Oleh : Suli Al Fatih
Lidah api salah satu bintang galaksi bima sakti menjilat-jilat bumi. Rumput kecil dan padi yang mulai menghijau di persawahan seakan berteriak-teriak ”Air..! Air..! Air..!”. Atap rumah orang-orang terlihat mengeluarkan asap halus tak kasat mata. Apalagi yang terbuat dari seng. Jalanan tampak seperti mirip air meliuk-liuk tak kuat lagi menahan panasnya hawa. Sepoi angin lari tunggang langgang entah kemana. Hijau dedaunan pohon rindang tak berkutik dibuatnya, tak mampu lagi menunjukkan keperkasaannya. Hanya dinginnya musim salju mungkin yang mampu meredam amarah suasana siang itu.
”Haduh-haduh panasnya hari ini..! Neraka bocor kali ya? Ya Allah berilah hamba seteguk air es dari surgaMu” gerutu Ardi dalam perjalanan ke kampus. Berboncengan dengan Aziz naik motor Shogun buatan tahun 2002 warna hitam berkolaborasi dengan warna merah. Semalam memang Aziz menginap di rumah Ardi. Rencananya hari itu mereka mulai puasa syawal, tapi karena bangun kesiangan niat baik mereka ditunda besok.
Jam satu siang.
”Ziz, lagi-lagi panas banget ya siang ini..”
”Iya, biasanya kalo panas gini tanda-tanda mau turun hujan Di..”
”Kamu ini ngawur, lha wong musim kemarau gini kok mau turun hujan, ya ndak mungkin lah”
”Aku kan bilang ’biasanya’, kalo ndak hujan ya berarti ini ’luar biasa’ hehe..”
Shogun mereka masih melaju kencang. Kecepatan di atas 80 kilometer per jam. Terbungkus jaket rapat ternyata makin membuat tubuh Ardi dan Aziz gerah, panas. Tapi kalau tidak pakai jaket semakin tambah panas. Jaket mereka sama-sama bertuliskan BEM FMIPA Universitas Negeri Sragen, ”Kaki Kita Menentukan Kemana Indonesia Melangkah”.
Dari arah rumah Ardi menuju utara melewati 4 jembatan mengantarkan mereka sampai di daerah pasar Bakungan. Lampu merah. Mereka berhenti tepat di belakang bus Jaya Abadi, besar. Knalpot kendaraan berbentuk balok raksasa itu mengeluarkan kepulan asap hitam pekat dan panas tepat mengenai motor Ardi dan Aziz, otomatis juga mereka berdua.
”Ahh….panasnya minta ampuuun..! Sopirnya gimana sih, nggak tau apa ya di belakangnya ada orang! Seenaknya aja..!! Huh” gerutu Ardi. Lagi.
”Kamu juga sih yang salah, lha wong berhenti kok di belakang bus, pas knalpot lagi. Ya udah deh nikmatin aja”
”Kamu sih enak Ziz, di belakangku, lha aku…? Badanku bau asap ni.!”
Lampu hijau. Mereka melanjutkan perjalanan ke kampus. Jalanan agak lebar, agak sepi. Ardi memacu motornya lebih kencang. Tak tahan lagi menahan amarah si bola api raksasa yang ukurannya berlipat-lipat dari ukuran bumi.
”Ziz, nanti kamu mau tak antar sampai mana?”
”Di sekretariat BEM aja, aku mau ngelanjutin nulis skripsi. Target maret selesai nih. Doakan ya biar cepat menyusulmu!”
”Halah..nulis skripsi apa nulis skripsi?? Nulis skripsi sambil tiduran ya mesthi? Akhir-akhirnya tidur..ya to??”
”Yee..kamu jangan terlalu khusnudzon Di”
”Tapi bener kan…? Kebiasaan kamu tuh”
”Eh Di..panas-panas gini minum es buah pasti seger nih”
”Boleh juga ide mu Ziz..! Tapi traktir ya..gantian”
”Gantian?? Emang kamu pernah nraktir aku.? Perasaan belum pernah deh. Tapi no problemo lah, hari aku lagi banyak rejeki nih. Lebaran kemaren dapat uang fitrah banyak dari eyang, pakde dan bude”
”Aku belum pernah nraktir ya? Ah itu mungkin cuma perasaanmu saja..hehe. Haah masih dapat uang fitrah?? Ck..ck..ck..berarti kamu masih kecil no..hehe”
”Yee..yang namanya rejeki itu ndak baik kalo ditolak. Allah kan memberi rejeki pada semua manusia, bahkan pada semua makhluk tidak mengenal usia, anak kecil atau dewasa dan juga yang udah tua mau mati sekalipun”
”Halah..ngeles! nggih Pak Ustadz..”
Malaikat siang belum bosan memancarkan sinar-sinar neraka. Alam raya terpanggang, lautan mengering. Udara lebih mirip api beterbangan tak tampak oleh mata telanjang. Jalanan makin panas.
”Eh Di..itu tuh ada yang jual es buah rumput laut. Minum disana aja, udah ndak kuat nih. Tenggorokanku kering kerontang”
Aziz menunjuk seorang penjual es buah yang sedang mangkal di pinggir jalan dekat jembatan, biasa orang-orang menyebutnya dengan Jembatan Penantian. Mereka berhenti sejurus kemudian memarkir motor dengan aman. Tertulis di gerobak dorong milik penjual itu ”Es Buah Rumput Laut” dengan cat warna putih. Tak ada yang spesial, tak ada nama ataupun jargon sama sekali. Gerobak sederhana. Beberapa botol bening berukuran agak besar berisi bahan-bahan untuk membuat es buah rumput laut spesial sudah bertengger disana. Sebuah meja dan kursi panjang agak lapuk dengan peneduh dari kain plastik tertata rapi dan bersih di sisi utara gerobak. Benar-benar sederhana.
”Bu, es buah nya dua ya..”
”Iya mas, silakan duduk dulu”
Sapa ibu penjual itu ramah. Seorang ibu penjual berusia setengah baya berwajah teduh putih bersih dengan jilbab warna coklat agak kusam dan rok panjang coklat kehitaman, tampak serasi. Sandal jepit alas putih dengan tali sandal warna coklat menambah keserasiannya. Si ibu mulai meramu bahan-bahan yang sudah tersedia dengan sangat cekatan. Perlahan tapi pasti. Sentuhan-sentuhan tangan yang begitu lihai, seolah tanpa melihat pun es buah rumput laut spesial sudah akan tersaji dengan lezat.
Sambil menunggu pesanannya jadi, Ardi mengutak-atik handphonenya, Nokia 6030 warna hitam elegan. Ia menekan tombol unlock kemudian menuju ke menu web. Ia buka situs favoritnya dan juga berjuta-juta manusia penghuni planet bumi, Facebook.
”Online..online..siang malam online..” sindir Aziz sambil menirukan iklannya Saykoji yang baru dilihatnya kemarin di televisi.
”Bilang aja kamu ngiri Ziz, hape mu kan ndak bisa buat facebook-an, ya to?”
”Wee..suudzon nih. Kenapa ya Di, aku ndak terlalu terlalu tertarik sama facebook? Sebenarnya aku sih juga punya akun di facebook tapi dah lama ndak tak update”
”Loh, lha kok tanya sama aku? Ya aku ndak tahu no ya..” jawab Ardi sekenanya sambil masih asyik melihat status-status friends facebooknya.
”Gini Di..banyak orang yang tak perhatikan itu di facebooknya kayaknya terlalu bebas dan ndak ada aturan gitu. Kebanyakan ndak kenal waktu, tengah malam pun masih sempat-sempatnya update status. Banyak juga yang upload foto-foto narsis, buat apa coba? pamer? biar dipuji? Dan yang paling aku sebel nih, status-status yang ndak penting aja di tampilin di facebook! Si Susi kemarin statusnya ”Lagi S.E.B.E.L”, si Robert ”Pacarku, kamu emang brengsek..sek..sek!!”, si Anggi ”Sedang menemani tante belanja di pasar toge”, bahkan si Tini statusnya ”Lagi di WC nih..sakit perut..hehe” ck..ck.ck kok sempat-sempatnya ya update status, padahal lagi di kamar kecil!” jelas Aziz sambil geleng-geleng kepala.
”Ada juga sih yang bagus, ngajak ke arah kebaikan tapi semoga saja ndak terjerumus riya’. Seperti statusnya Fitri kemarin ”Sepertiga malam terakhir di Masjid penuh kenangan. Ku bersujud padaMu, Ku berserah padaMu.Ya Rabb, biarlah linangan air mata ini jadi saksi kelak pertemuanku denganMu. Aku mencintaiMu” jelas-jelas lagi qiyamullail, eh lha kok ya sempat update status!” tambah Aziz.
”Ya kita khusnudzon saja prend. Kemarin aku baca majalah islam, ada ulasan tentang facebook. Sebenarnya facebook ini kan hanya sarana atau alat saja. Baik dan burukya ya tinggal orang yang menggunakannya. Orang yang baik tentu saja akan menggunakannya untuk sarana kebaikan, untuk dakwah. Ibarat pisau, ia akan baik jika digunakan untuk alat potong sayur di dapur. Tapi ia akan buruk bahkan dosa jika dipakai untuk membunuh. Betul ndak??” sambung Ardi.
***
”Monggo mas es buah nya” ibu penjual menghentikan percakapan mereka.
”Oo nggih Bu..jazakallah” sambut Ardi spontan.
”Waiyyakum” balas ibu penjual.
Ardi dan Aziz melongo mendengar kata ’Waiyyakum’ dari bibir ibu itu. Jawaban yang tidak biasa, yang biasanya hanya mereka dengar dari mulut teman-teman sesama aktivis dakwah di kampus.
Es buah rumput laut spesial sudah terhidang di hadapan mereka, siap disantap.
Sendokan pertama.
”Wuah….! mak nyusssssss! Alhamdulilaaaah! Benar-benar nikmat ya Ziz? Gratis lagi..!hehe”
”Iya, selalu bersyukur Di..meski hanya semangkuk es buah rumput laut”
”Iya..iya..kamu emang teman baikku Ziz”
”Alah, kalo minta dibayarin aja, sukanya muji-muji..”
Di tengah asyiknya Aziz menikmati es buah itu, tatapan mata Ardi melesat cepat ke arah ibu penjual. Si ibu duduk di samping gerobak dorong, nampak tangannya sedang mencari-cari sesuatu dalam gerobak di bagian bawah. Tak lama ibu itu mendapatkan yang di cari, sebuah mushaf Al Qur’an. Mushaf terjemahan agak tebal tanpa sampul, agak lusuh dan kelihatan ada sedikit robekan di halaman depan. Dengan hati-hati tangan ibu itu memegangnya. Takut kotor, ia memegangnya menggunakan sapu tangan warna pink agak memudar. Lirih, ia mulai membaca ayat-ayat dalam surat cinta dari Sang Maha Mencintai. Ardi terkagum-kagum.
Sendokan kedua.
Kali ini rasanya berbeda. Sungguh nikmat tiada tara. Baru pertama kali merasakan es buah selezat ini, pikir Ardi. Senikmat es buah yang bahan-bahannya diambil langsung dari tanaman-tanaman surga. Es diambil dari salju yang turun laksana gerimis hujan berbondong-bondong berjatuhan ke tanah surga. Susunya berasal dari salah satu telaga yang mengalir deras di bawah surga. Rumput lautnya dipetik dari rerumputan hijau yang tumbuh di sekitar istana sang ratu bidadari surga. Kesemuanya diramu oleh ratusan bidadari surga nan cantik jelita yang kelihatan malu-malu saat disapa mesra. Diracik dengan berjuta-juta ramuan cinta, membuat hamba-hamba terpukau seribu tahun bila menikmatinya.
Tenggorokan kedua sahabat itu basah kuyup oleh guyuran nikmat es buah yang dingin membeku. Udara sudah tidak terasa panas lagi. Bola api raksasa sudah padam. Awan-awan putih berlarian berlomba-lomba menutupi cahaya panas. Malaikat siang bertekuk lutut di hadapan ketawadhuan ibu penjual es buah rumput laut.
“Sungguh lezat es buah rumput surga ini. Terimakasih ya Allah” gumam Ardi melanjutkan ke sendokan ketiga, keempat dan seterusnya sampai tak tersisa setetes jua.
[Terimakasih untuk ibu penjual es buah rumput laut di dekat jembatan Ngombakan atas inspirasinya. Es buah rumput lautnya hmm…enyaaak J ]
Sukoharjo
5 Oktober 2009
Pukul 16.20