Facebook (mungkin untuk selamanya). Lalu di hari H-nya aku ingin membuat sebuah amalan sempurna (menurutku sendiri). Nah, kalau bicara masalah amalan, maka tak baik dibicarakan di depan publik. Lebih baik hanya kita sendiri yang tahu. Amalan yang biasanya sangat berat dilakukan, dan yang hanya dilakukan kadang-kadang. Pada hari itu aku ingin melakukannya, yah minimal di hari lahirku sendiri. Setidaknya, itulah hadiah milad dariku untukku.</p>
<p><em>Trenyuh ati iki, moco tulisanmu..</em></p>
<p><em>Ra kroso netes eluh ning pipiku..</em></p>
<p>Maklum, menulis ini aku sambil mendengarkan senandung Layang Kangen <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Entah kenapa hari itu aku merasa bahagia. Apakah karena aku milad? Aku tak tahu. Yang jelas aku bahagia. Dan aku tak tahu kenapa. Nah, esoknya di kantor ada sedikit syukuran. Kantor? Memang aku punya kantor? Syukuran? Syukuran apa? Syukuran karena aku milad? Syukuran karena aku akan dimutasi ke Solo? Atau syukuran karena aku sudah menikah? Hayah.. Ya tentu saja syukuran karena aku sedang bersyukur (ngomong opo to iki? ^.^)</p>
<p><em>Umpomo tanganku dadi suwiwi</em></p>
<p><em>Iki ugo aku mesthi enggal bali</em></p>
<p>Sudah, segitu saja ceritanya.</p>
<p>Sudah? Cuma segitu? Kayaknya ndak ada serunya sama sekali! Hehe yo ben! Ini kan tulisanku, kenapa yang baca harus protes?</p>
<p>Ah, sebentar. Ada satu cerita lagi. Cerita dimana aku meneteskan air mata..hmm.</p>
<p><em>Rambut wis ra ireng</em></p>
<p><em>Wi malih rupane</em></p>
<p><em>Ireng malih putih</em></p>
<p>Itu intronya..</p>
<p><em>Ngadeg dadi cagak</em></p>
<p><em>Nyonggo piringe anak</em></p>
<p><em>Mempeng kerjo </em></p>
<p><em>Ora mikir rogo</em></p>
<p><em>Tekadmu kuwi tak puji</em></p>
<p><em>Njenengan koyo senopati</em></p>
<p><em>Sanadyan uwis tuwo</em></p>
<p><em>Nyambut gawe kanggo nguripi kluwargo</em></p>
<p>Dan aku menangis, ketika aku mendengarkan senandung berjudul “Bapak” itu sambil melihat foto bapak ibuku di layar laptop, foto ketika bapak ibu berkunjung ke Masjid Istiqlal Jakarta, duduk bersanding di atas rerumputan hijau, romantis sekali..hehe</p>
<p>Satu impian yang kutulis beberapa tahun lalu, dan sampai sekarang masih tertempel di dinding kamar, dan sekaligus sampai sekarang belum terwujud : Menjejakkan kaki di Tanah Mekkah bersama bapak ibu. Tapi sekarang aku optimis, tak lama lagi impian itu akan terwujud. Insya Allah, dengan izin Allah. “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu!”, kata Arai.</p>
<p>Akhirnya,</p>
<p>SELAMAT MILAD ya, Ly! Semoga usiamu semakin berkah, banyak rejeki, tambah awet muda, semakin baik dari hari ke hari, menjadi hamba Allah yang istiqomah, pemuda yang sholeh, anak yang berbakti, adik yang penyayang, teman yang baik, dan semoga kelak bisa menjadi suami yang ikhlas, ayah yang bijak, pemimpin yang jujur dan amanah. Amin <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suliwe.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suliwe.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suliwe.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suliwe.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suliwe.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suliwe.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suliwe.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suliwe.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suliwe.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suliwe.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suliwe.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suliwe.wordpress.com/521/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suliwe.wordpress.com/521/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suliwe.wordpress.com/521/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=521&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suliwe.wordpress.com/2011/06/11/june-9th-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aaf6b97a22d0ebf6e9eee481ab87ef94?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suliwe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Deactivate Facebook</title>
		<link>http://suliwe.wordpress.com/2011/06/01/deactivate-facebook/</link>
		<comments>http://suliwe.wordpress.com/2011/06/01/deactivate-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 03:04:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suliwe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku Bukan Panutanmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suliwe.wordpress.com/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, 1 Juni 2011, aku resmi men-deactivate account facebook. Entah sampai kapan akan me-reactivate. Atau mungkin tidak akan pernah sama sekali. &#160; Salam Aku Bukan Panutanmu<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=518&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini, 1 Juni 2011, aku resmi men-deactivate account facebook. Entah sampai kapan akan me-reactivate. Atau mungkin tidak akan pernah sama sekali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salam</p>
<p>Aku Bukan Panutanmu</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suliwe.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suliwe.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suliwe.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suliwe.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suliwe.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suliwe.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suliwe.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suliwe.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suliwe.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suliwe.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suliwe.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suliwe.wordpress.com/518/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suliwe.wordpress.com/518/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suliwe.wordpress.com/518/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=518&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suliwe.wordpress.com/2011/06/01/deactivate-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aaf6b97a22d0ebf6e9eee481ab87ef94?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suliwe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAB I : BIDADARI KECIL BERMATA BIRU</title>
		<link>http://suliwe.wordpress.com/2011/05/24/bab-i-bidadari-kecil-bermata-biru/</link>
		<comments>http://suliwe.wordpress.com/2011/05/24/bab-i-bidadari-kecil-bermata-biru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 07:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suliwe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku Bukan Panutanmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suliwe.wordpress.com/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[Bulatannya sempurna. Nyaris tak ada cela. Warnanya begitu indah membuat siapa saja yang melihatnya kagum terpesona. Bila ia mengerjap..hmm..bisa membuat benci jadi cinta. Marah jadi sayang. Malas jadi semangat. Dan jauh terasa begitu dekat. Biru. Itulah warnanya. Warna bulatan mata itu memang benar-benar sempurna. Benar-benar indah. Entah darimana ia mendapatkan warna itu. Padahal Abi dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=516&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Bulatannya sempurna. Nyaris tak ada cela. Warnanya begitu indah membuat siapa saja yang melihatnya kagum terpesona. Bila ia mengerjap..hmm..bisa membuat benci jadi cinta. Marah jadi sayang. Malas jadi semangat. Dan jauh terasa begitu dekat.</p>
<p>Biru.</p>
<p><span id="more-516"></span>Itulah warnanya. Warna bulatan mata itu memang benar-benar sempurna. Benar-benar indah. Entah darimana ia mendapatkan warna itu. Padahal Abi dan Umminya orang jawa semua. Tapi darimana ia dapatkan warna biru itu? Ah mungkin itu adalah hadiah dari tuhan karena saking cinta padanya. Bahkan kakak kandungnya saja tidak memiliki yang seperti dia.</p>
<p>Udara pagi kota Solo yang memiliki jargon “The Spirit of Java” menggeliat perlahan. Berarak gemulai melintasi tatanan langit yang tersusun rapi. Dingin. Bahkan sangat dingin. Mentari pun belum menyapa dari sudut timur. Langit juga masih gelap. Tapi di luar sana, aktivitas kehidupan sudah mulai berjalan.</p>
<p>Pak Gimo penjual bubur kacang ijo bahkan sudah berangkat sebelum adzan subuh berkumandang. Mbok Sarto juga sudah berangkat dengan sepeda <em>onthel</em> yang sudah penuh dengan bayam-bayam yang sudah diikat kecil-kecil di keranjang belakang. Seikat bayam harganya seratus rupiah. Kalau di pasar, bahkan ada yang menawar lima puluh rupiah. Mbah Sarijah sama Yu Sum sudah jalan melintasi gelapnya persawahan. Hari ini mereka <em>matun</em> di sawahnya Pak Kasdi. Biasanya sampai magrib baru pulang.</p>
<p>Rumah kecil di sudut kota Sukoharjo itu juga memulai aktivitasnya.</p>
<p>“Nadia, ayo bangun sayang…sudah subuh!”</p>
<p>Jari jemari Ummi menggoyang tubuh gadis kecil bermata biru itu, putri bungsunya. Nadia hanya menggeliat. Ia menarik selimut yang melorot sampai ke pinggang. Menutupi mukanya.</p>
<p>“Sayang, sudah subuh. Cepat bangun…kita sholat subuh dulu nak..” Ummi memang selalu begitu. Sangat lembut.</p>
<p>“Udah Mi…siram aja pake air seember!” si sulung memberi saran. Ia sudah bangun lebih dulu dari adiknya. Mukena putih sudah lengkap menutupi seluruh bagian tubuhnya.</p>
<p>Nuri. Nama si sulung. Mahasiswi semester tujuh jurusan Matematika Fakultas MIPA di UNS, Universitas Nomor Satu di kota Solo.</p>
<p>“Nadia, kalau ndak mau bangun, Ummi siram mukanya ya…” Ummi mencoba menakut-nakuti. Nuri tersenyum agak lebar. Sarannya berhasil. Malahan ia mengambil segayung air dari kamar mandi dan menyerahkannya pada Ummi.</p>
<p>“Nih Mi airnya.” Nuri tampak kegirangan.</p>
<p>“Nadia masih ngantuk Mi..masih pengen bobo. Subuhnya nanti saja jam enam.” Nadia kembali menggeliat. Bahkan kini menutup mukanya dengan bantal. Takut disiram.</p>
<p>Ummi menarik bantal dan selimut Nadia. Kini  ia tak punya pelindung lagi. Nadia membalikkan tubuh kecilnya. Tengkurap. Membenamkan muka ke kasur.</p>
<p>“Yee…bocah ini susah bener disuruh bangun!” Nuri tampak kesal. Berharap agar Ummi segera menyiramkan air segayung itu ke muka si adik.</p>
<p>“Kalau Nadia ndak mau bangun, nanti Ummi dan Mbak Nuri ndak ada yang mau nganter ke sekolah. Nadia pokoknya jalan kaki. Ya sudah ayo Nur kita subuh duluan.” Ummi mengeluarkan jurus andalannya. Pura-pura melangkah meninggalkan Nadia. Nuri ikut-ikutan berakting seperti Ummi.</p>
<p>“Iya..iya…Nadia sudah bangun ni…”</p>
<p>Nadia terduduk. Matanya setengah terpejam. Badannya masih lemas. Ia bangun sebenarnya bukan mau subuh, tapi karena takut nanti tidak ada yang mengantarkan ke sekolah. Nadia ndak mau jalan kaki <em>lha wong</em> jarak ke sekolah tiga kilo.</p>
<p>“Sudah Mi, ayo subuh duluan saja. Nanti kayaknya ada yang bakalan jalan kaki ke sekolah tuh,” Nuri berkata menggoda.</p>
<p>“Ihh…Ummi sama Mbak Nuri kok jahat sih. Nadia kan sudah bangun.”</p>
<p>Ummi dan Nuri tersenyum kecil. Strateginya berhasil!</p>
<p>Nadia melangkah ke kamar mandi. Mengambil air wudhu. Membasuh bagian tubuh dengan air dingin kota Solo. Lalu melangkah keluar dan menjumput mukena putih yang sudah disiapkan Ummi di atas meja. Ia memakai mukena putihnya.</p>
<p>Dan subhanallah….</p>
<p>Begitu cantiknya gadis kecil itu. Wajahnya bersih terbasuh wudhu. Cerah secerah lembut mentari. Segar sesegar butiran embun pagi. Cantik secantik Aisyah istri nabi. Mata birunya indah seindah mata bidadari.</p>
<p>Pagi itu aktivitas di rumah Nadia di mulai. Mereka mengawalinya dengan sholat subuh berjamaah. Ummi jadi imamnya, Nuri dan Nadia jadi makmum. Sedangkan Abi, sudah lebih dulu berangkat ke musholla Al Mukharomah. Abi yang mengumandangkan adzan subuh pagi itu. Bahkan, setiap pagi.</p>
<p>“Allahu Akbar…”</p>
<p>Ummi memulai sholat berjamaah. Nuri dan Nadia mengikuti bacaan dan gerakan Ummi. Sesekali Nadia menguap lebar-lebar karena memang masih sangat mengantuk.</p>
<p>“Huaaahhhh…..” Mulut Nadia terbuka lebar-lebar. Menguap.</p>
<p>“Ihh…dasar Nadia!!” gerutu Nuri dalam hati. Khusyuknya terganggu sang adik.</p>
<p>“Bismillahirrahmanirrahiim. Alhamdulillahirabbil’alamin. Arrahmanirrahim. Maaliki yaumiddin…….”</p>
<p>“Ah merdunya suara Ummi..” lagi-lagi hati Nuri bicara sendiri. Lagi-lagi tidak khusyuk. Tapi bukan menggerutu. Hatinya memuji bacaan Ummi.</p>
<p>“Huaaahhhh…..” Nadia menguap. Lagi.</p>
<p>“Hhh…Nadia……!!! Ngganggu orang sholat aja ni anak!”</p>
<p>“Alam nashrah laka shad rak…” Ummi membaca surat Al Insyirah. Sangat merdu.</p>
<p>Sesekali Nadia hampir saja ambruk karena masih mengantuk. Kadang hampir doyong ke depan, kadang ke belakang, kadang ke arah kakaknya.</p>
<p>***</p>
<p>“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh…”</p>
<p>Sholat subuh sudah selesai. Nadia buru-buru menengok ke kanan dan kiri. Salam. Cepat-cepat ia mencium tangan kakak dan Ummi. Cepat-cepat pula ia melepas mukena putihnya. Ya, ia cepat-cepat ingin kembali ke kasur. Mau tidur!</p>
<p>“E..e..e..mau kemana kamu? Tuh Mi, Nadia mau tidur lagi…” Nuri segera tanggap dengan gerakan cepat adiknya. Ummi menoleh kemudian tersenyum kecil. Nadia hanya meringis lucu.</p>
<p>“Cuma bobok lima menit kok Mi..boleh ya?? Lagian Abi juga belum pulang dari musholla. Jadi masih ada waktu sedikit buat bobo..boleh ya Mi?? Nadia ngantuk banget. Tadi malam belajar sampai jam sembilan…”</p>
<p>“Jam sembilan apanya?? Nggak dink Mi, lha wong semalam Nadia belajarnya di atas kasur terus ketiduran. Jam setengah sembilan Nuri masuk kamar Nadia, ee udah pules tidurnya…” Nuri menginvestigasi adiknya. Nadia meringis sekali lagi.</p>
<p>“Tadi Nadia belum selesai ngomongnya mbak…tadi malam Nadia belajar sampai jam sembilan kurang setengah jam….” Nadia mengaku. Mata birunya mengerjap indah. Sungguh indah. Mata itu mampu meredam amarah semua orang yang ingin marah.</p>
<p>“Tuh kan Mi…ya gitu tuh putrinya Ummi yang paling bandel,” Nuri mengadu pada Ummi. Ummi hanya tersenyum.</p>
<p>“Nadia sini sayang…kalau tidur lagi nanti malah tambah males lho. Tidur sesudah subuh itu kan makruh sayang..Sebentar lagi Abi juga pulang. Terus kita ngaji bareng. Sambil nunggu Abi kita dzikir dan doa dulu. Yuk…sini anak Ummi yang paling cantik….” Ummi memang seorang wanita berhati lembut. Tak pernah sekalipun berkata kasar apalagi marah-marah. Dalam siituasi seperti apapun.</p>
<p>***</p>
<p>Mentari kecil di ujung timur dunia mulai ikut menggeliat. Perlahan ia bergerak ingin menyambut dunia. Menyambut titah tuhannya menyinari jagat semesta. Memberikan kehangatan. Memberikan kehidupan. Memberikan tanda pada manusia bahwa hari ini siap dimulai!</p>
<p>Mentari kecil memancarkan semburat warna penuh pesona. Orange! Ya, itu adalah warna kesukaan Nadia. Orange menggambarkan goresan keceriaan. Ia melukiskan semangat, kesegaran dan visi jauh ke depan. Nadia sangat menyukai warna itu.</p>
<p>***</p>
<p>Langkah kaki terdengar tiba di depan pintu rumah sederhana itu.</p>
<p>“Assalamualaikum…”</p>
<p>Suara seorang laki-laki mengalun pelan penuh cinta. Itu adalah Abi. Ia selesai menjalankan sholat subuh di musholla Al Mukharomah yang berjarak seratus meter dari rumahnya.</p>
<p>“Wa’alaikumussalam Abi…..” Tiga bidadari menyahut serempak dari dalam rumah. Ummi, Nuri dan Nadia.</p>
<p>“Tuh kan…apa Ummi bilang, Abi dah pulang. Sekarang ayo Nadia ambil buku iqro-nya.” Ummi melirik Nadia.</p>
<p>“Iya Mi…” Nadia berjalan mengambil buku iqro jilid satu miliknya dengan langkah berat. Mukena putihnya diseret-seret. Ummi dan Nuri geleng-geleng kepala melihat tingkah Nadia. Menjengkelkan tapi juga menggemaskan.</p>
<p>Sejurus kemudian mereka berempat sudah berkumpul di ruang khusus untuk sholat. Duduk melingkar. Ruangan kecil itulah yang setiap hari mereka pakai untuk mendekatkan diri pada Ilahi Rabbi. Tempat Abi dan Ummi mendidik dua permata hatinya agar kelak menjadi bidadari-bidadari penghuni surga.</p>
<p>Nadia masih mengantuk. Mata birunya tetap setengah terpejam. Kadang terantuk-antuk. Lucu.</p>
<p>“Nadia, kemarin sampai halaman berapa iqro-nya?” Abi bertanya pelan.</p>
<p>Nadia tak menjawab. Rupanya ia sudah terpejam. Tidur!</p>
<p>“Yee….anak ini disuruh ngaji malah tidur,” Nuri menyenggol lengan kecil Nadia. Nadia kaget hampir terjatuh dari duduknya. Matanya langsung terbuka lebar.</p>
<p>“Ada apa mbak? Sudah selesai ya ngajinya? Asyiiik…sekarang bisa tidur lagi,” Nadia nyengir kegirangan.</p>
<p>“Kamu ini belum apa-apa bawaannya pengen tidur melulu. Giliranmu tu. Abi tanya kemarin sampai halaman berapa. Lha kok malah tidur!” Nuri kesal.</p>
<p>“Hehe..maaf ya Bi. Nadia ngantuk. Tadi malam belajar sampai jam sembilan,” Nadia menjawab polos. Sebenarnya dalam hati Nadia menambahkan kalimatnya sendiri, “jam sembilan kurang setengah jam Bi”. Nuri dan Ummi geleng-geleng kepala. Kompak.</p>
<p>Nadia membuka-buka buku iqronya. Sampai di halaman lima.</p>
<p>“Ja Ji Ju…Ka Ki Ku..”</p>
<p>“Bukan Ka sayang, tapi Kha. Suaranya agak di tekan di tenggorokan. Coba perhatikan Abi..Kha Khi Khu.”</p>
<p>“Kha Ki Ku..”</p>
<p>“Ulang lagi”</p>
<p>“Kha Khi Ku..”</p>
<p>“Masih salah”</p>
<p>“Khaa Khi Ku”</p>
<p>“Kha-nya jangan panjang-panjang. Satu harokat saja nak”</p>
<p>“Kha Khii Khu”</p>
<p>“Sekali lagi. Masih ada yang salah. Khi-nya juga satu harokat”</p>
<p>“Kha Khi Khuuuu”</p>
<p>“Yee…anak ini dibilangin jangan panjang-panjang kok masih <em>ndableg</em> juga.” Nuri membatin.</p>
<p>“Kha Khi Khu!”</p>
<p>“Nah..Nadia pinter!”</p>
<p>***</p>
<p>Bulatan merah di ufuk timur mulai memancarkan sinar kehangatan. Siap menyinari apa saja yang tuhannya hamparkan di semesta alam. Memberinya nafas kehidupan. Ia siap menjalankan titah tuhannya hari itu sampai pada akhirnya nanti ia akan menjemput sang senja di ufuk sebelah barat.</p>
<p>***</p>
<p>“Nadia, buruan mandinya! Ndak pake lama! Mbak dah mau telat kuliah ni..!”</p>
<p>Suara Nuri agak keras di luar kamar mandi. Kamar mandi?? Tempat itu lebih tepat disebut dengan bilik MCK. Sebuah bilik kecil di belakang rumah. Tepat di pinggir sungai belakang rumah yang airnya masih lumayan bersih. Kadang kalau hujan deras, bilik itu terendam air. Tidak bisa dibuat untuk mandi, cuci dan kakus. Sesekali Nuri menggedor pintu kamar mandi yang terbuat dari seng agak berkarat disana-sini.</p>
<p>“Sabar to mbak! Orang sabar itu disayang Allah..!” Suara gebyar-gebyur terdengar mengiringi jawaban Nadia dari dalam kamar mandi. Memang, Nadia kalau mandi lama. Nuri menahan jengkel. Mungkin memang benar kata adiknya itu. Orang sabar memang disayang Allah.</p>
<p>Lima belas menit kemudian Nadia baru keluar dari kamar mandi.</p>
<p>“Hhhh..kamu tu kalau dibilangin ngenyel! Mandi jangan pakai lama. Kebiasaan!” Nuri berlalu masuk ke bilik kamar mandi. Nadia juga berlalu begitu saja masuk ke kamarnya. Sebuah kamar kecil yang ditempati Nadia, Abi dan Ummi. Sedangkan Nuri kamarnya disebelah kamar Nadia.</p>
<p>Rumah sederhana yang Nadia tempati memang sangat-sangat sederhana. Sebagian dindingnya terbuat dari seng. Bagian belakang juga dari anyaman bambu. Sebenarnya rumah itu rumah kontrakan, tapi karena pemiliknya masih teman dekat Abi, maka Abi cukup membayar sewa dengan harga murah, tujuh puluh lima ribu per bulan.</p>
<p>***</p>
<p>Nuri sudah cantik dengan kerudung coklat tuanya. Siap-siap berangkat ke kampus. Nuri ke kampus naik sepeda jengki warna biru.. Untuk ke kampus butuh waktu satu jam. Capek memang. Tapi sekarang sudah biasa. Dulu di awal-awal kuliah memang terasa sangat berat menempuh jarak itu. Apalagi kalau musim kemarau. Panasnya minta ampun! Tubuh kecilnya seperti di<em>oven</em> dalam gaun dan kerudung besarnya.</p>
<p>Di samping kuliah, Nuri juga nyambi mengajar sebagai tentor tidak tetap di bimbingan belajar Rumah Pintar Java yang beralamat di perumahan Gentan Asri. Dari kampus UNS, ia musti mengayuh sepedanya selama empat puluh lima menit. Berat memang ia rasakan. Sangat berat setiap hari seperti itu. Tapi kini, semua tampak biasa. Sudah menjadi makanan sehari-hari.</p>
<p>“Ini semua demi Abi, Ummi dan adikku sayang, Nadia!”</p>
<p>Itulah yang selalu menjadi semangatnya. Semangat untuk merubah kehidupan yang kadang terlihat sangat kejam dan tidak adil. Semangat itulah yang akhirnya kini mampu mengantarkannya di semester tujuh. Dari hasil mengajar itu, ia bisa sedikit membantu ekonomi keluarga dan membiayai uang spp-nya yang sebesar delapan ratus ribu per semester. Untunglah, di semester lima ia mendapatkan beasiswa TPSDP sebesar dua ratus lima puluh ribu per bulan. Jadi biaya hidup dan kuliahnya sangat terbantu. Sisanya juga bisa untuk membayar sewa rumah.</p>
<p>“Ayo Nadia Abi antar.”</p>
<p>Abi sudah siap dengan sepeda onthel kebo-nya. Keranjang besar sudah nangkring di belakang. Keranjang itu nanti akan diisi kerupuk. Ya, Abi adalah penjual kerupuk keliling. Sebelum mengambil kerupuk dagangan di tempat Pak Bejo juragan kerupuk daerah Bekonang, Abi mengantarkan Nadia ke sekolah dulu di Madrasah Ibtidaiyah.</p>
<p>Aktivitas setiap anggota keluarga Nadia pun dimulai. Abi berangkat mengantar Nadia ke madrasah. Biasanya Nuri yang mengantarkan Nadia, tapi pagi itu Nuri berangkat agak pagi karena ada janjian mengerjakan tugas kelompok mata kuliah Statistik Matematika II di kost temannya. Jam pertama harus dikumpulkan. Ummi pergi ke rumah Bu Maya di (Ummi jadi pembantu di sana). Ummi harus berjalan kaki dua puluh menit untuk sampai ke rumah Bu Maya.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suliwe.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suliwe.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suliwe.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suliwe.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suliwe.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suliwe.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suliwe.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suliwe.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suliwe.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suliwe.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suliwe.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suliwe.wordpress.com/516/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suliwe.wordpress.com/516/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suliwe.wordpress.com/516/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=516&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suliwe.wordpress.com/2011/05/24/bab-i-bidadari-kecil-bermata-biru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aaf6b97a22d0ebf6e9eee481ab87ef94?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suliwe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKU, SI PINKY, SI BLUENY, SI GREENY DAN SI YELLOWNY</title>
		<link>http://suliwe.wordpress.com/2011/04/24/aku-si-pinky-si-blueny-si-greeny-dan-si-yellowny/</link>
		<comments>http://suliwe.wordpress.com/2011/04/24/aku-si-pinky-si-blueny-si-greeny-dan-si-yellowny/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Apr 2011 06:40:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suliwe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku Bukan Panutanmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suliwe.wordpress.com/?p=514</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa, setiap sabtu pagi aku menjelma menjadi sesosok pemuda bujangan pengangguran yang nggak punya kerjaan. Walaupun begitu, aku sadar sepenuhnya bahwa aku adalah generasi muda penerus bangsa, pelanjut perjuangan Pak Karno dan Bung Hatta. Maka dari itu, pada hari sabtu itu aku harus mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Ya, akhirnya aku memutuskan untuk melakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=514&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti biasa, setiap sabtu pagi aku menjelma menjadi sesosok pemuda bujangan pengangguran yang nggak punya kerjaan. Walaupun begitu, aku sadar sepenuhnya bahwa aku adalah generasi muda penerus bangsa, pelanjut perjuangan Pak Karno dan Bung Hatta. Maka dari itu, pada hari sabtu itu aku harus mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Ya, akhirnya aku memutuskan untuk melakukan kegiatan yang positif, bermanfaat dan bersahabat : liburan.</p>
<p><span id="more-514"></span>Langkah pertama, aku harus menentukan dengan apa aku liburan. Terpetiklah sebuah ide brilian. Aku harus menggunakan motor, lebih asyik pikirku. Tapi motor dari mana? Setelah ide itu muncul, maka dengan cepat otakku memunculkan ide yang lebih brilian lagi. Ya, dengan motor pinjaman! Maklum, masih belum punya motor sendiri. Lobi sana lobi sini, akhirnya motor pun di dapat. Sebuah motor matic warna pink, helm-nya pun ada corak lambang cinta warna pink. Kalau aku difoto dari jarak seratus meter mengendarai motor ini, ah pasti kelihatan feminim dan manja sekali. Itulah Si Pinky.</p>
<p>Setelah kendaraan didapat, aku menentukan tujuan. Muncul sebuah ide, aku ingin mengunjungi sebuah pantai yang terdapat di dunia. Ya, adanya di dunia, bukan di akhirat. Pantai yang dua kali pernah kukunjungi : Pangandaran. Dialah Si Blueny. Si Biru samudra berombak-ombak.</p>
<p>Tiga jam perjalanan membawa raga ini (<em>hayah sok sastra banget bahasanya</em>) tiba di sana. Sebuah pantai yang indah, hamparan pasir putih yang luas, perahu-perahu yang banyak. Tapi ada satu kekurangan yang kurasa yang akhirnya menjadi pelajaran berharga untukku, yakni ternyata seindah apapun tempat yang kita kunjungi, tapi ketika kita hanya berangkat sendirian, rasanya seperti sayur kurang garam, hambar. Maka, aku pun tak lama-lama disana. Menikmati es kelapa muda di bibir pantai sambil menikmati orang mandi (berenang –<em>red</em>), lalu beranjak ke parkiran. Setelah bayar es, aku bertanya dengan penuh pengharapan pada penjual es kelapa muda.</p>
<p>“Bu, selain Pangandaran, obyek wisata dekat sini apa saja ya?”</p>
<p>Maka dengan penuh penghargaan pula ibu itu menjawab, “ Ada mas, ke Green Canyon saja, sekitar setengah jam dari sini.”</p>
<p>Aku mengangguk takzim.</p>
<p>Tapi saudara-saudara, aku berpesan pada kalian, jangan mudah percaya dengan perkataan orang asli pedesaan. Kalau kalian bertanya pada orang asli pedesaan tentang suatu jarak, lalu dia menyebutkan sebuah bilangan angka, maka sejatinya jarak yang sesungguhnya adalah dua kalinya. Jika dia bilang 1 km, maka yang sesungguhnya adalah 2 km. Kalau dia bilang 1 jam, maka yang sesungguhnya adalah 2 jam. Aku membuktikannya sendiri. Berkali-kali.</p>
<p>Satu jam kemudian.</p>
<p>Aku sampai di Green Canyon. Indahnya bukan main. Dialah Si Greeny.</p>
<p>Sungai panjang berwarna hijau, batu-batu cadas yang indah. Untuk sampai ke Green Canyon harus naik perahu. Si Greeny sendiri adalah &#8230;. (silakan kalian cari sendiri deskripsinya, mirip-mirip dengan Green Canyon yang ada di negara sebelah). Dalam Bahasa Sunda, Green Canyon adalah Cukang Taneuh. Disana kita bisa mandi, berenang-renang. Pokoknya asyik banget deh! (gaya anak muda). Pokoknya akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. SUER!!! (mengacungkan dua jari sambil meringis).</p>
<p>Kalian tahu, semua deskripsi yang kuceritakan diatas bersumber dari orang-orang dan gambar-gambar yang ada di dekat loket masuk. Aku sendiri belum sampai naik perahu dan sampai di Green Canyon-nya. Alasannya sangat sederhana : karena begitu aku sampai di parkiran motor lalu melihat ke papan loket, yang kulihat adalah sebuah tulisan besar-besar huruf kapital dalam kertas karton warna putih : TUTUP. TIKET HABIS. Si Greeny berhasil membuatku penasaran.</p>
<p>Aku pun pulang dengan memelas. Di tengah jalan, aku berhenti sejenak. Istirahat, terlalu lama duduk di atas motor bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Aku menghentikan motor di dekat Penjual Jagung Manis. Eh, yang manis itu jagungnya atau penjualnya? Coba tebak! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Aku suka jagung, apalagi kalau manis. Kalian tahu warna jagung kan? Kuning. Ya, dialah Si Yellowny. Aku makan dua, sebagai penunda rasa lapar karena perjalanan masih cukup jauh. Disinilah aku mendapatkan sebuah pelajaran berharga. Tepat ketika aku baru menikmati jagung yang pertama, tepat saat itu pula adzan asar berkumandang. Maka dengan cepat, si penjual bilang dalam Bahasa Sunda, yang jika diterjemahkan dalam Bahasa Nasional sebagai berikut, “Nanti uangnya dikasihkan Teteh saja, saya mau sholat dulu.” Dia mengatakan sambil menunjuk seorang wanita di sebelahnya, yang seorang penjual ayam goreng. Aku mengangguk.</p>
<p>Aku sendiri tidak sholat asar. Ya, aku saat itu sedang “dapet”, jadi aku tidak ikut sholat asar. Maksudku, aku sedang “dapet” keringanan untuk menjamak sholat. Aku sudah sholat asar, dijamak dengan dhuhur tadi siang.</p>
<p>Disinilah terjadi sesuatu yang menurutku menakjubkan. Selang waktu ketika si penjual jagung manis itu beranjak untuk sholat asar, ketika itu pula kuhitung-hitung ada sekitar 10 jagungnya dibeli. Menurut kesimpulanku sendiri, sesibuk apapun pekerjaan kita, jika kita mengutamakan sholat tepat pada waktunya, maka Insya Allah pekerjaan ataupun perdagangan kita juga semakin berkah. Coba kalau si penjual jagung manis itu tidak sholat asar di masjid, belum tentu jagungnya laris. Ah, Penjual Jagung Manis&#8230;..(eh, yang manis jagungnya atau penjualnya? Coba tebak! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>Adzan magrib berbunyi ketika aku sampai di rumah orang (kos-kosan –<em>red</em>). Hari ini aku berhasil membuktikan pada Pak Karno dan Bung Hatta bahwa aku adalah sosok pemuda yang mampu mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat. Terima kasih, Pak Karno. Terima kasih, Bung Hatta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suliwe.wordpress.com/514/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suliwe.wordpress.com/514/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suliwe.wordpress.com/514/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suliwe.wordpress.com/514/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suliwe.wordpress.com/514/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suliwe.wordpress.com/514/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suliwe.wordpress.com/514/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suliwe.wordpress.com/514/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suliwe.wordpress.com/514/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suliwe.wordpress.com/514/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suliwe.wordpress.com/514/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suliwe.wordpress.com/514/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suliwe.wordpress.com/514/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suliwe.wordpress.com/514/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=514&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suliwe.wordpress.com/2011/04/24/aku-si-pinky-si-blueny-si-greeny-dan-si-yellowny/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aaf6b97a22d0ebf6e9eee481ab87ef94?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suliwe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAB 13 : KORTI</title>
		<link>http://suliwe.wordpress.com/2011/04/05/bab-13-korti/</link>
		<comments>http://suliwe.wordpress.com/2011/04/05/bab-13-korti/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 13:13:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suliwe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku Bukan Panutanmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suliwe.wordpress.com/?p=511</guid>
		<description><![CDATA[Kata Chrisye, masa yang paling indah adalah masa-masa sekolah. Tapi, kalau aku boleh mengubah sedikit redaksinya, maka masa yang paling indah adalah masa-masa kuliah. Dan masa yang paling indah itu, kami berempat mengawalinya dengan kompak mencukur habis rambut kepala, gundul, plontos! Praktis, dengan berhasilnya kami menembus gerbang kokoh institusi kampus, harkat dan gelar kami naik, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=511&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kata Chrisye, masa yang paling indah adalah masa-masa sekolah. Tapi, kalau aku boleh mengubah sedikit redaksinya, maka masa yang paling indah adalah masa-masa kuliah. Dan masa yang paling indah itu, kami berempat mengawalinya dengan kompak mencukur habis rambut kepala, gundul, <em>plontos</em>!</p>
<p>Praktis, dengan berhasilnya kami menembus gerbang kokoh institusi kampus, harkat dan gelar kami naik, dari <em>Fantastic Four</em> menjadi <em>Super Fantastic Four</em>. Kami berempat adalah empat-empatnya makhluk dari Peren yang bisa meneruskan pendidikan ke jenjang kuliah. Kak Memey harus puas sekolah sampai SMA. Mas Kiai yang lulusan pondok itu juga lulus aliyah, setingkat SMA.</p>
<p><span id="more-511"></span>Universitas berjarak 50 km dari Peren, hampir mendekati ibukota propinsi, memaksa kami untuk mengontrak sebuah rumah minimalis dekat kampus. Jarak seperti itu, naik sepeda sangat menyiksa, apalagi jalan kaki. Tinggal serumah mirip keluarga yang dianjurkan oleh Pak Presiden yang sedang menggalakkan program pengentasan kemiskinan, Keluarga KB dengan slogan ‘2 Anak Lebih Baik’. Dan untuk menghormati leluhur, nenek moyangnya matematika, maka kontrakan ini kami namai dengan nama ‘ALKHAWARIZM’, ilmuwan muslim yang jago matematika.</p>
<p>Pagi ini halaman depan rektorat Universitas Nomor Satu penuh dengan jas almamater warna biru muda, lambang keperkasaan ilmu pengetahuan kampus. Berjejer-jejer. Berderet-deret. Rapi serupa barisan shaf sholat para sahabat ketika Nabi Muhammad menjadi imamnya. Upacara penyambutan mahasiswa baru oleh Rektor Universitas Nomor Satu. Betapa gagahnya kami semua. Bagai tamu kehormatan yang baru hari pertama saja sudah disambut sebegitu meriahnya. Kami benar-benar tak menyangka. Hebat nian!</p>
<p>Dari sini selesai, maka kami langsung digiring ke fakultas masing-masing. Persis kambing yang mau dimasukkan ke kandang oleh sang penggembala. Muda, elegan, <em>cool</em>, senyum ramah : itulah ekspresi empat <em>penggembala</em> yang menggiring kami, dua laki dua perempuan berkerudung berjas sama dengan kami. Hanya saja di lehernya menggantung seutas tali merah tersambung dengan kertas karton kotak bertuliskan ‘PANITIA’.</p>
<p>Kagum, perasaanku saat pertama kali sampai di gerbang fakultas berlantai tiga itu, Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam. Keren sekali. Di Peren, bahkan tak ada yang punya rumah barang lantai dua, lantai satu pun kebanyakan hampir ambruk. Tak lama kami sampai di sebuah ruangan luas penuh kursi berjajar rapi. Terpisah sebelah kanan dan kiri oleh sebuah gang kecil. Di baris belakang kursi, dekat tembok dan jendela, berdiri berjajar teman-teman sang penggembala tadi. Hampir semuanya tersenyum ramah tanpa paksaan. Mereka kelihatan senang sekali seperti sedang melihat iring-iringan besan calon pengantin.</p>
<p>“Selamat datang mahasiswa baru jurusan matematika di aula Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam!!!”</p>
<p>Suara seorang lelaki kurus tinggi semampai berkacamata bening dan juga berjas biru muda menyambut kedatangan kami. Kelihatan formal. Kami yang laki dipersilakan duduk di deret kanan, perempuan kiri. Seperti biasa, kegiatan awal paling menjemukan di semua sesi seperti ini : lomba pidato penyambutan. Bayangkan, hampir satu jam kami jenuh mendengar satu per satu orang maju ke podium, senyum sedikit, dan mengucapkan kalimat panjang lebar yang sebenarnya bisa disingkat menjadi 13 huruf : SELAMAT DATANG! Mulai dari ketua panitia, ketua organisasi entahlah, perwakilan ini itu, ketua jurusan, wakil ketua jurusan, dosen, dekan, pembantu dekan 1 sampai 3, bahkan yang terakhir adalah sang penggembala yang tadi menggiring kami.</p>
<p>Sang penggembala tadi diminta menceritakan apa saja yang dialami selama perjalanan jalan kaki dari rektorat sampai aula sini. Justru ini yang menarik, ternyata ia lucu, membuat kami yang tadi bosan dan jenuh mendengar ocehan-ocehan formal sebelumnya, menjadi senyum dan sedikit terpingkal. Andai aku jadi juri lomba pidato ini, maka yang jadi pemenang adalah kakak penggembala ini.</p>
<p>***</p>
<p>“Sekarang waktunya kita mengadakan pemilihan KORTI!” lelaki kurus semampai yang tadi suaranya pertama kali kami dengar, mengumumkan.</p>
<p>“Kalian tahu KORTI?” ia berhenti sebentar menatap wajah-wajah polos dan tak mengerti di hadapannya. “KORTI itu Koordinator Tingkat. Semacam ketua kelas di SMA.”</p>
<p>“Ooooooo…” kami berdengung seperti lebah dengan mulut membulat, mendesis huruf O.</p>
<p>“Ada yang mau mencalonkan diri?” menawarkan. Tentu saja, dimana-mana, kebanyakan tak ada yang mau. Kecuali jika ada iming-iming gaji yang tinggi jika jadi KORTI, maka aku, Andro, Ipul dan Awan-lah yang akan berlomba-lomba mengacungkan tangan duluan.</p>
<p>“Tidak ada? Baiklah kalau begitu akan saya tunjuk 3 orang untuk menjadi calon!”</p>
<p>Saat itulah kami semua berdebar. Takut ditunjuk. Bagaimanapun, urusan seperti ini bukan bidang kami. Kami tak jago soal beginian.</p>
<p>“Andromeda! Bima Sakti! Whirpool!”</p>
<p>Glek! Tiga nama jejer berurutan! Awan menghela nafas lega. Aku yakin dia senang sekali karena lolos namanya tidak disebut.</p>
<p>Kami diminta maju ke depan. Aku takut-takut ragu. Andro seperti orang sombong maju duluan. Ipul loyo tanpa daya berjalan di belakang Andro. Kami didudukkan di kursi empuk warna merah di belakang meja kaca hitam panjang menghadap semua orang. Kami seperti sedang disidang kasus korupsi bank pemerintah.</p>
<p>Kakak panitia memegang tiga bunga : mawar, melati dan entah namanya apa, yang jelas baunya tak sedap. Menyuruh kami memilih satu kemudian kampanye dengan bunga itu. Kampanye dengan orasi bunga agar teman kami memilih kami sebagai KORTI. Dan saat itu aku lihat Andro yang paling semangat. Ia kelihatannya sangat berambisi menjadi KORTI. Mungkin dikiranya jadi KORTI itu digaji tinggi, lumayan bisa untuk membayar biaya kuliah nanti. Andro mengambil mawar, aku melati, dan Ipul sisanya, bunga tak sedap tadi.</p>
<p>“Melati itu putih, teman-teman…” aku memulai dulu mempresentasikan bungaku. “Putih itu suci…” aku sok puitis (sebenarnya grogi).</p>
<p>“Kalian tahu ‘kan? Suci itu artinya tidak ada noda, bersih. Dan bersih itu sebagian dari iman!” aku menemukan kata kuncinya yaitu putih, suci, bersih dan iman.</p>
<p>“Oleh karena itu, pilihlah pemimpin yang hatinya putih, suci, bersih dan juga beriman…..seperti aku!” aku senyum lebar. Manja. Genit. Kulempar bunga melati ke atas tinggi-tinggi. Mengakhiri pentas puisiku. Tapi ternyata, bukan tepuk tangan yang kudapat. Aku malah disoraki tak karuan, “Huuuuuuuu…..!!!”</p>
<p>Yang ini lebih parah. Ipul gemetaran. Kulihat dahinya berkeringat dingin.</p>
<p>“Te..Teman-temanku yang ba..baik hati….” Gemetarannya semakin tampak. Kakak-kakak panitia di belakang ada yang menahan cekikikan.</p>
<p>“De…Dengarkanlah sabdaku…!” kalimat itu segera disambut dengan gemuruh ‘WUIHHH!!!’</p>
<p>“Ka..Kalian tahu bunga apa ini?” Ipul seperti bertanya retoris padahal sebenarnya ia bertanya sungguhan. Yang ditanya menggeleng-geleng.</p>
<p>“Ketahuilah kalian semua, wahai temanku yang baik hati. Sesungguhnya aku pun tak tahu bunga apa ini!” tepat satu detik Ipul mengucapkan itu, seisi aula meledak tawa. Terpingkal-pingkal. Ada yang memegangi perutnya. Teman-teman perempuan menutup mulut rapat-rapat, juga menahan tawa. Di baris belakang, beberapa kakak panitia tertawa-tawa aneh, sambil memukul-mukul tembok dekat jendela kaca.</p>
<p>“Tapi teman-temanku semua..” gayanya meniruku, sok puitis. Ia mulai terbiasa. Gemetarannya mulai hilang. “Tahukah kalian, bunga ini baunya…..hmmmm…….” Ipul benar-benar luar biasa. Menempelkan bunga busuk itu lekat dua lubang hidung. Kakak-kakak panitia ada yang bergaya mual <em>hoek-hoek cuih</em>.</p>
<p>“Baunya seperti kentut!!” tawa itu meledak lagi. Lebih dahsyat. Sejak itu, aku yakin, kalaupun nanti ia tak lulus, <em>drop out</em> ataupun berhenti kuliah, Ipul pasti akan jadi pelawak hebat.</p>
<p>“Maka dari itu teman-temanku yang baik hati, janganlah kalian memilih pemimpin yang bau, yang tak sedap dan bentuknya pun jelek seperti bunga ini. Itu pesanku. Oleh karena itu teman-temanku semua, JANGAN PILIH AKU!” Ipul mengakhiri sabdanya tadi dengan kalimat yang mirip dengan judul lagu. Aku tahu ia bersorak-sorai dalam hati, kampanye itu 99% akan berhasil.</p>
<p>Suasana aula riuh rendah dengan aksi kocak Ipul. Disuruh kampanye agar dipilih <em>kok</em> malah kampanye agar jangan dipilih. Benar-benar hanya ada 1 di setiap 1000 kejadian pemilihan serupa seperti ini di muka bumi. Dari sana aku mengerti bahwa Ipul sama sekali tak cocok mencalonkan diri sebagai presiden.</p>
<p>Suasana aula kembali tenang  setelah dikode oleh kakak panitia. Penampilan terakhir, Andromeda dengan bunga mawar merahnya. Ia tenang sekali seperti aliran sungai. Tenang seperti semilir angin sepoi.</p>
<p>“Teman-teman, tahukah kalian kehebatan bunga ini?” Andro mengangkat tinggi-tinggi bunga mawar di tangan kanannya. Ambisinya benar-benar terlihat. Ia seperti membara. Meledak-ledak.</p>
<p>“Mawar merah adalah lambang keberanian. Lambang keanggunan. Lambang semangat tinggi. Lambang ketulusan. Lambang keikhlasan dan juga lambang cinta sepenuh bumi!!!” ia menggelegar. Sejak itu pula aku tahu bahwa Andro punya bakat terpendam : menggombal.</p>
<p>“Merah berarti berani! Berani ketika memang benar! Tidak takut pada siapapun yang bertindak curang. Pantang menyakiti orang lain! Mawar juga sangat harum semerbak. Wanginya menyebar ke segala penjuru. Seperti itulah seharusnya seorang pemimpin. Berani, tegas, semangat tinggi, tulus, penuh cinta pada sesama dan selalu menyebarkan keharuman kebaikan ke segala penjuru dimanapun berada!” orasi itupun disambut dengan tepuk tangan meriah. Ada juga yang iseng siul-siul tak berkelas. Seperti gerombolan preman mabuk yang menyiuli pembantu yang baru pulang dari pasar sehabis membeli terong.</p>
<p>“Teman-teman, seandainya nanti aku terpilih jadi pemimpin, maka ketika aku benar ikutilah aku. Dan jika aku salah, ingatkanlah aku!” tepuk tangan semakin heboh mengiringi Andro yang balik ke kursinya di sampingku. Aku ingat sekali kata-kata itu. Itu salah satu petuah Kak Memey waktu TPA dulu. Itu adalah pidato Abu Bakar Ash Shidiq ketika diangkat menjadi khalifah. Tak kusangka si licik ini ingat betul kalimat hebat itu.</p>
<p>Setelah orasi kami bertiga diminta keluar. Lima belas menit kemudian kami dipanggil lagi ke aula untuk mendengarkan hasil musyawarah.</p>
<p>“Berdasarkan hasil musyawarah mufakat, kelas memutuskan bahwa KORTI terpilih tahun ini adalah……………………..” kakak kurus ini menghentikan kalimatnya. Ipul komat-kamit tak jelas. Barangkali ia siap-siap jantungan jika nanti ia benar-benar yang terpilih jadi KORTI. Aku santai. Andro tampak optimis, ia senyum tipis.</p>
<p>“ANDROMEDA!!”</p>
<p>Andro melenggang tenang maju ke tengah-tengah diiringi tepuk tangan paling meriah. <em>Standing applause</em>. Senyum manis mengembang di pipinya. Bangga. Sang khalifah kelas sudah terpilih. Andro tampak senang sekali. Aku juga lega, apalagi Ipul, hatinya pasti berbunga-bunga, loncat-loncat. Kampanye-nya sungguh manjur.</p>
<p>Baru setelah beberapa minggu kemudian Andro baru sadar. KORTI itu tidak digaji, selalu jadi kambing hitam jika ada masalah di kelas, jadi tukang suruh, satu tingkat di atas babu, tukang fotokopi, tukang pasang LCD, tukang jemput dosen yang telat, tukang catat tugas dan lain-lain yang di depannya ada kata ‘tukang’. Andro kemudian sering mengeluh kenapa pidato menggebu-gebu ala Abu Bakar Ash Shidiq berakhir tragis seperti ini. Tapi, dari sana, Andro banyak belajar bagaimana bertanggung jawab dan belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin dan panutan yang baik di kelas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Suliwe</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suliwe.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suliwe.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suliwe.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suliwe.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suliwe.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suliwe.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suliwe.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suliwe.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suliwe.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suliwe.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suliwe.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suliwe.wordpress.com/511/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suliwe.wordpress.com/511/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suliwe.wordpress.com/511/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=511&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suliwe.wordpress.com/2011/04/05/bab-13-korti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aaf6b97a22d0ebf6e9eee481ab87ef94?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suliwe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ARTHALOKA M-16 Lt.17</title>
		<link>http://suliwe.wordpress.com/2011/03/08/arthaloka-m-16-lt-17/</link>
		<comments>http://suliwe.wordpress.com/2011/03/08/arthaloka-m-16-lt-17/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2011 10:40:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suliwe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku Bukan Panutanmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suliwe.wordpress.com/?p=509</guid>
		<description><![CDATA[Jika dilihat dari atas langit lapis pertama, maka aku terlihat berada di titik pojok kiri atas. Itulah tempat dudukku. Aku duduk di depan bukan karena aku datang paling telat, tapi karena memang sudah ada namaku di kursi kiri depan itu. Hitam-putih-ungu, itulah kombinasi warna yang tampak. Butuh lama, bahkan mungkin berjam-jam untuk membuat diri tampak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=509&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Jika dilihat dari atas  langit lapis pertama, maka aku terlihat berada di titik pojok kiri atas.  Itulah tempat dudukku. Aku duduk di depan bukan karena aku datang  paling telat, tapi karena memang sudah ada namaku di kursi kiri depan  itu. Hitam-putih-ungu, itulah kombinasi warna yang tampak. Butuh lama,  bahkan mungkin berjam-jam untuk membuat diri tampak <em>eye-catching</em>. Ya, hari ini hari yang tak biasa.</p>
<p><span id="more-509"></span>Tepat  di belakang tempatkku duduk, duduklah sesosok makhluk, yang beberapa  menit kemudian dinobatkan sebagai alumni terbaik. Ya, tepat  dibelakangku. Satu pertanyaan konyol mencuat dalam pikiranku, “Kenapa  bukan aku ya?” Lalu, untuk menghibur diri aku bilang, “Mungkin karena  aku bukan yang menjadi petugas pembaca sari tilawah-nya.” Benar sekali  sebuah ungkapan dalam film 3 Idiots, “Jika kawanmu nilainya lebih buruk,  kau akan sedih. Tapi jika kawanmu menjadi yang terbaik, kau akan lebih  merasa sedih!” Hehe <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Menuliskan ini, sebenarnya hanya  ingin mengabadikan petuah-petuah dari 5 pengarah kerja yang menyampaikan  wejangannya pada hari itu : Pak ABC, Bu EI, Pak GS, Pak AF, dan Bu RS.  Petuah yang semoga akan selalu aku ingat dalam perjalanan panjang ke  depan. Untukku, untukmu, dan untuk kita semua.</p>
<p><em>Ada cerita tentang aku dan dia</em></p>
<p><em>Dan kita bersama</em></p>
<p><em>Saat dulu kala</em></p>
<p>(by peterpan)</p>
<p>Setelah  hari ini, pada hakekatnya, inilah ujian yang sebenarnya, debrief yang  sesungguhnya. Kalau boleh memberi usulan nama, maka aku akan memberi  nama yang fantastis : “The Real Debrief, Believe or Not!”.</p>
<p>Dan  jika aku jadi panitianya, maka aku akan membuat beberapa aturan : ujian  kali ini tidak akan ada her, tidak akan ada membuat paper, tidak akan  ada memahami satu bab tertentu untuk diuji lagi, dan pengujinya bukan  hanya 3 orang melainkan seluruh orang di negeri ini, sampai pada Tuhan  Yang Mahakuasa. Sekali gagal, maka yang menjadi taruhan adalah harga  diri. Hidup matimu, ditanganmu sendiri. Believe or Not!</p>
<p>Hingga  tibalah saat itu. Detik-detik menegangkan pembacaan lokasi dimana “The  Real Debrief, Believe or Not!” itu akan dilaksanakan. Masing-masing  orang berbeda, walaupun ada beberapa yang lokasi ujiannya sama :</p>
<p>Ahmad  Wildan –Serang, Muhammad Zulchan –Solo, Ahmad Dhani –Purwokerto, Dziky  Ridwanullah –Denpasar. Sampai disini, sesosok yang bernama Dziky  memperlihatkan ekspresi seperti orang mendengar kabar bahwa ia akan  dimasukkan ke penjara Alqatraz, padahal ia tidak melakukan tindak  kejahatan secuilpun. Tercengang, shock, jantung berdebar, tegang.  Wajahnya seperti pucat, putih, seakan-akan darah didalam tubuhnya sudah  tidak ada. Akhirnya, sang pembaca meralat ucapannya : Dziky Ridwanullah  –Solo <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Betha M Zaky –Semarang, Sofian Asmat –Puri Indah,  Hendra Jumardi –Pekanbaru, Galih Arda Wijaya –Malang, Sahlan –Medan,  Dedi Setianto –Yogyakarta, Muhammad Rizky –Purwokerto, Firman Yulianto  –Denpasar, Oki Junaidi –Padang, Merdian Shinta Kirana –Solo, Rosdiana IK  Tanjung –Pekalongan, Riska Vidyani –Solo, Nurina Widhi –Solo, Risa  Qaniah –Yogyakarta, Monica Melvalinda Sinaga –Medan, Eni Parwati –BSD,  dan Rati Saraduhita –Padang. Nah sampai disini, wajah orang yang namanya  disebut terakhir itu tampak pucat pasi. Padang? Tak pernah terbayangkan  bagaimana tanah Padang nun jauh di mato sana akan menjadi lokasi  ujiannya. Beberapa pertanyaan mungkin sudah berkecamuk dalam pikiran :  Duh, anakku gimana? Duh, suamiku gimana? Duh, di Padang bisa jalan-jalan  nggak ya? Ada mall nggak ya? Hehe :p</p>
<p>Ternyata, itupun hanya salah baca. Rati Saraduhita –Semarang. Alhamdulilah <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sesi  demi sesi selesai, termasuk sesi pose narsis. Maka tibalah sesi ini :  sesi wejangan. Beberapa kalimat wejangan yang kuingat, kucoba untuk  menuliskannya kembali. Ini merupakan kisi-kisi dari  pertanyaan-pertanyaan ujian “The Real Debrief, Believe or Not!”</p>
<p><strong>Pak ABC</strong></p>
<p>Tingkatkan 3 C : Character, Competency, Contribution.</p>
<p>Character  yang baik itu hal yang mutlak dan tak dapat ditawar. Competency,  banyak-banyaklah belajar, tak hanya dari satu sumber. Buatlah  diskusi-diskusi, training sabtu-ahad, banyak membaca berita terkini,  info terupdate. Jika competency tinggi, maka itu adalah prasayarat bagi  kita untuk bisa memberikan Contribution optimal.</p>
<p>Jadilah problem solver, jangan malah menjadi problem maker. Jangan membuat masalah, apalagi jadi sumber masalah.</p>
<p>Janganlah  membawa “pribadi”. Misal, jika kita dimarahi karena fasilitas dan  layanan, jangalah merasa bahwa kita yang dimarahi, tapi ingatlah bahwa  yang dimarahi dan dicomplain adalah fasilitas dan layanan itu, bukan  kita.</p>
<p>Buang jauh-jauh 3D “Dari Dulu-Dulu”. Jika ditanya  tentang sesuatu terutama tentang compliance, hendaklah tidak menjawab  “Lha dari dulu emang sudah begitu, kok”. Baca dan pelajari  prosedur-prosedur yang telah ada. Pahami, lalu amalkan. Jangan  menjadikan buku pedoman dan prosedur itu sebagai pajangan belaka dan  menganggapnya sebagai benda antik.</p>
<p><strong>Bu EI</strong></p>
<p>“Ada  yang tahu kejadian tanggal 24 Pebruari 2011 kemarin? Pak Arviyan  bersalaman dengan siapa? Ada yang baca koran Republika pada tanggal  itu?” pertanyaan itu dilontarkan.</p>
<p>Aku diam beberapa saat.  Pura-pura berpikir dan mengingat-ingat. Berdoa agar aku tidak ditunjuk  untuk menjawab pertanyaan itu. Sampai kemudian keluar suara dari  belakang. Suara jawaban, dengan nada optimis, menggebu, yakin seratus  persen : “Muamalat Berbagi Rejeki!”. Sayang seribu sayang, jawaban itu  salah. Sayang sekali Nak, engkau belum beruntung, cobalah lain waktu.</p>
<p>Bacalah  koran, atau apapun yang dapat menambah wawasan, pesan beliau. Beliau  sebenarnya hanya menekankan atas apa yang disampaikan oleh Pak ABC.  Hal-hal kecil yang sebenarnya manfaatnya luar biasa, seperti Kartu SharE  yang bisa digunakan di Kuala Lumpur, Muamalat yang baru saja mendapat  predikat sebagai The Best Islamic Bank dari IFN tanggal 24 Pebruari  kemarin, dan lain sebagainya.</p>
<p>Luangkan waktu sedikit tiap hari untuk membaca berita-berita terkini agar tak ketinggalan info terbaru. Iqro!</p>
<p><strong>Pak GS</strong></p>
<p>“Ada seorang cucu,” beliau mengawali kisah teladan, “ia menggenggam seekor burung yang ditaruh dibelakang punggunggnya.”</p>
<p>Ia  menghadap kakeknya. Sang Kakek adalah orang yang serba tahu. Apapun  persoalan yang diajukan pada kakek itu, niscaya dapat diselesaikannya  dengan baik. Maka pada hari itu, si cucu bertanya pada kakeknya,</p>
<p>“Kakek, coba tebak, burung yang kubawa ini hidup atau mati?”</p>
<p>Itulah  pertanyaannya. Si kakek tersenyum, berpikir. Kalau nanti ia jawab  ‘hidup’ maka si cucu pasti akan mencekik burung tersebut hinggat menemui  ajalnya. Tapi kalau dijawab ‘mati’, maka si cucu akan membiarkan burung  itu hidup. Pertanyaan yang cerdas. Tentulah butuh jawaban yang cerdas.  Akhirnya si kakek menjawab, “Cucuku sayang, jawabannya adalah hidup dan  matinya burung itu ada ditanganmu.”</p>
<p>Hikmah dari cerita  tersebut sebenarnya sederhana : apa yang akan terjadi pada kita di masa  mendatang setelah hari ini, hidup dan matinya kita di lokasi ujian yang  sebenarnya nanti, tak lain tak bukan adalah berada di tangan kita  sendiri, bukan ditangan orang lain.</p>
<p>Kalau mau sukses, “Lakukanlah lebih dari yang orang lain lakukan!”</p>
<p><strong>Pak AF</strong></p>
<p>Diam-diam,  sebenarnya aku kagum pada beliau. Beliau ini salah satu pembicara  favoritku waktu inclass dulu. Pada hari itu, beliau tak mau kalah  bercerita.</p>
<p>“Ada 5 ekor katak yang duduk pada sebuah batang  kayu di pinggir sungai,” beliau juga memulai bercerita. “3 ekor katak  akhirnya memutuskan untuk melompat ke dalam air. Pertanyaannya adalah  berapa ekor katak yang sekarang berada pada batang kayu?”</p>
<p>Tak  lama beliau berucap, sesosok asal Denpasar menjawab dengan penuh  keyakinan, “Tidak ada!” Mancing mania, mantap sekali ia menjawab.  Hmm..beberapa saat kemudian waktu terasa berhenti. Pak AF mengedarkan  pandangan. Mencoba mencari jawaban lain. Lalu sesosok asal Medan –yang  alumni terbaik tadi, yang sekarang duduk di sampingku berbisik-bisik,  “Bukannya masih ada 5 ekor ya? Kan yang 3 ekor baru dalam tahap  ‘memutuskan’, jadi mereka bertiga belum melompat!” Hebat nian  analisisnya. Tak heran jika akhirnya ia menjadi alumni terbaik. Dan  memang jawaban itulah yang benar. Yang menjawab ‘Tidak Ada’ tadi  akhirnya harus ikhlas bahwa jawabannya salah.</p>
<p>Hikmah dari  cerita itu adalah : kami hari ini pada dasarnya telah ‘memutuskan’,  berapa tahun dari sekarang, kami telah memutuskan untuk menggantikan  orang-orang yang sekarang duduk di hadapan kami. Memutuskan untuk  menjadi garda terdepan, menjadi pemimpin, dan berada di jajaran tinggi  di lembaga keuangan ini, entah berapa tahun ke depan. Tapi ingat,  sekedar ‘memutuskan’ saja belum cukup. Kami harus benar-benar ‘melompat’  jika ingin sampai pada tujuan.</p>
<p><strong>Bu RS</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Beliau  adalah kepala sekolah kami. Tak lupa beliau untuk selalu memberikan  ucapan selamat kepada kami, “Barakallah ya..” begitu ucapnya sambil  tersenyum bangga pada kami. Satu poin penting yang kuingat dari beliau  kemarin : sebuah angka bombastis yang menjadi target <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sebenarnya, kalau boleh usul, yang menjadi 5 terbaik diantara kami harusnya diberi angka bombastis dua kali lipat..hehe</p>
<p>Inti  dari pesan yang disampaikan beliau hampir sama dengan ke-empat yang  sebelumnya : compliance, mitigasi resiko, prosedur dan banyak-banyak  belajar.</p>
<p>Begitulah kiranya yang kuingat kemarin. Dan mulai  detik itulah ujian nyata akan kuhadapi. Ujian yang secara egois kunamai  “The Real Debrief, Believe or Not!”</p>
<p>Man Jadda Wa Jada! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sukoharjo, pada suatu pagi</p>
<p>Sabtu, 5 Maret 2011</p>
<p>Ditulis sambil mendengarkan senandung</p>
<p>“Rindu Muhammadku”, Haddad Alwi feat Anti &amp; Vita.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suliwe.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suliwe.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suliwe.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suliwe.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suliwe.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suliwe.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suliwe.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suliwe.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suliwe.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suliwe.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suliwe.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suliwe.wordpress.com/509/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suliwe.wordpress.com/509/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suliwe.wordpress.com/509/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=509&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suliwe.wordpress.com/2011/03/08/arthaloka-m-16-lt-17/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aaf6b97a22d0ebf6e9eee481ab87ef94?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suliwe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKU, IKAL, A LING DAN SEPEDA –3_2</title>
		<link>http://suliwe.wordpress.com/2011/02/15/aku-ikal-a-ling-dan-sepeda-%e2%80%933_2/</link>
		<comments>http://suliwe.wordpress.com/2011/02/15/aku-ikal-a-ling-dan-sepeda-%e2%80%933_2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Feb 2011 07:43:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suliwe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku Bukan Panutanmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suliwe.wordpress.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Esoknya lagi, hari selasa. Aku baru ingat dengan tindakan yang akan kulakukan tempo hari. Maka hari itu, saat jam istirahat pertama. Aku mendekati Marista di mejanya. Begitu aku dekat dengan mejanya, kulihat disana banyak sekali berserakan gambar-gambar laki-laki dewasa dengan tampang bukan Indonesia. Ya, disana banyak sekali gambar boyband asal luar negri. Itu adalah Westlife! [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=506&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Esoknya lagi, hari selasa. Aku baru ingat dengan tindakan yang akan kulakukan tempo hari. Maka hari itu, saat jam istirahat pertama. Aku mendekati Marista di mejanya. Begitu aku dekat dengan mejanya, kulihat disana banyak sekali berserakan gambar-gambar laki-laki dewasa dengan tampang bukan Indonesia. Ya, disana banyak sekali gambar boyband asal luar negri. Itu adalah Westlife! Marista senyum-senyum sendiri sambil melihat-lihat gambar-gambar itu. Kupikir ia sudah tidak waras lagi.</p>
<p><span id="more-506"></span>“Mar, kau tahu apa akibat perbuatanmu kemarin pada Dodot?!” Aku langsung to the point. Ia tidak menggubrisku. Aih, kasihan sekali aku ini. Aku seperti laki-laki tak berguna yang dicampakkan wanita. Aku mengulangi lagi kalimatku. Kali ini sambil menggebrak meja agar terlihat sedikit jantan. Akhirnya ia menatapku sambil melotot, “Memangnya kenapa?!” Nyaliku langsung ciut. Ternyata wanita kalau sedang marah memang menyeramkan. Sudah seperti induk dinosaurus yang telurnya dicuri team dari Jurassic Park.</p>
<p>“Tak seharusnya kau berbuat seperti itu pada Dodot, Mar. Bagaimanapun, ia adalah makhluk hidup seperti kita. Apa kau tak ingat pesan Pak Mufasil tempo hari?” Aku membawa-bawa nama Pak Mufasil agar Marista gentar. Pak Mufasil adalah guru agama kami yang sangat disegani. Marista mulai mendengarkanku.</p>
<p>“<em>KULLU NAFSIN DZAIQATUL MAUT!</em>” kataku menggelegar. “Ya, itu yang dikatakan Pak Mufasil kemarin! Apa kau tak ingat Mar?!” Marista terdiam. Ia seperti Batik Madrim yang sedang mendengarkan kalimat titah dari Prabu Angling Dharma, Raja Kraton Malwapati itu.</p>
<p>“Kau tahu artinya, Mar?! Kau tahu artinya??” Aku semakin menggebu. Aku sangat bersemangat melihat seseorang kagum dengan apa yang baru saja kukatakan. Itu artinya secara tidak langsung, ia mengakui kehebatanku.</p>
<p>“Kau mau tahu artinya, Mar?” Marista mengangguk.</p>
<p>“Artinya adalah bahwa balas dendam itu perbuatan syaithon!” aku mengatakannya sekuat tenaga sampai terdengar di kelas sebelah. Dan, aku mengatakannya sambil menggebrak meja sekali lagi. Sungguh dahsyat. Kening Marista mengkerut. Dari kerutannya itu seperti muncul sebuah kalimat, “Memangnya artinya benar seperti itu? Bukankah tadi ada kata ‘maut’nya? Nenek-nenek di seluruh jagad ini pun tahu kalau ‘maut’ kan artinya mati. Kok tadi artinya tidak ada kata ‘mati’nya”. Dan aku pun berkata dalam hati, sangat lirih, “Ya Tuhan, ampunilah aku jika artinya salah.” Dengan perbuatanku hari itu, aku merasa memiliki bakat menjadi salah seorang politisi ulung di lembaga dewan. Bakat itu adalah : sok tahu dan pandai bersilat lidah.</p>
<p>Marista tertegun. Aku tersenyum kecil penuh kemenangan. Akhirnya berhasil, pikirku. Tapi ternyata salah. Itu tak berhasil.</p>
<p>“Jadi kau menganggapku syaithon, Boi?! Tega sekali kau! Jadi kau lebih membela Dodot daripada temanmu sendiri?! Teman macam apa kau ini, hah?!” Marista muntab. Ia marah besar. Aku seperti disambar petir mendengar kalimat itu. Bagaimanapun, aku ini perasa. Aku dibilang “teman macam apa” itu sudah sangat menyakitkan. Padahal, niatku baik. Aku hanya tidak ingin melihat ketidakadilan terjadi di muka bumi. Tidak ingin melihat pertikaian terus terjadi. Tapi tampaknya sulit. Sekarang posisiku malah jadi tambah rumit.</p>
<p>Marista beranjak dari duduknya, lalu keluar dari kelas. Wajahnya merah seperti kepiting rebus saking marahnya.</p>
<p>Saat scene ini, backsongnya adalah Weslife yang judulnya I Have A Dream. Lagu ini mewakili hasratku, mimpiku untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan di muka bumi.</p>
<p>Hari demi hari jadi semakin tak karuan. Pertikaian itu pun tak terelakkan. Marista semakin menganggapku sebagai ‘teman macam apa’. Itu semua gara-gara ayat “kullu nafsin dzaiqatul maut” yang kuartikan sebagai “balas dendam adalah perbuatan syaithon”. Dan saat inilah aku merasa butuh seorang mediator. Pihak ketiga. Disinilah muncul temanku yang bernama Aprih Nurohmah. Aprih ini rumahnya dekat pasar tradisional. Di daerah Tanjung, dekat kali, dekat jembatan.</p>
<p>“Nur, aku butuh bantuan.”</p>
<p>“Aku sedang sibuk.”</p>
<p>“Ini penting Nur.”</p>
<p>Nur memandangku syahdu.</p>
<p>“Baiklah, Boi. Memangnya kau berani bayar berapa?”</p>
<p>Aku terbelalak.</p>
<p>“Bayar? Aku ini kan temanmu sendiri, Nur.”</p>
<p>“Teman adalah teman. Bisnis adalah bisnis,” singkat sekali penjelasannya.</p>
<p>“Baiklah kalau begitu. Aku akan membayarnya seribu rupiah untuk beli es cendol dan permen karet.”</p>
<p>“OK. Deal!”</p>
<p>Aku menjelaskan detail taktik jitu agar pertikaian ini berakhir dengan manis. Maksud berakhir dengan manis adalah Marista tidak menaruh dendam lagi pada Dodot, dan statusku sebagai “teman macam apa” juga segera dihapuskan. Aprih hanya manggut-manggut mendengar penjelasanku. Aku menyerahkan selembar kertas berisi SOP (Standar Operational Procedure) untuk menjalankan aksi penting itu. Di dalam SOP itu lengkap berisi tabel-tabel dengan kolom-kolom.</p>
<p>Kolom pertama : nomor</p>
<p>Kolom kedua : jenis aksi</p>
<p>Kolom ketiga : deskripsi</p>
<p>Kolom keempat : waktu</p>
<p>Kolom kelima : tempat</p>
<p>Kolom keenam : perlengkapan</p>
<p>Kolom ketujuh : dana</p>
<p>Kolom kedelapan : penanggung jawab</p>
<p>Khusus kolom ketujuh sengaja dikosongkan karena selain tidak ada sponsor yang mau mendanai aksi ini, kami memang tak punya uang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Bersambung ke judul</em> : <strong>AKU, IKAL, A LING DAN SEPEDA –3_3</strong></p>
<p>http://suliwe.co.nr/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suliwe.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suliwe.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suliwe.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suliwe.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suliwe.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suliwe.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suliwe.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suliwe.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suliwe.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suliwe.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suliwe.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suliwe.wordpress.com/506/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suliwe.wordpress.com/506/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suliwe.wordpress.com/506/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=506&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suliwe.wordpress.com/2011/02/15/aku-ikal-a-ling-dan-sepeda-%e2%80%933_2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aaf6b97a22d0ebf6e9eee481ab87ef94?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suliwe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKU, IKAL, A LING DAN SEPEDA –3_1</title>
		<link>http://suliwe.wordpress.com/2011/02/15/aku-ikal-a-ling-dan-sepeda-%e2%80%933_1/</link>
		<comments>http://suliwe.wordpress.com/2011/02/15/aku-ikal-a-ling-dan-sepeda-%e2%80%933_1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Feb 2011 07:41:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suliwe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku Bukan Panutanmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suliwe.wordpress.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Dua hari berikutnya hari senin. Dan dimanapun di negeri ini, di setiap SMP negeri, maka tiap hari senin selalu diadakan ritual keramat : upacara bendera. Setiap murid, kompak memakai seragam bawahan biru, atas putih, topi berlogo Tut Wuri Handayani. Senin pagi itu, aku sebenarnya sadar, aku ini pada dasarnya anak baik. Tapi demi menjunjung tinggi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=504&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua hari berikutnya hari senin. Dan dimanapun di negeri ini, di setiap SMP negeri, maka tiap hari senin selalu diadakan ritual keramat : upacara bendera. Setiap murid, kompak memakai seragam bawahan biru, atas putih, topi berlogo Tut Wuri Handayani.</p>
<p>Senin pagi itu, aku sebenarnya sadar, aku ini pada dasarnya anak baik. Tapi demi menjunjung tinggi asas persahabatan dan solidaritas, aku sering dan hampir selalu mengesampingkannya. Siapa lagi biangnya kalau bukan Anggieza! Dia adalah kawan sebangku-ku. Nama lengkapnya Anggieza Perdamaian Nasution. Panggilannya Anggie. Ia keturunan negeri Batak. Dan ia laki-laki.</p>
<p><span id="more-504"></span>“Sekali-sekali ‘kan nggak papa! Nggak bakalan tahu, percaya deh!” Anggie benar-benar seperti jin penggoda iman manusia. Benar, kami –kawan sekelas yang laki, terpedaya rayuan Anggie. Kami membolos upacara bendera! Aku tak sadar, diam-diam aku sudah mengkhianati Pak Karno. Tak nasionalis dan tak punya jiwa patriotisme!</p>
<p>“Kita kan kelas dua, bukan anak kecil lagi!” gila benar kata-kata Anggie. Sebenarnya aku ingin bertanya pada Anggie, batas apa yang membedakan seseorang dikatakan masih anak kecil dan yang sudah dewasa. Aku diam saja.</p>
<p>Kami berempat makan di kantin samping sebelah barat SMP. Kami enteng saja melakukannya, tak merasa berdosa secuilpun. Seperti biasa, soto satu mangkuk, es teh manis dan dua potong tempe goreng. Menu favorit kami. Bahkan, kami seolah ingin menggoda mara bahaya, mengintip dari warung sekaligus mengawasi jalannya upacara bendera dari jarak jauh.</p>
<p>Jam pelajaran pertama, Bu Sri Hartati, matematika. Dan mata pelajaran ini rupanya kelak akan menjadi cikal bakal masa depanku. Ah, elegan sekali.</p>
<p>“Alah sekalian bolos aja! Bu Tatik juga nggak jelas ngajarnya! Kita tanding bola saja sama kelas 2.B, hari ini jadwal mereka olahraga. Katanya Pak Yadi sakit, nggak masuk, olahraga bebas.” Aku yang notabene sayap kanan andalan tim sepakbola di kelas, tersulut semangat mendengar itu.</p>
<p>Dari 18 murid laki di kelas, Anggie berhasil memprovokasi 12 orang, termasuk aku. Aku yakin, dengan bakatnya kelak Anggie berpeluang besar menjadi penjual obat generik! Kami pun sepakat membolos. Asal tahu saja, kelas 2.B adalah musuh bebuyutan kelasku, 2.A. Di setiap kejuaran sepakbola di event class meeting, kami-lah yang masuk final. Hasilnya selalu imbang, dua kali class meeting, kelasku menang sekali, 2.B menang sekali.</p>
<p>Hampir dua jam pelajaran kami bertanding. Tanpa wasit. Kelas 2.B memakai seragam olahraga, kelasku pakai seragam OSIS SMP, putih biru. Tanpa sepatu. Memang, pertandingan selalu alot. Hasilnya tetap imbang. 2-2. Hampir mendekati injury time, bola terpelanting jauh keluar lapangan. Menggelinding ke pagar gerbang pintu masuk kantin Pak Tumin.</p>
<p>Dan, masya Allah, sebuah sepatu hak tinggi nangkring di atas bola itu. Kami terperanjat. Terbelalak. Si pemakai sepatu itu menyilangkan tangannya di depan dada. Rambutnya berurai-urai di terpa angin. Matanya melototi kami yang berseragam OSIS SMP. Tiga orang tampang menyeramkan juga berdiri di samping kiri-kanannya.</p>
<p>Bu Kadariyah wali kelasku!</p>
<p>Dan kalian tahu, tiga orang tampang menyeramkan itu? Mereka adalah guru BK (Bimbingan Konseling)! Merekalah polisi sekolah paling ditakuti. Mimik muka kejam. Kata-kata pedas. Terkenal tanpa ampun. Lewat didepan mereka harus menundukkan badan, merapikan pakaian yang serabutan, menata rambut yang berantakan.</p>
<p>Orang pertama bernama Pak Sudadi. Tinggi besar seperti Pak Sutrisno yang mantan wakil presiden Indonesia itu. Ia keturunan tentara. Jarang senyum. Marahnya tak terkira jika melihat murid yang sengaja melakukan pelanggaran di depan batang hidungnya. Waktu serasa berhenti ketika ia melintas, mirip-mirip Umar bin Khatab.</p>
<p>Yang kedua Pak Alex Ramelan. Nama belakangnya mirip alat musik tradisional Jawa. Postur tubuhnya agak pendek. Berkacamata dobel, cembung-cekung. Terkenal sadis dan tanpa ampun. Tak banyak bicara. Tapi jika bicara, gaya bicaranya santai tapi menyakitkan. Dua temanku (Anggieza Perdamaian Nasution dan Toni Muhanafi), celananya pernah dipotong dengan gunting hingga menyerupai rok! Aturan di SMP, celana harus 5 cm di atas lutut. Kedua temanku itu justru sebaliknya, 5 cm di bawah lutut. Mereka digiring ke ruang interogasi BK. Tanpa banyak cincong, gunting besar itu menyasak celana biru-biru menyedihkan itu. Kakak kelas tiga lebih parah lagi. Pongge, nama kerennya. Kepergok merokok di sudut WC yang bau pesing. Ia pun digiring bak kambing. Di ruang BK, Pak Alex menyediakan sebungkus rokok. Membuka bungkusnya dan menjejalkan 12 batang rokok itu ke mulut Pongge! Mulutnya seumpama sumbu meriam.</p>
<p>Pernah suatu ketika beliau memberikan bimbingan konseling di kelasku. Wibawa sekali gayanya. Beliau berdiri di tengah-tengah kelas. Mengangkat pulpen warna merah.</p>
<p>“Kalian percaya nggak pulpen ini bisa membunuh kalian?!”</p>
<p>Kami diam. Menggeleng. Pak Alex tersenyum.</p>
<p>“Kucolokkan ke mata kalian berkali-kali!!!” halus, menyakitkan, menyeramkan!</p>
<p>Dan yang terakhir adalah Bu Darini. Sebenarnya tidak galak. Keibuan. Tak pernah marah ataupun berkata sadis dan menyakitkan. Ia kalem. Tapi jika memberikan hukuman, sama seperti yang lain : tanpa ampun! Bu Darini memiliki suami yang pekerjaannya bergerak di bidang jasa sewa mobil angkutan. Dan salah satu armadanya adalah sebuah bus yang diberi nama “Bunga Desa”. Manis sekali namanya.</p>
<p>Aku ingat sekali. Kelas 1, masih siswa baru. Belum begitu memahami aturan sekolah. Aku dan Anggie duduk paling depan sebelah kiri. Meja guru ada di sebelah kanan. Jam pelajaran beliau memberikan bimbingan konseling kelas satu. Aku dan Anggie justru menggambar! Melanjutkan pekerjaan seni rupa yang belum kelar. Lebih sialnya, kami kepergok Bu Darini! Bodohnya kami.</p>
<p>Kami pun digiring ke ruang BK. Sederhana sekali hukumannya. Beliau sangat pengertian, kami masih murid baru. Mungkin ada sedikit belas kasihan yang diberikan untuk kami. Kami hanya dihukum menuliskan sebuah kalimat sederhana “Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan seperti ini lagi”. Berita baiknya, kalimat sederhana itu harus ditulis berulang-ulang sebanyak 10 halaman kertas folio bergaris!  Alamak!!</p>
<p>Di SMP-ku, beliau bertiga adalah simbol tegaknya hukum dan peraturan sekolah.</p>
<p>Tim kelas 2.B beringsut bubar, pura-pura mau mengganti pakaian olahraga yang basah keringat. Nasib buruk sudah mengintai kami, menerawang melalui sorot mata Bu Kadar.</p>
<p>“Kalian tahu kesalahan kalian?” Bu Kadar selalu tenang, tapi menakutkan. Kami berdua belas di jejer-jejerkan menempel tembok. Dibariskan serupa pindang yang mau dijemur. Kami diam. Tiga guru BK hanya bertugas sebagai pengawas, sambil mencatat dan menghafal nama-nama yang tertempel di dada sebelah kanan baju kami.</p>
<p>“Tadi Bu Sri Hartati melapor sama ibu, katanya kelas 2.A banyak yang bolos pelajarannya!” kami mendelik. Jantungku berdegup-degup tak jelas.</p>
<p>“Kalian tahu kesalahan kalian?” Bu Kadar mengulangi pertanyaan yang sama. Kali ini kami mengangguk hampir bersamaan. “Nanti sepulang sekolah, ibu ingin kalian menemui Bu Tatik. Minta maaf dan bilang tidak akan mengulangi kesalahan ini! Kalian paham?” kami serempak menjawab paham seperti koor.</p>
<p>Sepulang sekolah, dengan gaya gentleman, aku dan Anggie menemui Bu Tatik. Kawanku yang lain tak berani. Sungguh, suasana seperti ini rasanya tak enak. Kami menunggu di tempat parkir motor guru. Aku berdebar. Bu Tatik pun datang, mendekati motornya. Aku mulai berpikir macam-macam. Jangan-jangan setelah melapor dan meminta maaf, kami dihukum lari mengelilingi lapangan 20 kali. Atau paling parah, kami dihukum menyalin buku diktat matematika yang tebalnya tak mungkin terampuni.</p>
<p>Kami seperti pencopet yang mau menyerahkan diri ke polisi. Berjalan mendekat pelan-pelan. Menyergapnya dari belakang. Bu Tatik mulai menstarter motornya. Kami buru-buru menghentikannya. Melihat kami, Bu Tatik heran. Terang saja, beliau tidak mengenal kami. Memori ingatan beliau sudah penuh, tak sempat mengingat murid-murid tengik seperti kami.  Kali ini aku bangga pada Anggie. Ia memulai pengakuan dosa. Tentu saja harus dia, ia-lah ketua copetnya, pemimpin sekaligus pencetus ide bolos.</p>
<p>“Maaf Bu, kami dari kelas 2.A.” Cukup dengan itu Bu Tatik langsung paham. Dugaanku meleset. Bu Tatik tak marah sama sekali. Malahan tersenyum. Mungkin karena melihat tampang memelas kami.</p>
<p>“Besok lagi jangan diulangi…” Bu Tatik berlalu. Kami lega. Tak seseram yang kubayangkan.</p>
<p><em>Bersambung ke judul</em> : <strong>AKU, IKAL, A LING DAN SEPEDA –3_2</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suliwe.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suliwe.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suliwe.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suliwe.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suliwe.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suliwe.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suliwe.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suliwe.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suliwe.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suliwe.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suliwe.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suliwe.wordpress.com/504/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suliwe.wordpress.com/504/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suliwe.wordpress.com/504/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=504&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suliwe.wordpress.com/2011/02/15/aku-ikal-a-ling-dan-sepeda-%e2%80%933_1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aaf6b97a22d0ebf6e9eee481ab87ef94?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suliwe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SIAPA YANG BISA MENJAWAB SOAL INI?</title>
		<link>http://suliwe.wordpress.com/2011/02/01/siapa-yang-bisa-menjawab-soal-ini/</link>
		<comments>http://suliwe.wordpress.com/2011/02/01/siapa-yang-bisa-menjawab-soal-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 00:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suliwe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku Bukan Panutanmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suliwe.wordpress.com/?p=501</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita kembali ke masa kecil kita saat TK atau SD. Saat guru bertanya, “Siapa yang bisa menjawab soal ini?” Maka hampir seluruh siswa/I dalam kelas mengangkat tangan berebutan untuk menjawab. Saat itu belajar begitu sangat mengasyikkan, dunia begitu indah, kita merasakan diri kita bisa meraih banyak hal. Rasanya kita ini sangat LUAR BIASA, penuh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=501&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika kita kembali ke masa kecil kita saat TK atau SD.</p>
<p>Saat guru bertanya, “Siapa yang bisa menjawab soal ini?”</p>
<p>Maka hampir seluruh siswa/I dalam kelas mengangkat tangan berebutan untuk menjawab. Saat itu belajar begitu sangat mengasyikkan, dunia begitu indah, kita merasakan diri kita bisa meraih banyak hal. Rasanya kita ini sangat LUAR BIASA, penuh hal yang bisa kita lakukan.</p>
<p><span id="more-501"></span>Waktu terus bergulir sampai kita kelas 6 SD, saat guru melontarkan pertanyaan yang sama, berapa orang yang mengangkat tangan? Mungkin 10 orang, mungkin yang menjawab hanya para petinggi kelas –kelompok 5 besar.</p>
<p>Saat SMA? Kuliah? Saat guru baru saja ingin bertanya, kebanyakan sudah menyembunyikan wajah, pura-pura membaca buku supaya tidak dipanggil namanya. Sambil berkata dalam hati : “Jangan saya! Jangan saya!”</p>
<p>Betul? Ayo ngaku, deh! Hehehe..</p>
<p>Kok bisa gitu ya?</p>
<p>Pada saat kelas 1 SD, kita mengangkat tangan dan menjawab. Walaupun salah, guru masih maklum, kita masih kecil, belum banyak belajar. Guru masih dengan senang hati menjawab, “ Oh, itu jawaban yang bagus, namun masih belum benar, nanti dicoba lagi ya. Kamu pasti bisa!”</p>
<p>Pada saat kelas 3 SD, kita mengangkat tangan dan jawabannya salah, guru mulai mengatakan, “Salah! Kamu tidak belajar ya?” dan disambut tawa atau ejekan teman-teman kelas.</p>
<p>Saat kelas 5 SD, kita mendapat teguran, “Kalau mau jawab mikir dulu!”</p>
<p>Saat kita mendapat nilai rendah kita dihukum di depan kelas, dan menjadi bahan tertawaan tidak hanya teman sekelas, namun juga siswa/i yang lewat disamping kelas. Betapa malunya kita. Seandainya ditelan bumi, kita pasti rela.</p>
<p>Alkisah, seekor gajah kecil ditangkap dari alam liar oleh kelompok sirkus terkenal di kota. Gajah ini memberontak dengan keras. Mengeluarkan semua potensinya untuk melarikan diri. Namun sekeras apapun ia berusaha, ia tidak bisa melepaskan kakinya dari ikatan rantai yang baginya begitu kuat. Hambatan ini kelihatannya terlalu besar baginya untuk diatasi, akhirnya ia menyerah. Berhenti untuk berusaha.</p>
<p>Waktu berlalu, gajah tumbuh besar, ia pun telah melupakan usaha untuk hidup bebas di alam bebas. Kalau diperhatikan, rantai yang dulu layaknya batu karang nan kukuh, sekarang sudah seperti tali halus jika dibandingkan dengan ukuran besar badannya.</p>
<p>Namun, dalam pikiran si gajah, tali yang sama itu masih memiliki kekuatan yang sama untuk menahan dirinya, dan dirinya tidak mampu mengatasi. Ini adalah pemaknaannya pada saat masih kecil. Ia tidak lagi berusaha. Ia selalu merasa apa yang dilakukan sia-sia. Ia tidak bisa lagi hidup dengan potensi besar yang dimilikinya. Tidak mungkin baginya hidup bahagia, inilah takdir saya, pikirnya.</p>
<p>Kita, sebagai manusia, perlu kesadaran bahwa itu adalah masa lalu, bukan saat ini. potensi kita sama sekali tidak turun sama sekali, sel otak tidak berkurang. Masih menunggu kita untuk digunakan sampai mencapai kesuksesan.</p>
<p><em>“Jika kita berpikir kita bisa atau tidak bisa, dua-duanya benar”</em></p>
<p>-Henry Ford-</p>
<p>“BACAKILAT”</p>
<p>Kiat Membaca 1 Halaman/Detik</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suliwe.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suliwe.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suliwe.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suliwe.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suliwe.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suliwe.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suliwe.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suliwe.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suliwe.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suliwe.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suliwe.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suliwe.wordpress.com/501/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suliwe.wordpress.com/501/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suliwe.wordpress.com/501/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=501&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suliwe.wordpress.com/2011/02/01/siapa-yang-bisa-menjawab-soal-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aaf6b97a22d0ebf6e9eee481ab87ef94?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suliwe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NIKAH! GUNDHULMU ITU!</title>
		<link>http://suliwe.wordpress.com/2011/02/01/nikah-gundhulmu-itu/</link>
		<comments>http://suliwe.wordpress.com/2011/02/01/nikah-gundhulmu-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Feb 2011 00:07:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suliwe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aku Bukan Panutanmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suliwe.wordpress.com/?p=499</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, seorang pemuda dihinggapi gelisah di saat kuliah. Godaan yang mengancam agama dan kehormatannya terasa kian keras mendera. Puasa dan beraktifitas positif telah dilakukannya. Tetapi kadang justru itu! Aktifitas dakwah justru mempertemukannya dengan si jilbab biru yang selalu menunduk malu, si jilbab hitam yang elegan dan anggun, juga si jilbab coklat yang manis, lugu dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=499&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah, seorang pemuda dihinggapi gelisah di saat kuliah. Godaan yang mengancam agama dan kehormatannya terasa kian keras mendera. Puasa dan beraktifitas positif telah dilakukannya. Tetapi kadang justru itu! Aktifitas dakwah justru mempertemukannya dengan si jilbab biru yang selalu menunduk malu, si jilbab hitam yang elegan dan anggun, juga si jilbab coklat yang manis, lugu dan lucu. Hatinya kian gerah. Maka kepada ayahanda dan ibunda dikuatkannya hati untuk berkata, “Pak..Bu..Boleh nggak saya nikah sekarang…?</p>
<p><span id="more-499"></span>Tentu saja ada empat mata yang terbelalak di ruang keluarga selepas isya hari itu.</p>
<p>“Heh..ngomong apa kamu? Nikah! Nikah! Gundhulmu itu!”</p>
<p>Kepalanya menunduk.</p>
<p>“Mbok ya sadar, Nak..”, kali ini terdengar lebih lembut. Sang ibu. “Kamu itu kuliah masih semester berapa?! Bapak dan ibu nggak pernah melarang kamu ikut-ikutan aktifitas…apa itu namanya..ee?”</p>
<p>“Dakwah..”</p>
<p>“Iya dakwah! Tapi jangan aneh-aneh! Nikah saat kuliah, memangnya anak istrimu mau dikasih makan apa? Dipikirkan yang dalam ya Nak.. Jangan bicarakan lagi masalah nikah sebelum kamu lulus ya!”</p>
<p>“Tapi, banyak godaan Bu.. Nggak kuat!”</p>
<p>“Puasa, puasa!! Katanya belajar agama, gitu aja nggak ngerti.”</p>
<p>“Sudah Pak..Sudah..”, sang ibu menarik tangan ayahnya. Lalu dia ditinggalkan. Sendiri. Tergugu. Wajahnya panas. Matanya berkaca-kaca. Hatinya belah.</p>
<p>Beberapa semester berlalu, dan esok adalah wisuda yang dinanti-nanti. Maka malam ini adalah saatnya bicara, begitu sang pemuda bergumam dalam hati.</p>
<p>“Pak..saya sudah lulus..tentang pernikahan..?”</p>
<p>“Eh, lulus itu artinya kamu pengangguran baru!”</p>
<p>“Iya Nak..kamu konsentrasi cari kerja dulu ya…”</p>
<p>Dan ia tak berkata apa-apa lagi. Harapan yang berkecambah telah tersiram air panas.</p>
<p>Waktu berganti. Dan kini pekerjaan sudah dalam genggaman.</p>
<p>“Pak..Bu..Emm, saya kan sudah kerja sekarang..”</p>
<p>“Kerja apa? Serabutan gitu! Tidak nyambung dengan kuliahmu! Hh..Dengarkan! Bapak mau bicara baik-baik. Kamu cari pekerjaan yang mapan dulu. Baru kita bicarakan pernikahan!”</p>
<p>Pucuk daun harapan kembali pupus, hangus terbakar matahari.</p>
<p>Tetapi Allah Maha Kuasa. Beberapa waktu berjalan, pekerjaan di sebuah instansi bergengsi pun didapat. Dan berseri-seri wajah pemuda itu menghadap, “Pak..Saya sudah bekerja seperti harapan Bapak..”</p>
<p>“Lha, kamu itu berangkat kerja saja masih pakai motor yang Bapak belikan. Nanti, ngomongin nikah kalau kamu sudah punya mobil..”</p>
<p>Dan beberapa waktu kemudian. “Pak..Bu..Saya sudah punya mobil..”</p>
<p>“Tapi nanti mau tinggal dimana Nak..? Coba ya, kamu usahakan punya rumah dulu..”, kali ini sang ibunda yang lembut hati. Yang ia merasa hilang daya dan lumer sumsum kalau beliau sudah bicara. Ia menyerah lagi.</p>
<p>Hingga suatu hari. “Pak..Bu..Rumahnya sudah jadi!!! Jadi, kapan saya dinikahkan?”</p>
<p>Bapak ibunya saling berpandangan. Dan mereka menangis, “Aduh Nak..Umurmu sudah 55..Siapa yang mau?”</p>
<p>Jalan Cinta Para Pejuang</p>
<p>Salim A Fillah</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suliwe.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suliwe.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suliwe.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suliwe.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/suliwe.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/suliwe.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/suliwe.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/suliwe.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suliwe.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suliwe.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suliwe.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suliwe.wordpress.com/499/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suliwe.wordpress.com/499/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suliwe.wordpress.com/499/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suliwe.wordpress.com&amp;blog=1025037&amp;post=499&amp;subd=suliwe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suliwe.wordpress.com/2011/02/01/nikah-gundhulmu-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aaf6b97a22d0ebf6e9eee481ab87ef94?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suliwe</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
