LASKAR JAHAD

November 5, 2009

Oleh : Suli Al Fatih

Langit masih gelap gulita. Nampaknya tuhan masih asyik dengan kuas dan cat hitamnya melukis alam raya. Hanya di beberapa titik saja tuhan membuat noktah warna putih dan orange kecoklatan dalam kanvas semesta untuk menggambarkan cahaya. Bumi masih sepi senyap, hanya sesekali terdengar suara jangkrik mengigau. Burung hantu juga masih terlelap dalam mimpi. Kelelawar masih enggan membuka mata sipitnya. Air sungai mengalir tenang tanpa suara ingin segera bertemu katak di tepian yang sudah menunggu rindu. Malaikat masih terpaku menikmati keindahan lukisan tuhan. Keheningan tercipta di bumi. Namun, di langit rasanya berbeda. Gelap gemuruh mewarnai lukisan malam. Perang berkecamuk antara dua pasukan. Perang sudah tak mampu lagi dihindari di atas sana.

***

Pasukan pertama.
”Tok..Tok..Tok”
Ketokan pintu yang sayup-sayup terdengar dari alam mimpi berperang melawan niat membangunkan si empunya rumah. Tak ada jawaban. Sekali lagi ketokan pintu berbunyi. Agak keras.
“Iya..sebentar”
Masih belum membuka mata bulatnya, Bu Sutiyem menjawab dari balik kelambu sambil masih memeluk putri kecilnya yang terlelap dalam pulas. Gontai ia berjalan menuju ke arah pintu depan rumahnya yang sudah agak lapuk kemudian membukanya perlahan.
“Selamat malam. Maaf Bu, kami dari Detasemen Khusus Anti Teror….”
Bu Sutiyem masih belum bisa mencerna kata-kata lelaki bertubuh kekar dihadapannya. Yang dia lihat saat itu hanya seorang lelaki berpakaian serba gelap lengkap dengan sepatu seperti sepatu hansip milik suaminya, helm berkaca dan bedil panjang.

Baca Selengkapnya Yuk