Oleh : Suli Al Fatih
Langit masih gelap gulita. Nampaknya tuhan masih asyik dengan kuas dan cat hitamnya melukis alam raya. Hanya di beberapa titik saja tuhan membuat noktah warna putih dan orange kecoklatan dalam kanvas semesta untuk menggambarkan cahaya. Bumi masih sepi senyap, hanya sesekali terdengar suara jangkrik mengigau. Burung hantu juga masih terlelap dalam mimpi. Kelelawar masih enggan membuka mata sipitnya. Air sungai mengalir tenang tanpa suara ingin segera bertemu katak di tepian yang sudah menunggu rindu. Malaikat masih terpaku menikmati keindahan lukisan tuhan. Keheningan tercipta di bumi. Namun, di langit rasanya berbeda. Gelap gemuruh mewarnai lukisan malam. Perang berkecamuk antara dua pasukan. Perang sudah tak mampu lagi dihindari di atas sana.
***
Pasukan pertama.
”Tok..Tok..Tok”
Ketokan pintu yang sayup-sayup terdengar dari alam mimpi berperang melawan niat membangunkan si empunya rumah. Tak ada jawaban. Sekali lagi ketokan pintu berbunyi. Agak keras.
“Iya..sebentar”
Masih belum membuka mata bulatnya, Bu Sutiyem menjawab dari balik kelambu sambil masih memeluk putri kecilnya yang terlelap dalam pulas. Gontai ia berjalan menuju ke arah pintu depan rumahnya yang sudah agak lapuk kemudian membukanya perlahan.
“Selamat malam. Maaf Bu, kami dari Detasemen Khusus Anti Teror….”
Bu Sutiyem masih belum bisa mencerna kata-kata lelaki bertubuh kekar dihadapannya. Yang dia lihat saat itu hanya seorang lelaki berpakaian serba gelap lengkap dengan sepatu seperti sepatu hansip milik suaminya, helm berkaca dan bedil panjang.
“Kami meminta ibu sekeluarga segera mengungsi ke balai desa sekarang juga. Warga yang lain sudah disana. Ini untuk keselamatan ibu sekeluarga. Segera!” lanjut laki-laki itu kemudian berlalu menuju ke sebelah rumah Bu Sutiyem.
Bu Sutiyem makin bingung dengan kata-kata lelaki itu. Namun dilihat dari ucapan dan gerak-geriknya, sesuatu yang besar akan terjadi, yang mungkin besok pagi akan menjadi berita utama di semua koran dan televisi di negeri ini. Bu Sutiyem segera masuk ke rumah membangunkan suami dan putri kecilnya menuruti nasehat laki-laki yang baru saja ditemuinya itu.
Dusun Sepisari makin mencekam. Warga kampung sudah berkumpul di balai desa. Hanya satu rumah saja yang tampaknya tidak dibangunkan dan diminta berkumpul di balai desa. Bisik-bisik orang makin ramai. Udara makin menusuk tulang putih. Mobil-mobil bertuliskan ”POLISI” mulai berdatangan seperti pasukan semut berjalan rapi. Mobil putih bertuliskan ”AMBULANCE” juga sudah bertengger dengan gagahnya di tepi jalan. Puluhan bahkan ratusan orang berpakaian lengkap dengan sepatu seperti hansip milik suami Bu Sutiyem, helm berkaca dan bedil panjang sudah berjajar rapi. Pakaian dan segala perlengkapannya seragam, nyaris tak bisa dibedakan.
”Lapor Komandan! Semua warga sudah dievakuasi!” kata laki-laki yang tadi mengetuk pintu di rumah Bu Sutiyem kepada seorang lelaki yang kelihatan lebih tua tetapi lebih kekar dan lebih tinggi darinya.
”Laporan diterima! Siapkan semua pasukan ke posisi!”
”Siap laksanakan!”
Tak butuh waktu lama, semua orang berpakaian seragam itu berpencar teratur seolah sudah tahu kemana mereka harus menempatkan diri. Mereka seperti membentuk lingkaran dengan pusat sebuah rumah yang penghuninya tidak diminta untuk berkumpul ke balai desa. Langit makin gelap. Tuhan masih asyik melukis alam raya.
***
Pasukan kedua.
”Wahai tentara Allah..! Yakinlah akan perang yang kita lakukan saat ini! Surga sudah tak sabar menanti kedatangan kita. Bidadari surga menunggu pinangan kita dalam kemah-kemahnya. Malaikat sudah bersiap-siap di luar sana dengan kepakan sayapnya akan mengantarkan jiwa-jiwa kita menembus langit ke tujuh! Hidup mulia atau mati syahid! Allahu Akbar!!” seru seorang berperawakan besar agak brewok berpakaian serba putih lengkap dengan rompi anti peluru. Tiga orang temannya menyambut dengan teriakan takbir dan tangan mengepal menandakan semangat perang sampai titik darah penghabisan.
Rumah yang mereka tempati menjadi pusat perhatian, pusat pertempuran. Rumah yang tidak terlalu besar yang dindingnya terbuat dari batu bata dilapisi adukan semen halus. Cat putih pucat. Masing-masing orang dalam rumah itu sudah dilengkapi senjata lengkap untuk perang. Beberapa granat kiriman tadi siang sudah menunggu dilemparkan. Dan ratusan kilogram bahan-bahan untuk meracik bom berdaya ledak besar masih tersimpan di salah satu kamar rumah itu. Bahan-bahan racikan yang mampu meluluh lantakkan seisi dusun Sepisari hanya dengan sekali ledakan. Bahan-bahan yang sengaja disiapkan untuk dikirim ke Jakarta guna membumihanguskan istana negara.
”Akhi, boleh ana mengirim sms kepada istri ana ?” lirih Pardi pada pria agak brewok tadi.
”Tafadhal akh..”
Pardi mengambil handphone agak jadul dari saku celananya. Sudah ada tiga sms yang belum sempat di bacanya. Tiga sms dari pengirim yang sama, ’Sarah Bidadariku’.
Sms pertama.
Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam *some text missing*
Sms pertama terpotong.
Sms kedua.
Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah. Dan disisi Allah ada pahala yang baik [Ali Imron 195].
Sms ketiga.
Suamiku sayang, insyaAllah adek ridho dengan apa yang mas lakukan saat ini. Semoga menjadi amalan tersendiri buat mas. Adek sayang mas karena Allah. Doa adek selalu menyertai mas. Tunggu adek di surga ya mas.Oiya mas, dapat salam dari si kecil, kangen katanya.
Air mata Pardi meleleh setelah membaca SMS dari istri tercintanya. Perlahan ia menulis sesuatu dalam handphonenya .
Adek sayang, bidadari surgaku…jaga diri baik-baik ya dek. Mas juga sayang adek karena Allah. Jaga kesehatan demi si kecil dalam kandungan adek. Nanti kalau si kecil sudah lahir, beri dia nama Bani Mujahid ya dek. Salam sayangku untuk si kecil. Dek, adek belum lupa kan kalo hari ini ulang tahun pernikahan kita yang kelima? Mas selalu mencintai adek kemarin, hari ini dan selamanya bahkan sampai mas mati sekalipun. Allahu Akbar!! Assalamualaikum cintaku.
Ditemani rasa cinta mendalam dan tetesan air mata, SMS itu melayang melesat jauh untuk Sarah, istri tercinta. Setelah memastikan SMS terakhirnya sudah terkirim, handphone itu ia hancurkan tak berbekas.
”Allahu Akbar! Allahu Akbar!! Allahu Akbar!!!”.
Gaungan semangat memenuhi seisi rumah. Mereka siap bertempur. Siap mati.
***
Tiba-tiba listrik padam. Sepertinya tuhan menumpahkan semua cat hitamnya pada kanvas semesta. Dusun Sepisari kelam hingga Bu Sutiyem tak lagi mampu melihat garis wajah putri kecil dalam gendongannya.
”Perhatian kepada yang ada di dalam rumah! Segera keluar dengan tangan di atas! Kalian sudah dikepung! Serahkan diri! Jangan memaksa kami menggunakan senjata!” suara tegas Pak Komandan yang tak main-main menggunakan pengeras suara terdengar sampai ke balai desa memecah kesunyian dusun Sepisari. Tembakan ke udara satu kali mengiringi suara yang baru saja diserukan. Suasana makin tegang mencekam.
Tak ada respon dari dalam rumah yang dikepung. Pak Komandan menembakkan bedilnya ke udara untuk kedua kali. Tetap tak ada respon. Tembakan ketiga pun akhirnya dilesatkan menembus langit lapis pertama.
Dari dalam rumah menyambut dengan memberikan tembakan balasan ke arah tak tentu. Tanpa suara perintah dari Pak Komandan, ratusan pria berseragam serentak menembakkan peluru liarnya ke arah rumah. Suara dar der dor gaduh mengaduh membuncah membuat ramai dusun Sepisari. Beberapa warga di balai desa berteriak histeris. Pardi dan kawan-kawannya masih memberikan perlawanan membalas dengan menembakkan pelurunya secara beruntun. Masih ke arah yang tak tentu.
Ratusan pria berseragam makin menggila menembaki rumah yang hanya berpenghuni empat orang itu. Agak lama tidak terdengar lagi suara tembakan balasan dari dalam rumah. Sesekali Pak Komandan menembakkan bedilnya ke arah rumah. Sudah tidak ada respon. Ratusan pria berseragam masih berjaga-jaga. Masih menunggu.
***
Tuhan mulai menggoreskan bulatan kemerahan dan garis-garis sinar merah ranum. Lukisan hitam mulai tampak berwarna cerah. Dari dusun sebelah, ayam jantan memulai paduan suaranya. Gema adzan mulai bersahut-sahutan. Beberapa warga dusun Sepisari sudah kelelahan dan larut dalam lelap, termasuk Bu Sutiyem dan putri kecilnya. Beberapa menit setelah panggilan tuhan berkumandang….
BOOM..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Rumah yang jadi pusat pertempuran meledak dahsyat. Kepulan asap membumbung tingi. Genteng rumah hancur berserakan. Dinding-dinding rumah roboh tak beraturan. Putri kecil Bu Sutiyem terbangun diikuti warga lain. Pak Komandan dan ratusan pria berseragam tersentak hebat. Siaga satu!
Lukisan alam raya sudah jadi. Sebuah lukisan berupa seorang wanita berwajah sejuk mengenakan jilbab merah hati. Tangannya mengelus si kecil dalam perutnya. Air mata bahagia tampak meliuk-liuk di atas lesung pipi halusnya. Bibir tipisnya berdesir lirih, ”Adek sayang mas Pardi kemarin, hari ini dan selamanya bahkan sampai adek mati sekalipun”
Sukoharjo
6 Oktober 2009
Pukul 23.10