Es Buah Rumput Surga

October 7, 2009

Oleh : Suli Al Fatih

Lidah api salah satu bintang galaksi bima sakti menjilat-jilat bumi. Rumput kecil dan padi yang mulai menghijau di persawahan seakan berteriak-teriak ”Air..! Air..! Air..!”. Atap rumah orang-orang terlihat mengeluarkan asap halus tak kasat mata. Apalagi yang terbuat dari seng. Jalanan tampak seperti mirip air meliuk-liuk tak kuat lagi menahan panasnya hawa. Sepoi angin lari tunggang langgang entah kemana. Hijau dedaunan pohon rindang tak berkutik dibuatnya, tak mampu lagi menunjukkan keperkasaannya. Hanya dinginnya musim salju mungkin yang mampu meredam amarah suasana siang itu.

”Haduh-haduh panasnya hari ini..! Neraka bocor kali ya? Ya Allah berilah hamba seteguk air es dari surgaMu” gerutu Ardi dalam perjalanan ke kampus. Berboncengan dengan Aziz naik motor Shogun buatan tahun 2002 warna hitam berkolaborasi dengan warna merah. Semalam memang Aziz menginap di rumah Ardi. Rencananya hari itu mereka mulai puasa syawal, tapi karena bangun kesiangan niat baik mereka ditunda besok.

Jam satu siang.

”Ziz, lagi-lagi panas banget ya siang ini..”

”Iya, biasanya kalo panas gini tanda-tanda mau turun hujan Di..”

”Kamu ini ngawur, lha wong musim kemarau gini kok mau turun hujan, ya ndak mungkin lah”

”Aku kan bilang ’biasanya’, kalo ndak hujan ya berarti ini ’luar biasa’ hehe..”

Shogun mereka masih melaju kencang. Kecepatan di atas 80 kilometer per jam. Terbungkus jaket rapat ternyata makin membuat tubuh Ardi dan Aziz gerah, panas. Tapi kalau tidak pakai jaket semakin tambah panas. Jaket mereka sama-sama bertuliskan BEM FMIPA Universitas Negeri Sragen, ”Kaki Kita Menentukan Kemana Indonesia Melangkah”. Baca Selengkapnya Yuk